Refleksi ICES: Islam dan Peradaban


Prawacana

Awalnya, saya hanya berencana mengomentari tulisan Yopie melalui kolom yang tersedia di bawah link yang ia share di grup ICES KAMMI UNS 2014. Akan tetapi, kok sayang ya jika saya hanya menuliskan satu dua kalimat saja untuk tulisan refleksi sebaik ini. (http://yopiekristiyanto.blogspot.com/2014/03/islam-sebagai-mabda-dan-peradaban_5.html#more). Maka sebelum pagi ini saya berangkat kuliah, saya sempatkan menulis beberapa kalimat. Berantakan, sebab dibuat dengan terburu-buru. Semoga tetap bisa dicerna.

Pertanyaan yang seringkali muncul ketika membahas mengenai Islam dan Peradaban adalah: Apakah Islam adalah suatu ideologi? Kalau memang Islam adalah sebuah ideologi, lantas apakah itu berarti ia akan berdiri sejajar dengan ideologi-ideologi lain di dunia? Bukankah Islam itu adalah wahyu Illahi, sedangkan ideologi-ideologi lain di dunia adalah hasil pemikiran manusia?

Agaknya, Yopie telah berhasil mendapatkan kesimpulan dari pertanyaan diatas dalam kalimat terakhirnya:  “..ideologi yang seperti apa yang mampu untuk menjawab kebutuhan manusia dengan fikroh dan thoriqoh yang sesuai dengan asas kehidupan kita. Apakah sebuah ideologi yang hanya didasarkan dari pemahaman manusia dan intelektual seseorang dengan nilai-nilai rasionalnya dapat di katakan sebuah ideologi?”

Namun, refleksi yang coba dilakukan Yopie sepertinya telah melewatkan satu pertanyaan pokok yang seringkali dijadikan argumen pembanding untuk mematahkan argumen bahwa Islam dengan fiqrah dan thariqah-nya adalah satu-satunya alternatif isme dan ideologi.

Jika Islam adalah sebuah ideologi, lalu apa peranan Islam dalam pertarungan dan percaturan ideologi-ideologi lain di dunia? Apakah hanya sekedar menjadi anti-thesis dari kapitalisme, sekularisme, liberalisme, komunisme, dan isme-isme lainnya?

Pertanyaan tersebut tidak bisa hanya mendapat jawaban sederhana seperti: Islam adalah sempurna, jelas lebih baik dari ideologi/isme lain yang ada di seluruh dunia. Bukannya tidak boleh. Namun, bagaimana seorang muslim (apalagi non-muslim) akan meyakini kebenaran jawaban itu sebagai pegangan konkrit yang akan ia pertahankan kuat-kuat dalam menghadapi pertarungan ideologi dewasa ini?

Perbedaan mendasar dari ideologi-ideologi di dunia adalah mengatur kondisi negara kehidupan negara di dalam segala segi kehidupan, apabila selama ini kita identikkan dengan sistem politik, maka sejatinya sistem politik ini hanyalah sebuah sub-ideologi. Nah, Islam mengandung seperangkat ajaran yang apabila diproyeksikan dalam sistem ketatangaraan bisa menjadi ideologi bagi negara itu, entah dengan berdasar secara formal maupun pewarnaan secara substansial berdasarkan sumber ajarannya. Sehingga, kita bisa mengatakan bahwa Islam bukan hanya sekadar ideologi, melainkan mabda’.

Belum cukup, Yopie pun membangun argumen kembali,  “Penjelasan tentang nilai2 perjuangan gerakan KAMMI belum ada, khususnya jika di asumsikan terhadap pancasila sendiri belum memenuhi mabda’ islam, terlebih dalam sila 1 tentang dialektika masalah ketuhanan yang bersifat obyektif.”

Sebelumnya, saya harus meluruskan bahwa dokumen yang menjelaskan mengenai manhaj perjuangan gerakan KAMMI adalah filosofi gerakan KAMMI yang didalamnya termuat latar belakang historis-sosiologis, visi dan misi, prinsip gerakan, karakter gerakan, paradigma gerakan, serta unsur-unsur gerakan.

Dialektika Ketuhanan yang Objektif?

