Jelang Satu Periode


muskomTak terasa, satu periode kepengurusan KAMMI Shoyyub UNS periode 2013-2014 akan segera usai. Begitu banyak cerita yang terbingkai dalam kenangan. Seperti sebuah film pendek, kenangan itu menyajikan abstarksi gambaran di benakku, satu per satu. Dimulai saat pelantikan kami di gladak, di bawah patung Slamet Riyadi, ikrarkan dengan teguh janji untuk terus berjuang dan menegakkan dien ini.

Saat itu, sebetulnya aku masih ragu, “Sungguhkah ini jalan yang akan kupilih?”

Mataku mencari sosok kakakku di Himpunan yang juga turut hadir dalam pelantikan. Pagi sebelum pelantikan itu ia mengirim sebuah pesan pendek, “Semoga bertahan.” Satu. Dua. Tiga. Mata kami sempat bertemu sesaat, meski segera ia mengalihkan pandangan dariku.

Lalu, dimulailah hari-hari panjang di kepengurusan baru.

Sepi. Itulah gambaran dari komisariat kami, sebuah rumah kontrakkan di dekat kuburan Mojo. Warnanya hijau, di depannya berjejer bendera merah putih dan bendera KAMMI, ada beberapa tulisan yang digantung di dinding, mengguratkan semangat perjuangan dalam sepi. Menujunya, mesti diingatkan dengan aroma kematian yang menguar dari ratusan makam yang berjejer di sepanjang jalan.

Syuro-syuro kami dilaksanakan disana, pun dengan agenda diskusi dwi-pekanan yang juga sepi peminat. Tak apa. Memang sepi itu indah, nikmat, manis. Jika di tempat lain bergugurannya pengurus adalah karena faktor bosan dan lelah, bergugurannya jumlah pengurus dalam kepengurusan kami adalah cerita soal pembagian peran dan tanggung jawab lebih untuk berkontribusi. Ya, begitulah kami.

Musyawarah komisariat (Muskom) KAMMI Komisariat Shalahuddin Al Ayyubi UNS sebentar lagi akan diadakan. Semaraknya berusaha untuk dikobarkan oleh kesekjenan meski tak mendapat tanggapan yang begitu antusias dari kadernya. Obrolan-obrolan tentang bagaimana komsat akan dibawa ke depan menjadi menarik bagi beberapa kader disaat beberapa lainnya bicara soal suksesi kepemimpinan. Namun, tak jarang beberapa lagi yang lain tak tau apa itu muskom. Tak apa.

Aku pun risau, mau dibawa kemana KAMMI periode ini? Akankah sama seperti sebelumnya? Ataukah hilangkan segalanya dan mulai mengkonsepsi dari awal lagi?

Seorang kakak pernah mengutip (dan memodifikasi) kalimat Hasan Al Banna dalam Risalah Pegerakan, mengirimkannya padaku dalam sebuah email panjang saat kubilang padanya aku sudah terlibat aktif sebagai staff kaderisasi lembaga dakwah di fakultasku, dan aku mengamininya sampai hari ini.

Mulailah dari titik dimana generasi pendahulu berhenti. Janganlah memutus pencapaian yang telah diraih. Janganlah hancurkan komponen-komponen yang telah dibangun. Janganlah mendongkel pondasi yang telah diletakkan, dan janganlah memporak-porandakan apa yang telah dirakit.

Kalau kau tak menambahkan pada tingggalan para pendahulu yang baik, paling tidak kau bisa bertahan dengan produk yang telah ada dan menjaganya sekuat tenaga.

Kalau kau tidak mengikuti jejak pendahulu dengan menambah tingkat bangunan lalu melangkah ke tujuan yang diinginkan, paling tidak serahkanlah tongkat estafet perjuangan kepada yang lain. Begitu seterusnya. Sampai cita-cita dan impian dapat terwujud.

Kekhawatiran ini semakin menjadi. Aku tenggelam dalam perenungan yang panjang namun belum ada sedikit pun hal yang terlintas dalam benakku. Kupikir, akan baik kalau pada periode ini KAMMI Shoyyub UNS berfokus pada pengkaderan dan pembinaan. Misal dengan melakukan sebuah lokakarya kaderisasi demi tercapainya kaderisasi yang terintegrasi di semua bidang. Mungkin bedah IJDK bisa menjadi alternatif pilihan, karena pada dasarnya penerjemahan visi dan orientasi kaderisasi KAMMI tak akan pernah lepas dari pemenuhan IJDK itu sendiri.

Varian diskusi juga harus dirombak ulang. Bukan hanya berfokus pada apa yang kader butuhkan, tapi apa yang mereka inginkan. Untuk yang satu ini, memang aku agak konservatif. Kupikir, banyak kader yang menginginkan suplemen soal kepemimpinan kampus dengan menghadirkan tokoh-tokoh kampus yang telah besar namanya. Ini bagus. Tapi, sejatinya aku menginginkan gerakan eksternal tak terlalu berfokus ke ranah itu, lebih ingin kembali menekuni buku-buku, berdialog, berdiskusi, membentuk mind-set yang utuh sebagai bagian dari tanggung jawab intelektualnya.

Aku telah melewati perjalanan yang cukup panjang untuk menemukan orientasi perjuanganku, sesuatu yang membuatku menjadi manusia lagi, dan berada di KAMMI adalah pilihan sadar yang kubuat. Tak banyak yang bisa kuberi sejauh ini. Tapi, memperjuangkan idealisme di tengah idealisme-idealisme yang lain, berani memberikan inisiatif ditengah inisiatif-inisiatif kuat yang lain, serta menemukan jalanku bertemu dengan Tuhanku adalah sebuah keindahan yang membuatku merasakan keutuhan diri lagi.

Tapi kali ini, maukah engkau mengirimkan pesan pendek itu lagi, Kak?

Katakanlah, sekali saja..

“Semoga bertahan.”

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s