Merenungi Keharusan Universal


takdir

“Bagi aliran qadariyyah, manusia memiliki kebebasan dalam berkehendak dan berkuasa atas perbuatan-perbuatannya. Manusialah yang menciptakan perbuatannya, manusia berbuat baik buruk, patuh tidak patuh kepada Tuhan adalah atas kehendaknya sendiri. Sedangkan, bagi aliran jabariyyah, manusia tidak memiliki kebebasan dalam berbuat dan berkehendak, manusia hanya dapat berusaha, sedangkan hasilnya ditentukan oleh Tuhan.” Begitu kata Akmal Tarigan dalam menjelaskan Nilai Dasar Perjuangan HMI bab ke 5 mengenai Ikhtiar dan Takdir.

Aku sendiri termasuk orang yang percaya bahwa manusia memiliki free will dan free act. Takdir dari Tuhan bukan hanya sekedar dimaknai sebagai sesuatu yang taken for granted, meskipun tak bisa dinafikan bahwa kita tetaplah bergantung pada keharusan universal yang telah Allah tetapkan, sebab hanya Allah lah yang berkuasa, sedang kita tidak.

Ketika berbicara mengenai keharusan universal, maka amal shalih adalah mode of existence yang membentuk pribadi setiap manusia. Amal shalih inilah yang akan menjadikan manusia mengada (menjadi ada). Seperti Desacartes yang katakan, “aku berpikir maka aku ada.”, maka sebagai seorang muslim kita semestinya memiliki keyakinan serupa, “aku beramal shalih maka aku ada.”

Kepercayaan bahwa kita berkewajiban untuk berusaha akan menghasilkan utuhnya kesungguhan (jiddiyah) kita dalam melakukan amal shalih, sehingga terbentuklah etos kerja yang baik. Etos kerja ini adalah sistem nilai yang terbentuk karena keimanan kita pada keharusan universal (takdir). Keikhlasan yang insani itu tak mungkin ada tanpa kemerdekaan. Kemerdekaan dalam memilih akan menjadikan kita memiliki etos kerja yang baik. Aku percaya itu.

Refleksi

Kemarin sore, aku berniat membolos kegiatan ICES, “Cuma ujian”, begitu pikirku. Padahal, aku telah diamanahi menjadi salah satu pengelolanya. 90% aku mantap tak akan berangkat, bahkan aku sudah mengirim sms berisi ijinku untuk tak berangkat.

Tapi kemudian, teringat beberapa jam lalu seorang kawan salah mengirim pesan yang diniatkannya untuk dikirim pada adik-adik SMA yang ia bina dalam Pelajar Islam Indonesia. Di akhir smsnya,tertera kalimat yang mengoyak kesadaranku, “..Dalam berdakwah memang banyak yang harus dikorbankan. Jiwa, raga, uang, dan lainnya yang kita miliki.”

Aku terpana dalam kesyukuran yang teramat bahwa Allah swt telah menyelamatkanku dari kelalaianku menjalankan amanah. Temanku tak salah kirim, ia mengirimnya dengan tepat, pada orang yang tepat, yang benar-benar membutuhkan penyadaran.

*

Tulisan ini tak bermaksud dengan narsis menyebut sedikit hal yang kulakukan sebagai dakwah, sebagai amal shalih. Tidak, tidak begitu. Aku lebih ingin menyebutnya sebagai semacam ikhtiar (kemerdekaan manusia) yang mendorongku memanusiawikan diriku dengan melaksanakan tanggung jawab moralku, melaksanakan kewajibanku. Aku berharap, pabila tiba saatnya nanti Allah menuntut pertanggungjawabanku terhadap amanah yang telah diberikan, aku tak digolongkan sebagai mereka yang lalai dan zalim, yang menuhankan hawa nafsu, apalagi tak sadar menyembah berhala ego dalam diri.

Ya Allah, Segala puji bagi-Mu. Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s