Dialektika masalah ketuhanan yang bersifat objektif bukanlah pembahasan baru lagi. Azhari Akmal Tarigan dalam bukunya Islam Mazhab HMI kira-kira menulis begini: “Setiap agama yang mengajarkan sikap pasrah dan tunduk kepada Allah harus disebut dengan ‘islam’ (dalam makna generiknya) meskipun ajaran lokalnya berbeda-beda. Tidak hanya agama samawi, namun semua agama lain termasuk Hindu-Budha dan Konghucu pun memiliki kebenaran yang sama.”

Manusia membutuhkan kepercayaan. Kepercayaanlah yang melahirkan tata nilai untuk menopang hidup seluruh umat manusia, ia bukan hanya menjadi keharusan, tapi kebutuhan sekaligus kebenaran. Dalam sejarah perkembangan umat manusia, berkembang begitu banyak kepercayaan. Bentuk-bentuk kepercayaan ini beraneka ragam, berbeda satu sama lain, bahkan bercampur baur. Kepercayaan ini melahirkan nilai-nilai. Nilai-nilai itu kemudian melembaga dalam tradisi yang mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya.

Saat zaman batu, ketika manusia menggantungkan segala sesuatunya pada alam, manusia merasakan perasaan akan kesakralan alam, keinginan untuk survive dari bencana yang mungkin akan disebabkan alam dengan menyakralkan mereka. Maka dalam sejarah, kita temukan animisme-dinamisme. Saat zaman pertanian, kiata mulai menggantungkan segala sesuatunya pada air, pada matahari. Kepercayaan pada Dewa Matahari di beberapa peradaban cukup menjadi bukti kebergantungan ini. Terus begitu hingga bersamaan dengan menurunnya kebergantungan manusia pada alam dan kemajuan intelektualnya yang cukup pesat, ‘kebenaran tunggal’ itu pun menjadi abstraksi.

Maka, Metafora tentang Dewa pun diciptakan untuk melambangkan kebenaran di baliknya, meskipun beberapa diantara manusia lain menerima secara literal Bhagavad Gita, kita menyebutnya Immortal Gods. Waktu berlalu, dan sebuah loncatan terjadi, metafora Dewa-Dewi itu kemudian digantikan dengan Immortal Principles, hukum-hukum abadi yang berlaku di alam semesta. Peradaban umat manusia mulai mengenal konsepsi benar-salah, dari kebenaran subjektif menjadi kebenaran objektif. Kepercayaan yang dulunya penuh dengan ekspresi pengabdian pada Dewa berganti dengan seperangkat hukum dan sistem yang bergulir sendiri.

Karl Marx, Lenin, Darwin adalah pemikir yang lahir di jamannya. Demikian pula Kartini, Tan Malaka, HOS Tjokroaminoto. Pemikiran mereka berbeda satu sama lain, kadang ada yang bertentangan, beberapa kadang sejalur dan saling menguatkan. Mereka bicara soal sains, ekonomi, agama, politik, seni, bahkan budaya. Tapi pemikir bukan hanya mereka, maka tentu saja jika kita mau menelusurinya lebih dalam, akan kita temukan betapa kaya ‘bidang-bidang kehidupan’ itu. Pada intinya, semua kekayaan itu menuju pada satu muara: Kebenaran sejati akan hakikat ketuhanan.

Cara menuju Kebenaran sejati dilakukan dengan banyak jalan. Marx, dengan mengambil filsafat Hegel sebagai titik tolak malah menjadi seorang materialis. Mengapa begitu? Sebab Marx mempunyai tujuan praktis yang sifatnya politis. Ia bukan hanya seorang filsuf, tapi juga seorang ahli sejarah, ahli sosiologi, dan ahli ekonomi.

Hegel mengatakan bahwa kekuatan yang menggerakkan sejarah itu adalah ruh dunia, tapi Marx, sebagai seorang ahli ekonomi mengatakan sebaliknya, perubahan material-lah yang menciptakan hubungan ruhaniah yang baru. Marx banyak membahas kondisi sosial yang terjadi di masa awal revolusi industri dimana dalam masyarakat kapitalis, pekerjaan diatur sedemikian rupa hingga pekerja menjadi budak bagi kelas sosial yang lain. Sementara kaum buruh mengalami penderitaan, anak-anak kaum borjuis memainkan biola di rumah megahnya. Marxisme pada akhirnya mendorong timbulnya pemberontakan besar. Sosialisme dianggap berhasil memerangi masyarakat yang tidak manusiawi menjadi masyarakat yang lebih menghargai kesetiakawanan.

