Dinamika Gerakan Mahasiswa bersama Pak Eko Prasetyo


Malam minggu pekan lalu, saya dan beberapa kawan datang bersilaturrahim ke Social Movement Institute untuk berdiskusi dengan Pak Eko Prasetyo dan beberapa pegiat SMI lainnya mengenai dinamika gerakan mahasiswa hari ini.

Beliau mengawali pembahasan diskusi ini dengan pertanyaan, “Bagaimana arah dan ruh gerakan mahasiswa hari ini? Apakah perubahan (gerakan mahasiswa) saat ini telah mengarah pada track yang diharapkan, ataukah simbol semata?” Kemudian, beliau melanjutkan dengan membahas sejarah pra dan pasca reformasi 1998 sebagai pelaku sejarah di zamannya.

“Gerakan mahasiswa ini dimulai pada 1993, dimana untuk kali pertama, Universitas Kristen Satya Wacana menyelenggarakan konggres Ilmiah. Disana, para mahasiswa yang terpilih dikelompokkan dalam kelas masing-masing untuk membahas topik-topik tertentu. Di masa itu, UKSW dinilai sebagai oposisi yang paling kritis. Namun, Soeharto rupanya tahu benar cara untuk menghancurkan kampus.”

“Pada 1990an, mahasiswa muslim membentuk asosiasi mahasiswa muslim alternatif dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia yang digawangi oleh Dawam Raharjo. Pasca revolusi jilbab berhasil, jilbab pun menjadi simbol oposisi. Ketika kampus dihancurkan, oposisi keagamaan mulai tumbuh, inilah titik balik kebangkitan mahasiswa muslim Indonesia.”

“Beberapa hal yang terjadi di kampus kala itu antara lain: rusaknya manajemen kampus, munculnya gerakan ‘mahasiswa santri’, dan bertumbuhnya gerakan kiri yang bersekutu dengan kaum miskin. Reformasi 1998 yang terjadi kala itu tidak melibatkan mahasiswa sebagai aktor tunggal, melainkan hanya sebagai pemicu akibat kekecewaan kaum terpelajar. Efeknya, reformasi berakhir kacau balau.”

“Amien Rais yang menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyyah menjadi kuat tensi perlawanannya, karena ia merepresentasikan kekuatan sipil. Dia-lah yang menggerakkan mahasiswa-mahasiswanya untuk turun aksi (saat itu ia menjabat sebagai dosen UGM). Hingga akhirnya gerakan intelektual akademisi bertransformasi menjadi intelektual massa. Media pun turut menyumbang peranan besar dengan tidak memberikan komentar negatif terhadap aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa, meski aksi mereka kala itu jauh lebih anarkis dari aksi mahasiswa hari ini.”

“Dinamika revolusi memberikan sugesti positif, gerakan mahasiswa berubah total dengan diskusi-diskusi rutin yang menyebabkan aksi-aksi pun menjadi hidup.”

“Namun, sejarah ini bukanlah sejarah yang indah, sebab setelah reformasi ternyata gerakan mahasiswa belum berhasil membangun mimpinya akan sebuah negara yang memiliki kepemimpinan politik. Gerakan mahasiswa berubah atributnya menjadi gerakan moral, masa kepahlawanan selesai, ada sisi yang hilang karena ketidakmampuan gerakan dalam menggalang massa. Gerakan mahasiswa menjadi kebingungan membawa peran, saat mereka pulang kandang ke kampusnya, mereka punya aturan-aturan baru, namun kampus ternyata lebih dahulu membuat aturan-aturannya sendiri.”

“Ide-ide para ‘pahlawan reformasi’ ini pun tidak hidup. Konsep tanpa prinsip dan uang ternyata tak bisa terealisasi. Ide mahasiswa menghantam kekuatan yang jauh lebih besar. Wujud eksperimentasi gerakan mahasiswa dengan corak kiri-kanan yang menggaungkan politik progresif pun digempur militer. Habislah intelektual kampus. Mereka yang pintar akan masuk ke dalam birokrat, sementara yang radikal akan tersingkir.”

“Mulai tahun 2001-2002, tradisi keilmiahan menjadi menurun. Disisi lain, masyarakat mulai meragukan efek reformasi sebab demokrasi nyatanya tak menjamin apa yang dulu dijamin oleh Suharto (meski diberikan dengan hutang luar negeri). Demikian halnya dengan mahasiswa yang kian tidak percaya dan memunculkan sistem alternatif, khilafah misalnya. Islam dianggap memiliki sistem pemerintahan yang lengkap, sehingga negara Islam adalah cita-cita yang harus diwujudkan. Muncul gesekan baru dalam percaturan sistem ekonomi liberal.”

“Jika situasinya begini, kita hanya akan mengulang sejarah. Hal yang bisa kita lakukan adalah dengan menghidupkan lagi politik di kampus. Kita harus merebut kampus dengan gagasan global. Organisasi mahasiswa harus menjadi pemrakarsa, jika tidak bekerja G.M tidak akan mengakar, massa-nya pun mengambang.”

