Keberanian untuk Takut


daun_kering.jpg

Banyak orang sepakat bahwa perubahan merupakan suatu keniscayaan, tapi hanya beberapa yang menerima konsepsi tentang bagaimana perubahan itu dilakukan. Seringkali ujaran soal perubahan hanya menjadi lip sevice, pemanis bibir yang jadi jualan murahan. Dusta. Seperti lugunya kami yang beberkan aib saudara atas nama kemanusiaan, atas nama pencerdasan pada publik, atas dasar kemenangan dakwah.

Kadangkala orang senang memakan bangkai saudara sebagai camilan, memang. Tapi bagaimana bisa aku yang sok mencitrakan gambaran seorang muslim ideal malah menjadikan bangkai saudara sendiri sebagai makanan pokok?

Yang menjadi kegelisahanku selanjutnya adalah rasa bergantung kita sebagai manusia pada gadget yang luar biasa. Aku menahan diriku untuk tak mengikuti arus perkembangan teknologi, dengan tetap mempertahankan fungsi HP-ku hanya sebatas untuk mengirim sms dan melakukan panggilan. Meskipun begitu, aku masih begitu asyik dengan facebook dan blog ini. Apakah ini juga bisa disebut sikap yang dualis? Entahlah. Lalu sampai kapan?

Dua hari ini aku habiskan senja dengan membaca buku, juga membaca perasaanku sendiri. Lalu kurasa segalanya tetap sehambar biasa. Ada perasaan kalut yang tak bisa kutolak. Ia merasuk begitu saja dalam segala pemikiran, sikap, dan tindakanku. Tak ada yang bisa kuajak bicara, bagaimanapun aku sendiri tak bisa menerjemahkan apa yang tengah kurasa dalam bahasa yang sahaja.

Sudah lama aku tak menuangkan gagasanku dalam bentuk tulisan, jadi tulisan ini memang begitu terbata-bata. Ah..

Pagi tadi aku melamun di ruang kelas, memikirkan begitu banyak hal yang menjajah sadarku. Lalu dosen bahasaku memintaku mengungkapkan apa yang tengah kupikirkan. Aku tak sempat lagi berpura memikirkan hal lain selain apa yang memang tengah kupikirkan. Dengan bodoh, kuucapkan sekenanya tentang buku yang baru-baru ini tengah kubaca, kututup dengan satu statemen, “Kagumilah seseorang pada level ide, bukan tokoh. Dengarlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan.”

Lalu sembari aku mengucapkan hal itu, batinku mengejek sinis. “Mimpi!”

Beberapa senior telah meninggalkan kampus. Aku merasa begitu kehilangan. Aku ingin bertemu mereka lagi, ceritakan kegelisahan yang kurasa, berharap mereka menenangkanku dan berkata, semua akan baik-baik saja, kau bisa lakukan lebih. Tapi kebanyakan mereka telah pergi dan berubah menjadi orang lain, orang yang gagal kukenali sebagai senior yang pernah kuhormati.

Joseph yang begitu percaya diri atas segala tindakannya katakan ia sesali apa yang pernah ia lakukan. Lalu aku takut akan mengalami kisah serupa dengannya. Kawan yang sebelumnya kukira akan turut berjuang bersamaku telah lebih dulu memilih jalur profesionalnya. Aku hanya bisa doakan yang terbaik dan mendukung tujuannya. Sementara, orang-orang yang terlihat masih peduli pada apa yang kami perjuangkan, memberikan gambaran-gambaran umum yang berbeda mengenai konsepsi perubahan yang semestinya kami usung. Cenderung populis, meski tetap tak abaikan hal-hal yang sifatnya ideologis. Aku belum menemukan ritmenya, sabarlah sebentar.

Seniorku di Lembaga Dakwah Fakultas dulu sempat bertanya padaku, “Selama ini kamu memperjuangkan apa yang memang kamu yakini sebagai kebenaran, atau kamu membenarkan apa yang selama ini kamu perjuangkan?”

Kujawab, Ya. Aku memperjuangkan apa yang kuyakini sebagai kebenaran.

Di waktu yang tak jauh berbeda, seniorku di Himpunan bertanya padaku, “Kamu memilih KAMMI karena meyakini kebenaran Tarbiyah, atau karena kamu cinta mati dengan Tarbiyah?”

Kujawab, aku memilih KAMMI lebih karena tanggung jawab moralku.

Bicara soal kebenaran, sudah bertahun-tahun ya bangsa ini disibukkan dengan perang ideologi berkepanjangan? Di awal berdirinya, para founding fathers dibingungkan dengan pengambilan keputusan, apakah akan menjadikan negara ini berdasar Islam, nasionalis, atau komunis? Lucunya lagi, di dalam masing-masing ideologi itu pun terjadi pertikaian intern. Aku yakin, hanya ada dua alasan untuk itu. Pertama, arogansi. Kedua, taklid.

Baru tadi pagi aku mulai membaca buku berjudul Tjita-Tjita Perjuangan karya Abu Hanifah. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, tahun 1956. Masih menggunakan ejaan lama yang belum disempurnakan. Hal ini membuatku sedikit mengalami kesulitan saat membacanya.

Aku ingin mengutip prolog buku ini,

Ada diantara korban yang tembus dadanya, ada yang hancur kepalanya, ada yang luka perutnya, ada yang pingsan, ada yang sadar, ada yang kabur pikirannya. Tapi semuanya hampir tak bersuara, hampir-hampir tak ada yang aku dengar menangis, tak ada yang mengeluh, tak ada yang mengeluarkan keluhan. Hanya mata mereka berkata, bersedih, menangis, memohon pertolongan, menentang…

Berbaring aku di atas dipan dan memikirkan dengan mata yang berat, badan yang lesu, jiwa yang lemah, suasana perjuangan disekelilingku, perjuangan mereka yang luka-luka tadi, mereka yang masih di garis belakang, dan memikirkan pula nasib bangsaku, negaraku.

..

Apakah katamu saudara? Apakah perjuangan kita akan berhasil? Hanya Tuhan yang tahu. Tapi janganlah lekas putus asa, asal saja kita yakin bahwa kita berjuang buat keadilan dan kebenaran dengan ikhlas dan jujur, bukan buat kepentingan dan kehormatan sendiri…

Inginnya kukatakan pada diriku sendiri untuk memberanikan diri menyemai rasa takut. Takut tak lagi berjalan di atas rel yang benar, takut bahwa yang dilakukan bukanlah semata untuk Allah subhanahu wa ta’ala, takut bahwa segalanya didomplengi tendensi-tendensi murahan, takut tak lagi memperjuangkan kebenaran dan malah membenarkan apa yang kuperjuangkan karena takut dikira plinplan.

Ya Allah, Tuhan kami. Hanya Kau yang tahu bagaimanakah akhir dari perjuangan ini. Tunjukilah kami jalan yang lurus…

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s