Sekali Lagi: Independensi KAMMI!


(Tanggapan atas Tanggapan-Tanggapan: Untuk Ayunda Sofistika Carevy Ediwindra dan Kakanda Robert Edy Sudarwan)

oleh : Alikta Hasnah Safitri[1]

 

Pseudo-independence KAMMI

Relasi KAMMI dan independensi politiknya merupakan sebuah perbincangan yang tidak akan habis untuk diwacanakan sebab dalam waktu yang lama KAMMI telah terjerat dalam jalan buntu dialektika yang dibuatnya sendiri mengenai hubungannya dengan Partai Politik tertentu. Kita boleh membuat berbagai macam argumen yang rasional (maupun tidak) untuk membenarkan bahwa KAMMI adalah organisasi mahasiswa yang independen.  Itu sah-sah saja. Akan tetapi dalam aktifitas keseharian organisasi ini, nyata terlihat bahwa metode yang digunakan dalam rekruitmen anggota baru, kurikula yang digunakan dalam proses kaderisasi, serta sistem penjagaan kader, telah menempatkan KAMMI sebagai identitas formal untuk melembagakan diri dalam afiliasi kader pada partai politik yang bersangkutan.

Jika Paradigma Gerakan KAMMI adalah cerminan dari metodologi berpikir dan bertindak, maka sejatinya saat ini kita tengah berkaca pada cermin yang buram. Buramnya cermin ini adalah karena adanya gap antara apa yang ada dalam pantulan cermin dengan diri kita yang tengah berkaca di depannya. Buramnya kaca (gap) bisa kita maknai sebagai sikap pseudo-independence KAMMI. Disebut pseudo-independence karena independensi yang selama ini diterapkan adalah sikap independen yang setengah-setengah, penuh kompromi dan tidak didasari oleh niat yang utuh. Disatu sisi KAMMI menegaskan sikap independennya, namun disisi lain tetap membuka kran kerjasama (bahkan hubungan mesra) dengan partai politik tersebut.

Betapapun KAMMI sebagai gerakan mahasiswa menyuarakan independensinya, independensi itu hanya menjadi lip service secara organisatoris-formal saja, sementara secara kultural-ideologis, adanya kesamaan latar belakang dan metode kaderisasi, keterpautan emosional, serta kesamaan gerak membuat ikatan yang terjalin antara keduanya susah direnggangkan. Efeknya, sebagai gerakan mahasiswa KAMMI pun gagap mengidentifikasi dan merumuskan jati dirinya sebagai gerakan yang memiliki nalar politiknya sendiri, malah cenderung menegasikan segala macam pemikiran dan tindakan politik yang tidak sejalan dengan kepentingan partai yang bersangkutan.

Agaknya memang optimisme memperjuangkan independensi KAMMI secara bulat utuh harus dipendam dalam-dalam mengingat betapa secara struktural KAMMI lebih memilih setia dengan ikatan kultural-ideologis yang dibangun secara emosional daripada kembali pada khittah konstitusinya sebagai organisasi yang independen.

Realisasi Independensi KAMMI, Mungkinkah?

Di tengah skeptisisme dan pesimisme tersebut, saya meyakini bahwa pilar independensi bukan hanya sebatas tampilan luar secara organisatoris, akan tetapi menjadi spirit yang melandasi pola pikir, pola sikap, dan pola tindakan yang diambil oleh tiap pribadi yang menisbahkan dirinya sebagai bagian dari kesatuan. Sehingga, poin intinya bukanlah terletak pada output, bukan pada mereka yang selama menjadi aktifis tergabung dalam kesatuan lantas setelahnya menjadi politikus yang berkecimpung dalam percaturan politik praktis, melainkan pada input, pada mereka yang untuk kali pertama memilih KAMMI sebagai jalan aktifismenya.

Sudah semestinyalah, saat memutuskan berhimpun dalam kesatuan ini, secara kolektif masing-masing dari kita menumbuhkan independensi dalam pola pikir, pola sikap, serta pola tindakan sehingga untuk selanjutnya secara sadar kita bisa menimbang dan menetapkan tiap keputusan secara independen, tanpa terpengaruh intervensi dan tekanan dari siapapun. Sehingga, di masa yang akan datang, tak ada lagi cerita soal kader yang ragu berpendapat karena khawatir dianggap berbeda, takut mengambil langkah karena khawatir menyimpang dari koridor ketaatan pada senior, tidak mau mengambil sikap tegas karena takut dikira gerakan sempalan.

Hal ini tentu saja telah tergambar jelas dalam Kredo Gerakan KAMMI yang sejatinya telah merangkum bagaimana independensi kader semestinya diterapkan: Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkehendak merdeka. Tidak asa satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak. Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan. Maka, yang diperlukan saat ini adalah pemaknaan dan realisasi dari independensi yang melekat pada watak dan kepribadian kader KAMMI di masa kini dan masa yang akan datang.

Wujud dari pemaknaan dan realisasi ini dapat bersifat formal dan informal. Pada ranah formal, realisasi independensi kader dimasukkan ke dalam training perkaderan KAMMI (Dauroh Marhalah) yang menekankan pada kontekstualisasi  nilai-nilai independensi dalam internal organisasi serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada ranah informal, KAMMI haruslah memberikan percontohan sikap independensi itu dalam merespon ragam isu kampus, nasional, hingga tataran global. Sementara, bagi kader yang memang dalam prosesnya memilih untuk menjalankan dualisme (sebagai penggerak KAMMI sekaligus penggerak partai politik), maka diperlukan pula tata aturan (kode etik) yang membatasi hingga sejauh mana peran dualisme itu bisa berjalan.

Pada Akhirnya..

Visi KAMMI sebagai wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang islami seharusnya dapat kita maknai dalam kerangka independensi ini, yakni lahirnya kader pemimpin independen yang kelak akan mengisi pos-pos pengabdian, baik itu sebagai praktisi pendidikan, birokrat di lembaga pemerintahan, pengusaha swasta, maupun pos pengabdian lain yang dengan teguh mempertahankan apa yang ia yakini sebagai kebenaran dalam koridor Al-Qur’an dan As sunnah di tengah kecamuk problemtika umat dan hiruk pikuknya politik transaksional demi mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang islami.

Bisakah kita bayangkan apabila sejak dalam rahim KAMMI saja kadernya sudah gagal berpikir, bersikap, dan bertindak secara independen, bagaimana jadinya apabila mereka mengisi pos-pos pengabdiannya di masa yang akan datang?

Pemahaman sebagaimana yang saya sebutkan di atas memang belum lengkap atau bahkan sangat sederhana, akan tetapi dari yang sederhana itu, harus saya akui betapa berat dan lelahnya berjalan di atasnya sampai sejauh ini.

Billahi Fii Sabilil haq Fastabiqul Khairat.

[1] Saat ini aktif sebagai Staff Bidang Kebijakan Publik KAMMI Komisariat Sholahuddin Al Ayyubi UNS, Pegiat Forum Diskusi Kultural Solo

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s