Curhat Tengah Malam: Etika Komunikasi dan Mitos Langitan Mahasiswa


Ceritanya tengah malam tadi saya sedikit ngobrol via sms dengan teman mengenai cara berkomunikasi dengan orang yang dituakan karena rentang usia yang memang jauh dari kita. Dengan latar pendidikan yang berbeda, baik kita maupun orang tua tersebut merasa paling benar, paling harus ditaati.

Nah, sebagai orang yang lebih muda, bagaimana sikap kita? Kalau kita pergi dianggapnya tidak menghormati, kalau diam hati kita tersakiti oleh kata-kata yang nyelekit, kalau kita tutup telinga dianggap tidak menghargai, kita mengatakan salah, dianggapnya itu tindakan yang tidak benar. Mau mencari titik temu dan berkompromi juga susah, apalagi kalau itu masalah yang prinsipil.

Kata AA Gym, “Sebaik apapun yang kita lakukan pasti ada yang tidak suka, pasti ada yang menyebutnya salah, karena Rasulullah yang sempurna pun tetap dianggap salah oleh sebagian, tetap dihina, tetap didengki, tetap dicaci, tetap dimusuhi. Kalau hidup kita hanya untuk mencari penilaian orang, maka tak ada nilai apa-apa.”

Iya sih, bener. Kalau hidup kita hanya untuk mencari penilaian orang, tak akan ada sesuatu pun yang kita dapat. Tapi merasa bahwa dengan mengalah kita melakukan hal yang jauh lebih baik lantas takabur pada diri sendiri juga sama saja kan?

Sama seperti mahasiswa yang nyanyikan dengan heroik lagu pro rakyat macam “Buruh tani, mahasiswa, rakyat miskin kota..” atau mereka yang suarakan jargon “Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!!” Sejujurnya, retorika indah ini (bagi saya) malah mencerabut mahasiswa dari akar masyarakatnya. Lha wong mahasiswa juga bagian dari rakyat kok bilangnya memperjuangkan rakyat. Memperjuangkan rakyat apa eksistensi lembaganya? Lha rakyatnya nggak merasa diperjuangkan kok. Kenapa tidak bilang, “Sebagai bagian dari rakyat, saya ingin begini dan begitu.” Nggak usah sok sok membawa nama rakyat kalau ternyata yang kita perjuangkan adalah kepentingan diri maupun organisasi, lha wong nyatanya begitu kok.

Sudah begitu, dengan narsisnya mahasiswa menempatkan dirinya dengan sebutan langitan macam agent of change, agent of social control, iron stock, moral force, dan lain-lainnya. Sebutan langitan ini membuat mahasiswa berada pada posisi yang berbeda dengan rakyat secara umum, ‘merasa’ lebih intelek-lah, lebih rasional-lah, lebih inilah, itulah.

Mungkin ini hanya pendapat pribadi seorang ‘saya’ yang memang menutup mata dari euforia dan gegap gempita kampus dan segala yang ada di dalamnya, sementara saya sibuk merenung tanpa menghasilkan karya nyata yang memberi arti. Bisa jadi begitu.

Dengan melihat permasalahan di awal tadi (gap dalam komunikasi antara mahasiswa dengan rakyat –dimana kita pun adalah bagian dari rakyat), saya berasumsi bahwa (bisa jadi) hal itu terjadi gara-gara sedari awal kita memisahkan diri kita terlampau jauh dengan rakyat (dalam terminologi teks).

Padahal, secara sederhana, mahasiswa ya juga rakyat.

Premis 1: Mahasiswa tinggal di wilayah NKRI

Premis 2: Rakyat adalah semua orang yang berdomisili di wilayah NKRI

Maka kesimpulan sederhana yang bisa kita ambil adalah mahasiswa merupakan bagian dari rakyat Indonesia. Sama-sama seneng makan beras, sama-sama bayar pajak, sama-sama beratapkan langit khatulistiwa. Tsaahh.

Nah, karena mahasiswa adalah rakyat. Mestinya, mahasiswa mulai sadar posisi dan perannya sebagai bagian dari rakyat. Tiap langkah yang kita ayun, tiap jejak yang kita buat, tiap goresan tinta yang kita torehkan, merupakan tindakan sadar kita sebagai bagian himpunan bernama rakyat. Kita menyadari inferoritas kita ditengah superioritas mitologi yang membangun kerangka diri kita selama ini, menyadari sepenuhnya bahwa sebagai rakyat kita memiliki hak yang sama untuk menopang demokrasi.

Mudah-mudahan dengan menghidupkan kesadaran ini, tidak akan lagi terjadi dikotomi etika komunikasi yang terbangun antara diri dengan rakyat, sebab kita sendiri pun harusnya menempatkan diri sebagai bagian inheren dari rakyat, tanpa menafikan kapasitas keilmuan yang kita miliki secara teori maupun praksis yang kita dapat di perguruan tinggi.

Duh, hari gini masih merasa jadi superhero? Capek deh.

Salam imut,

Alikta

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s