Bukankah Rasulullah juga seorang Pemberontak yang Revolusioner? Ia telah berhasil mengubah suatu kondisi masyarakat yang diliputi kebodohan dan mengantarkan pada kemajuan peradaban yang gemilang! Dari tatanan masyarakat kesukuan dengan stratifikasi dan hierarki sosialnya yang begitu diskriminatif menjadi struktur baru masyarakat religio-politik yang demokratis.

Ketuhanan yang Maha Esa

Pandangan hidup umat Islam yang hakiki harus merujuk pada konsep tauhid. Kalau diibaratkan kekokohan pandangan hidup itu seperti sebuah pohon, maka tauhid adalah akar-akar yang menghunjam ke dalam bumi, yang menopang tegaknya pohon tersebut. Oleh karena itu, setiap strategi yang kita rencanakan, setiap langkah yang kita lakukan, semestinya harus kita landasi dengan pemahaman yang benar tentang konsepsi tauhid.

Sejak jaman pertama kehidupan manusia, dunia ini secara garis besar terbagi menjadi 2 kekuatan, yaitu kebaikan dan kejahatan. Kedua kekuatan ini akan terus berperang hingga akhir jaman. Islam diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Apabila seseorang telah mengucapkan 2 kalimat syahadat, maka ada konsekuensi yang harus diembannya, yaitu meng-Ilahkan Allah semata dan menegasikan segala sesembahan selain Allah.

Dalam Islam konsep Tuhan dikenal dengan konsep Tauhid (menunggalkan) yang tidak mengalami perubahan sejak zaman Nabi Adam sehingga Nabi Muhammad Saw. Tuhan adalah eksistensi tertinggi yang dapat menjadi tempat bertumpu dan berlindung hamba (makhluk).

Dalam Nilai Dasar Perjuangan HMI BAB I (Dasar-Dasar Kepercayaan) disebutkan bahwa manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan tersebut dianut bukan saja karena kebutuhan, tetapi juga karena kebenaran. Dalam kenyataan, sering kita temui bentuk kepercayaan yang beraneka ragam di kalangan masyarakat. Itu artinya ada dua kemungkinan, kesemuanya berarti salah, atau salah satu saja diantaranya yang benar, atau bisa jadi kepercayaan malah mengandung unsur-unsur kebenaran dan kepalsuan yang campur baur. Kepercayaan melahirkan nilai-nilai yang melembaga dalam tradisi yang diwariskan turun temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Nah, disinilah kontradiksi itu muncul, yakni ketika ia menjadi penghambat perkembangan dan kemajuan manusia. Karenanya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap tata nilai tradisional dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh merupakan kebenaran. Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah.

Allah telah berfirman: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”

Artinya, kebenaran itu ada, sumbernya dari Tuhan, yakni yang disampaikan kepada kita melalui wahyu. Jadi jangan pernah bersikap ragu dan membenarkan keraguan itu, karena pegangan kebenaran jelas dan ada, yakni wahyu. Jadi, jangan lagi ada kata, kebenaran itu relative, karena jelas kebenaran sejati hanya milik Allah swt.

Perumusan kalimat persaksian dalam Islam: ‘Tiada Tuhan selain Allah’, mengandung gabungan antara peniadaan dan pengecualian. ‘Tidak ada Tuhan’ berarti meniadakan segala bentuk kepercayaan, sedangkan ‘Selain Allah’ memperkecualikan satu kepercayaan kepada kebenaran. Membebaskan diri dari belenggu, dan tunduk pada ukuran kebenaran : Allah, Tuhan yang Maha Esa. Tunduk dan pasrah itu disebut Islam.

