Melepas dengan Cinta


“Liking someone is not a choice. It comes from your heart.” Kata Joseph setahun silam. Aku tak begitu mengerti bagaimana. Selama ini aku diajarkan bahwa mencintai adalah pilihan, suatu keputusan yang didasarkan atas pilihan rasional, bukan sekedar ‘suara hati’ yang begitu absurd dipahami.

Sejak Joseph memaksaku berlari lebih cepat dari biasanya hingga membawaku jauh pergi dari kenangan menyakitkan, aku bisa melihat jejak-jejak langkahku di belakang semakin nampak terlihat. Ya, sudah sejauh ini rupanya.

Tak ada orang yang bisa kau percaya saat kau telah terlibat dalam pertarungan ini. Maka percayalah pada dirimu sendiri. Namun, dengan segala absurditas pemikiranmu, ragukanlah terus dirimu. Lalu belajarlah untuk membangun cinta, karena hanya dengan cintalah kau akan melindungi mereka yang kau cinta dari bahayanya dirimu sendiri. Percayalah, dengan cinta ataupun tidak, perang itu tak pernah agung. Jika ada yang mengatakan, itu bohong, palsu, dan goblok. Cinta hanya akan membuat kematian terlihat lebih sakral, pembunuhan yang terlihat lebih berbudi, penyitaan hak yang terlihat lebih etis. Sekali lagi, hanya membuat semuanya ‘terlihat lebih’, tak benar-benar ‘lebih’.

Jika memang demikian, tak apa bukan jika yang kulakukan hanya diam dan bertahan hingga perang ini usai? Hanya bertahan menunggu kematian datang menjemput atau aku terbunuh oleh ia yang mengincar kematianku? Mudah sekali. Menyerah ataupun melawan, kematian akan datang juga. Kalau lah ada belas kasih, cukup jadi tahanan perang. Tapi apakah aku selemah itu?

“Kami sadar, bahwa mencintai memang butuh nyali. Karena dengan memutuskan untuk mencintai, maka segera kami akan menumpahkan perhatian, pikiran, waktu, dan tenaga pada obyek yang kami cintai, sekaligus menanggung semua resiko. Itulah sebabnya, semangat sepenanggungan membuat kami akan saling menopang, mempersembahkan daya tahan untuk terus memberi yang terbaik. Melawan kebosanan, kemalasan, dan kesedihan. Melemahkan kelelahan, ketakutan, dan keputusasaan. Tidak mudah memang, tapi bukankah jalan cinta memang selalu begitu? Pelajaran berharga tentang kebajikan yang tak dapat dikalahkan waktu.” (https://aliktahassa.wordpress.com/2012/10/30/mengapa-kami-mencintai-ski/)

Kadangkala aku terkejut saat membuka beberapa catatan lama mengenai bagaimana aku membangun pemahamanku soal cinta. Dengan melihat bagaimana ia berjuang dalam sepi demi mempertahankan idealisme yang ia yakini sebagai kebenaran, aku jatuh cinta. Dengan menyaksikan pikirannya yang liar dan sudut pandang yang selalu berbeda, aku jatuh cinta. Dengan ceritanya yang tak kunjung usai dikisahkan, derita dan sakit yang tak jua membawa kabar kesembuhan, aku jatuh cinta.

Yep, mau bagaimana lagi? Aku memang jatuh cinta dan tergila-gila pada diriku sendiri.

Kata Joseph, tak apa, begitu juga baik, asal aku bahagia. Aku sudah dua puluh kan?

Jadi, yang akan kulakukan mulai sekarang sederhana saja:

1. Menjaga diri selalu sehat, berani, dan bahagia.

 2. Menjaga yang masih tersisa dari pertempuran terakhirku

3. Melepaskan segalanya agar tak ada yang tersisa untuk sebuah kehilangan

Satu tanggapan untuk “Melepas dengan Cinta

  1. Reblogged this on Kumpulan Kata Untuk Beta and commented:

    “Kami sadar, bahwa mencintai memang butuh nyali. Karena dengan memutuskan untuk mencintai, maka segera kami akan menumpahkan perhatian, pikiran, waktu, dan tenaga pada obyek yang kami cintai, sekaligus menanggung semua resiko. Itulah sebabnya, semangat sepenanggungan membuat kami akan saling menopang, mempersembahkan daya tahan untuk terus memberi yang terbaik. Melawan kebosanan, kemalasan, dan kesedihan. Melemahkan kelelahan, ketakutan, dan keputusasaan. Tidak mudah memang, tapi bukankah jalan cinta memang selalu begitu? Pelajaran berharga tentang kebajikan yang tak dapat dikalahkan waktu.” (https://aliktahassa.wordpress.com/2012/10/30/mengapa-kami-mencintai-ski/)

    Tentang tulisan yang telah kubaca berulang-ulang. Tentang pemikiran Mba Al yang rasionaldan mempesona(ciyeh). Tentang aktivitas malam yang mengerikan dan akhir-akhir sering kuhindari karena cukup sulit kuhentikan setelah serentetan aktivitas dari pagi hingga siang tadi menyita waktu. Tentang mataku yang tak pernah bisa berhenti membaca postingan demi postingan yang ada di blog ini.

    Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s