Sembilan Buku, Sembilan Alasan


Hari ini, saya pergi ke Islamic fair. Mulanya memang tidak ada prioritas untuk membeli buku meskipun memang haus karena buku-buku di rak sudah tuntas dibaca dan belakangan ini hanya memuaskan diri mengulang beberapa bagian dalam buku tertentu. Hm, tapi akhirnya hari ini saya kalah (lagi). Walhasil, sembilan buku terbeli juga. Murah si, hanya 5 ribuan per buku.

Selalu ada alasan dari setiap pilihan, termasuk mengapa saya memilih sembilan buku ini, dan anehnya alasan saya membeli buku ini hampir seragam.

Buku pertama yang saya lirik berjudul Pantai Keabadian karya Rabindranath Tagore terbitan Pohon Sukma tahun 2004. Saya membeli buku ini karena nama pengarang yang sudah tak asing. Tagore adalah meraih nobel sastra pertama di dunia yang berasal dari Asia. Saya pernah membaca dua buku Tagore sebelumnya, Gie juga pernah membaca buku sastra Tagore saat ia masih SMA (jadi hitungannya saya terlambat). Oh ya, buku ini diedit dan diberi pengantar oleh Deepak Chopra. Ini akan jadi buku menarik untuk menghaluskan rasa dan mengasah kepekaan spiritual saya.

Buku kedua yang menggugah ketertarikan saya adalah buku Kara ben Nemsi karya Dr. Karl May terbitan Pradnya Paramitha tahun 1984. Alasan saya memilih buku ini adalah karena nama pengarang sempat melekat dengan masa kanak-kanak saya. Semasa SD dulu, saya sempat membaca dua karya petualangannya dalam seri benua Amerika, kalau tidak salah judulnya Ketua Suku Apache dan Rahasia Bison Putih. Nah, buku yang hari ini saya beli akan menjadi seri pertama petualangan Dr. Karl May di Asia yang saya baca. Sepertinya akan mengasyikan meskipun terjemahannya masih sangat membingungkan. Hehe

Buku ketiga yang saya beli berjudul Karakteristik dan Perilaku Tarbiyah karya Muhammad Abdul Halim Hamid terbitan Syamil Media tahun 2001. Lagi-lagi, alasan pertama saya membeli buku ini adalah karena nama pengarang yang cukup familiar di telinga, mungkin karena namanya sering menjadi referensi dalam daftar pustaka buku-buku Tarbiyah yang pernah saya baca sebelumnya. Sinopsis di sampul belakang buku ini menuliskan bahwa buku ini berisi nasihat-nasihat dalam menganalisis persoalan dengan pendekatan Tarbawi yang akurat dengan latar belakang syariat dan dakwah. Oke, bungkus, saya beli.

Buku keempat yang cukup menyita perhatian saya adalah buku yang ditulis oleh Jendral Soemitro berjudul Suksesi Militer dan Mahasiswa terbitan Pustaka Sinar Harapan tahun 1995. Alasan pertama saya membeli buku ini adalah karena Prof. Deliar Noer-lah yang memberikan kata pengantar (hehe), alasan kedua adalah karena buku ini merupakan kumpulan presentasi sang penulis sepanjang orde baru yang berkaitan dengan kemungkinan pergantian Presiden Soeharto yang berasal dari generasi 1945 kepada generasi pasca 1945 (baca Catatan Seorang Demonstran-nya Gie untuk mengenal diferensiasi ini secara sederhana deh), serta penguatan bahwa 1998 adalah tahun penting dalam perkembangan tanah air Indonesia. 3 tahun pasca terbit, celaka/untungnya (?) lahirlah orde reformasi yang membawa imbas dalam banyak sektor kehidupan hingga hari ini. Semoga menyenangkan deh membacanya.