“Gerakan Mahasiswa  pun hanya hidup saat pergantian kepengurusan, pelantikan, dan diskusi. Seharusnya, ormeks mengabdikan diri pada masyarakat banyak, sehingga terjalin hubungan fungsional yang matang. Tradisi intelektual harus dibangun berdasar kondisi masyarakat, sehingga gagasannya mampu diimplementasikan.”

Saat ini, mereka yang duduk di kursi pemerintahan RI adalah para aktivis mahasiswa di zamannya. Tentu, mereka akan lebih paham mematikan gerakan mahasiswa sebab mereka pun pernah mengalami masa-masa sebagai aktivis gerakan mahasiswa.

“Kita patut prihatin saat gerakan mahasiswa mengadakan konferensi, kemudian yang diundang untuk meresmikan adalah pejabat pemerintahan. Apakah saat ini gerakan mahasiswa memiliki kepentingan pragmatis untuk memiliki patron dengan mereka?”

“Kelemahan KAMMI adalah tidak bisa membaca analisis internasional. Bisa saja mahasiswa membentuk suatu konferensi internasional untuk membahas arah gerakan mahasiswa hari ini. Bangkitlah! Ini adalah titik perubahan. Jangan hanya membaca apa yang tampak, tapi baca juga lah apa yang kini menjadi fenomena umum.”

“Fase sejarah yang dihadapi mahasiswa belum selesai. Saat reformasi, mahasiswa memimpikan sebuah sistem kekuasaan yang adil, namun mereka malah ‘disingkirkan’ dari pentas mereka di kampus. Mereka yang ‘tinggal’ justru ikut larut dalam perubahan yang tak tentu.”

Usai pemaparan, beberapa peserta diskusi mengajukan feed back terhadap fasilitator:

Kak Tom (FISIP UI) mengajukan argumennya, “Pertama, Saat ini kita berada dalam pemerintahan sipil. Ada ketidaksinkronan ketika kita menginginkan gerakan mahasiswa bergerak dengan cepat, sebab karakter gerakan sipil adalah waktunya lama. Untuk menumbuhkan kesadaran berbangsa saja kita membutuhkan waktu hampir 30 tahun. Kedua, demo anarkis yang dilakukan mahasiswa UI beberapa waktu lalu cenderung eksklusif, sebab GM menyuarakan sesuatu yang tidak didengar masyarakat umum, tidak mengaspirasi banyak orang. Masyarakat sudah merasa nyaman karena mereka sudah merasa mapan. Ketiga, Penyatuan massa-mahasisa itu sifatnya temporal, artinya kita harus membangun kesadaran bersama melalui pemikiran jangka panjang untuk menyampaikan pesan-pesan kemerdekaan.”

Kak Adnan (Ilmu Hukum UI) mengajukan argumennya, “Saat bicara mengenai dinamisasi gerakan mahasiswa di kampus, ada yang janggal. Kita merasa kita aktivis mahasiswa, padahal kenyataannya semu. Sama seperti saat kita melihat bahwa dunia ini luas, padahal sebenarnya sempit. Bagaimana tanggapan anda dengan pembentukan partai politik mahasiswa yang resikonya besar tetapi baik? (pertanyaan ini akan dapat dipahami jika kita tahu apa yang terjadi dengan Kak Adnan pada pemira UI beberapa waktu lalu), lantas bagaimana menumbuhkan kultur diskusi dan literasi, kalau kita ingin memulai dinamisasi, melihat kondisi sekarang, sampai berapa tahun lagi akan terealisasi?”

Pak Eko Prasetyo menjawab, “Harapan pada gerakan mahasiswa makin mekar, sebab jumlah pendidikan tinggi hari ini semakin banyak. Pertemuan mahasiswa makin mudah, tukar menukar gagasan pun semakin mudah. Yang perlu kita ciptakan adalah momentum, kesempatan mengambil peran. GM mestinya tidak mengikuti arus, tetapi membawa arus. Produksi ide harus lebih banyak. Kita harus lebih banyak bicara pada isu di tingkat etis, misal: sebagai pemimpin gagal membawa harapan rakyat. Penyerangan pada sisi etis ini harusnya diprakarsai gerakan mahasiswa, sehingga akan muncul suasana politik yang lebih bermakna.”

“Asosiasi politik tidak hanya muncul karena Pemira. Soekarno pernah berkata, ‘Partaimu benar kalau kau dihabisi imperialis, itu berarti kau berjalan di atas rel yang benar. Kalau kau justru dipuja, maka partaimu salah dan telah keluar dari rel yang benar.’ Di kampus, partai berfungsi membela kepentingan mahasiswa agar mahasiswa mendapat lingkungan kampus terbaik, pembayaran yang murah, dan kualitas pengajar/dosen terbaik.”

“Belajarlah berempati dengan orang lain. Dengan berempati kita akan mudah berkorban. Kemauan untuk berkorban sedikit demi sedikit akan membawa kita pada momentum perubahan. Ciptakanlah komunikasi yang baik. Biasakanlah diri untuk menjadi teladan, dengan melakukan apa yang dikatakan.” (hassa)

Serawung Aktivis : Ngelukis Kedigjayan Islam #4

Dinamika Gerakan Mahasiswa bersama Pak Eko Prasetyo

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s