Imam Ibnu Katsir membagi konsep tauhid ini dalam dua bentuk :

(1) Tauhid Formalis (Tauhidul Ism), yaitu meyakini bahwa Allah Swt adalah Esa secara otomatis dengan namanya tersebut, maka penyebutan dengan nama selain Allah Swt tidak diperbolehkan.

(2) Tauhid Konseptual (Tauhidul Ma’na), yaitu konsep tauhid yang mementingkan sisi konseptual bahwa ketuhanan dalam Islam adalah Esa (Surat Al Isra 17: 110, Al Ikhlas 112: 1).

Berdasarkan Konsep Tauhid maka Allah Swt adalah :

(1) Pencipta alam semesta dan seisinya, berarti disinilah ketergantungan manusia sebagai makhluk-Nya.

(2) Dimensi yang memungkinkan dimensi – dimensi lainnya.

(3) Memberikan arti dan kehidupan kepada setiap sesuatu.

(4) Tak terhingga dan hanya Dia yang tak terhingga dalam kehidupan sebagai tanda bahwa Dia sebagai Pencipta.

(5) Segala sesuatu selain-Nya akan musnah. Maka jika ada manusia menganggap bahwa ada zat yang Maha Agung selain Allah Swt, terlebih lagi kemudian tenggelam dalam perbuatan men-Tuhan-kannya maka manusia itu menjadi musyrik

Menurut Jujun S. Suriasumantri, pada dasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio, dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Yang pertama disebut paham rasionalisme, dan yang kedua disebut paham empirisme.

Di samping rasionalisme dan empirisme, masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting dari semua itu, menurut Jujun, adalah intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ. Inilah yang disebut intuisi.

Pendekatan untuk mengenal konsep Tuhan bisa dillakukan dengan tiga jalan dengan merujuk pada filsafat ilmu, yakni secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Secara ontologis, artinya kita membahas mengenai APA yang dikaji (subjek materiil, atau objek  formil). Objek material adalah suatu hal yang menjadi sasaran pemikiran yang akan dipelajari, sedangkan objek formal merupakan cara pandang dalam melihat/ meninjau yang dilakukan peneliti terhadap objek material. Kaitannya dengan agama, maka objek materialnya adalah Manusia dan Tuhan, sedang objek formalnya adalah ‘penghambaan’ manusia terhadap Tuhan.

Secara epistemologis, artinya kita membahas mengenai bagaimana cara mendapatkan ilmu tersebut. Ilmu diawali dengan fakta, dan diakhiri dengan fakta. Ini juga-lah yang akan menjawab pertanyaan ‘mengapa agama harus dimulai dengan rasa percaya sedangkan ilmu dengan ragu-ragu?’

Jawabnya terletak pada daerah penjelajahan agama yang menjangkau keluar dari daerah pengalaman manusia. Dalam keadaan seperti ini, wahyu dari Tuhan akan diterima sebagai hipotesis yang kebenarannya akan diuji oleh manusia. Proses pengujian ini tidak sama dengan proses pengujian ilmiah yang hanya berdasarkan tangkapan panca indera, mmelainkan juga harus meliputi semua aspek kemanusiaan kita seperti : penalaran, perasaan, intuisi, dan imajinasi, disamping pengalaman. Sehingga, kepercayaan keagamaan bersifat personal dan subjektif, berbeda dengan ilmu yang bersifat impersonal dan objektif. (Filsafat Ilmu, Hal : 139)

Agama bukanlah hal yang ilmiah. Agama lebih dari sekedar ilmiah. (Bp. Djaelani, Dosen Agama Islam)

Sedangkan secara aksiologis, yaitu kita membahas mengenai nilai kegunaan ilmu. Albert Einstein mengatakan bahwa tidak cukup bagi kita hanya memahami ilmu agar hasil pekerjaan kita membawa berkah bagi manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dari semua ikhtiar teknis. Jangan kau lupakan hal ini ditengah tumpukan diagram dan persamaan.

Ilmu tidak saja memerlukan kemampuan intelektual namun juga keluhuran moral.

