Mengapa Bertahan?


 “Saya selalu merindui pertemuan itu; bukan hanya karena tambah ilmu; tapi bagi saya, ia benar terasa sebagai perjumpaan karena iman.” – Salim A Fillah

Meskipun tidak lagi diundang mengikuti agenda-agenda tasqif maupun temu kader Tarbiyah seperti dulu, in syaa Allah saya masih rutin mengikuti halaqoh pekanan dan selalu merindukannya.

Tergopoh menyiapkan hafalan dan tausiyah kalau giliran itu sudah biasa, menangis kalau menjelang jam ngaji saya masih harus ada kegiatan di kampus juga sering terjadi. Ingin saya, maksimalnya satu jam jelang halaqoh saya sudah benar-benar free.

Pernah saya lelah sekali habis seharian beraktivitas, saya katakan pada kawan ingin pejamkan mata dan minta untuk bangunkan 30 menit kemudian, teman tak bangunkan, sadar bahwa waktu telah bergulir satu jam lebih sementara jarak kos dan tempat liqo 30 menit lamanya (belum kalau macet) mata saya merah dan berair, saya berangkat tanpa pamit pada kawan, marah.

Kadang beberapa kawan bertanya, kenapa masih bertahan kalau sudah tak dianggap. Duh, saya juga bingung kenapa. Kalaulah ini soal ukhuwah seperti yang kawan-kawan agungkan dari jamaah ini, sense-nya memang belum dapat.

Pernah ada luka di masa lalu, ada kesalahan yang bercampur kesalahpahaman, keduanya mengakar dan mengurat nadi (bisa jadi), ada senyum yang tak berbalas, jemari yang menolak dijabat, ghibah yang terselip dibelakang jumpa, dan prasangka yang tak henti bergelayut dalam tatapan. Namun itu tak jadi soal, saya bertahan.

Sebab ia yang kusebut Murobbi pernah berkata, “Janganlah berada di jalan ini karena aku, dia, atau mereka. Bertahanlah di jalan ini karena Allah.” Itu beliau katakan lima tahun silam, di masjid SDIT Harapan Umat Purbalingga.

Ada keyakinan yang tak tergoyah, ada harapan yang membumbung di angkasa pikiran, ada ghirah yang bergelora dalam dada setiap kali mengingatnya.

Seperti apakah saya di masa lalu, seperti apakah saya di masa kini, sejujurnya tak ada beda yang berarti. Saya telah tercelup dalam Tarbiyah dan meyakininya tak hanya sebagai alat, melainkan metode. Maka saya tetaplah saya, namun Tarbiyah menjadi metode terapan dalam menjejak tiap langkah, dengan dijiwai Al Qur’an dan As sunnah, In Syaa Alloh.

Seorang kawan memilih keluar. Katanya, ia tak dapatkan banyak ilmu disini. Inkonsistensi jamaah makin bikin muak, nampak nafsu berkuasa menjadi jiwa anak-anak dakwah. Dia bilang, dia harus keluar. Saya menelan ludah. Ah, bagaimana kau akan tinggalkan saya begini?

Seorang lagi kawan sedang gelisah, 80% ia ingin keluar, 20% dia bilang masih ingin bertahan karena kata-kata yang saya ucapkan sebulanan silam. Saya menunggu pilihan apa yang akan dia buat, semoga tetap bertahan.

*

Pernah ada jarak antara kami, karena Tarbiyah bukan jamaah malaikat sementara saya pun hanya manusia biasa. Saat dengan pragmatis ia menerima liberalisasi pendidikan, saya berontak.Saat dengan enteng petingginya koarkan pluralisme yang menggores luka pada aqidah, saya kesal dan jengkel. Saat berbagai tindakan inkonsisten ia lakukan, saya mengecam. Saat merasa bahwa idealitas sistem ini terperdaya oleh keadaan, hati saya pedih dan miris.

Tapi selalu obat pengurai pedih jadi harap, saat lihat kawan-kawan berjuang dengan gigih, saat lihat mereka masih sempatkan Tilawah, dhuha, tahajud, dan ingatkan yang lain dalam kebaikan. Meski harap itu kadang jadi sepah saat dengan beringas mereka bergerak dan abaikan aturan serta tata sistem masyarakat. Ah, memang susah. Tapi, seperti saya bilang, selalu ada harapan.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s