Nah, setelah buku keempat yang cukup nendang, saya ambil dua buku lain sekaligus. Dua-duanya terbitan Balai Pustaka tahun 1980 dan 1985, kedua buku yang saya beli ini adalah cetakan keduanya. Dengan sekilas membaca saya sudah lihat subjektifitasnya pada rezim Soeharto. Buku kelima berjudul Tercapainya Konsensus Nasional 1966-1969 dirumuskan oleh enam pakar, diedit sendiri oleh Nugroho Notosusanto dan dibubuhi kata sambutan dari Presiden Republik Indonesia kala itu. Buku ini berisi latar belakang konsensus nasional guna menyepakati pelaksanaan secara murni dan konsekuen UUD 45 (yang pada akhirnya menjadi legitimasi Soeharto menjalankan rezim orde baru-nya) sekaligus langkah-langkah guna mencapainya. Latar belakangnya (sekilas saya baca), tak jauh-jauh dari narasi sejarah Pemberontakan Madiun tahun 1948 (?) dan Percobaan Kudeta G30S/PKI tahun 1965 (?).  Nah, buku selanjutnya (ke-6), adalah buku berjudul Sejarah Revolusi Nasional karya Dr. Nyoman Dekker, SH. Buku ini merupakan literatur resmi Dikti yang membahas mengenai fakta sejarah tahap revolusi fisik perjuangan kemerdekaan tahun 1945-1949. Saya belum bisa memberi komentar apapun terhadap buku ini. Semoga tidak menyesal.

Buku ke tujuh berjudul Keberanian untuk Takut (Tiga Tokoh Masyumi dalam Drama PRRI) karya Suswanta terbitan Avyrouz, Yogyakarta. Alasan pertama saya memilih buku ini adalah karena judul buku ini bagus. Ya, Keberanian untuk Takut adalah pilihan kata yang menarik dan menimbulkan tanda tanya. Apalagi kemudian buku ini membahas mengenai Masyumi yang sejarahnya kurang begitu terekspose salama ini. Buku ini menawarkan rentetan sejarah Indonesia yang cukup kabur, yakni ketika tokoh-tokoh Masyumi mengambil andil dalam Pemerintahan Revolusioner. Kedua, karena penyunting buku ini adalah Achmad Munif dan yang menulis kata pengantar adalah Buya Syafi’i Maarif.

Buku ke delapan berjudul Sumbadra Larung terbitan Balai Pustaka tahun 1987 (Cetakan pertama tahun 1977), penulisnya Sunardi D.M, saya tidak kenal. Buku ini tanpa sampul plastik, jadi saya baca saja isinya berlama-lama. Saya yang memang tertarik dengan cerita wayang langsung putuskan membeli karena buku ini menawarkan perspektif yang lebih utuh kisah Sumbadra Larung karya Pitoyo Amrih yang melibatkan pertemuan kakak beradik Gatotkaca dan Antareja. Ini buku pertama yang akan saya baca!

Terakhir, buku karya Ali Sadikin berjudul Tantangan Demokrasi terbitan Pustaka Sinar Harapan tahun 1995. Lirikan pertama saya adalah karena Mochtar Lubis-lah yang menulis kata pengantar, selanjutnya saya melihat sekilas isinya, cukup menarik rupanya. Buku ini rupanya merupakan kumpulan pikiran dan gagasan Ali Sadikin dalam diskusi panel dan seminar yang diselenggarakan di tiga universitas (UGM, UKSW, dan UII) jelang akhir orde baru.

Rata-rata alasan saya dalam memilih buku ternyata karena faktor nama, baik itu pengarang, penyunting, bahkan meski hanya pemberi kata pengantar. Ini bukan hal yang baik tentunya. Substansi selalu jauh lebih penting ketimbang cover kan? Baik itu nama maupun sampul.

Ah, tapi saya juga jadi bimbang. Bagaimana dengan kawan yang selalu sempatkan ke toko buku untuk melihat cover tiap buku terbaru, lalu setelahnya menjajal kemampuan mendesain? Masa iya sedikit sekali penghargaan yang bisa saya beri untuk mereka? Maaf.

Nah, dari alasan saya memilih sembilan buku tadi, saya tarik kesimpulan bahwa kita harus selalu memberi dan mempersembahkan yang terbaik, sebab akan selalu ada orang-orang yang hanya akan membaca tulisan, mendengar nasehat, dan menerima gagasan dari mereka yang memiliki dedikasi, dapat dipercaya, dan memiliki kualifikasi yang baik. Kiranya demikian.

*Mari membaca*Ambil Kacamata*

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s