Dalam presentasinya Arqom Kuswanjono memaparkan mengenai struktur ontologis, epistemologis, dan aksiologis ilmu dan agama sebagai berikut : Kebenaran ilmu dan agama tergantung struktur ontologisnya. Ada korelasi antara penguasaan ilmu dan agama dengan kedekatan eksistensinya dengan Allah, sehingga tidak mungkin seorang ilmuwan menjadi anti Tuhan. Integrasi ilmu dan agama tidak berada pada wilayah overlap ilmu dan agama  tetapi pada seluruh bagan, artinya ilmu yang lebih dominan menggunakan rasio dan empiri, menyisakan ruang bagi intuisi dan rasio. Demikian pula agama yang lebih dominan menggunakan intuisi dan wahyu, menyisakan ruang bagi rasio dan empiri. Kebenaran dan kebaikan ilmu dan agama secara mutlak ada pada Allah Ilmuwan harus selalu berupaya melakukan ‘gerak eksistensial’ mendekatkan diri kepada Allah agar menemukan kebenaran dan kebaikan ilmu yang sesungguhnya dan sebaiknya

Namun, inti dari semuanya adalah bahwa tuhan itu ada, dan secara mutlak hanyalah Allah. Pendekatan untuk memahami Tuhan memang bisa dilakukuan dengan berbagai jalan, akan tetapi karena Tuhan adalah Mutlak dan manusia adalah nisbi, maka manusia tidak dapat menjangkau sendiri kepada pengertian akan hakikat Tuhan yang sebenarnya. Karena itu, ‘wahyu’ sebagai pengajaran/ pemberitahuan langsung dari Tuhan diperlukan sebagai bentuk kelengkapan kepercayaan kepada Tuhan.

Menurut Kuntowijoyo wahyu itu sangat penting.  Unsur wahyu inilah yang membedakan epistemologi Islam dengan cabang-cabang epistemologi Barat yang besar seperti Rasionalisme atau Empirisme, yang mengakui sumber pengetahuan sebagai hanya berasal dari akal atau observasi saja.

Dalam epistemologi Islam menurut Kuntowijoyo, unsur petunjuk transendental yang berupa wahyu juga menjadi sumber pengetahuan yang penting. Pengetahuan wahyu, oleh karena itu menjadi pengetahuan apriori. Wahyu menempati posisi sebagai salah satu pembentuk konstruksi mengenai realitas, sebab wahyu diakui sebagai “ayat-ayat Tuhan” yang memberikan pedoman dalam pikiran dan tindakan seorang Muslim. Dalam konteks ini, wahyu lalu menjadi unsur konstitutif di dalam paradigma Islam.

Dalam Islam wahyu yang dianggap paling sempurna dan karena itu memiliki otoritas tertinggi adalah Al Qur’an. Al Qur’an merupakan kumpulan wahyu yang diyakini diturunkan oleh Allah swt melalui perantaraan malaikat Jibril kepada manusia yang dipilih oleh Allah swt untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada seluruh umat manusia, yaitu Muhammad saw Oleh karena itu, dalam keyakinan umat Islam Muhammad saw adalah seorang Nabi dan utusan Allah (Rasulullah).

Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukan. Hanya amal yang dilandasi dengan tauhidullah, menurut tuntunan Islam, yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti.

Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah; bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan) Nya, dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan Sifat-Nya. Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah, bahkan mengakui keesaan dan kemaha-kuasaan Allah dengan meminta kepada Allah melalui Asma’ dan Sifat-Nya.

Untuk ajaran Islam misalnya bahkan hampir seluruh aktifitas keagamaan itu sumbernya adalah wahyu Tuhan, dan hanya sedikit sekali unsur-unsur gagasan manusia disana. Yopie menganggap bahwa pancasila belum memenuhi mabda’ Islam. Apakah benar demikian? Bagi saya Islam jelas memiliki prinsip-prinsip umum yang universal tentang bagaimana mengatur tata kehidupan manusia, dari yang sifatnya pribadi hingga mengenai kemasyarakatan dan ketatanegaraan. Prinsip-prinsip umum tersebut tentunya telah ada dalam Al-Qur’an dan Hadis, yang apabila diproyeksikan ke dalam jati diri keindonesiaan kita tetap sejalan dengan prinsip pancasila dan UUD 1945.

Milik Allah-lah kebenaran mutlak itu. Segala kesalahan datang dari saya.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s