Berbahagialah


Musim-Dingin-Perjalanan

Joseph, membaca pesan yang kau kirim padaku kemarin sore perasaanku jadi tak menentu. Aku begitu mengkhawatirkan keadaanmu. Hatimu, tepatnya. Meski kau berusaha menyibukkan diri dengan seabrek rutinitas baru, tapi luka di hatimu nyatanya belum kering betul. Ada amarah yang masih menyala disana, dendam yang membatu dan tak kunjung reda, sekaligus rasa sesal yang mencabik nuranimu.

Aku memahami betul perasaan bersalah itu, jangan pernah katakan aku tak paham apa yang kau rasa, aku pun mengalaminya Joseph. Dan setiap kali perbincangan kita di tengah malam sampai pada pembahasan itu, kita bisu, berpura keadaan telah membaik, berpura telah melewati semua sesal dan dendam yang menggerogoti nurani, berpura kita telah mampu melangkah menyambut hari baru dalam damai.

Tapi tidak Joseph. Kita belum melangkah sejengkal pun. Kita terkungkung di dalamnya, lalu mulai menipu diri, rekan, kolega, bahkan rival dan musuh abadi kita. Mengapa begini? Mengapa harus begini?

Orang lain mungkin akan bosan dengan pembahasan yang tak kunjung selesai ini, bab panjang yang belum menemui titik akhirnya. Tapi aku tahu betul bagaimana rasanya. Meski kau ingin melangkah maju, rasa bersalah dan dendam itu menahanmu langkahmu.

Aku tak tahu apa yang harus kita lakukan. Mungkin menghindar bukan pilihan baik, menutup mata pun bukanlah pilihan yang lebih baik. Tapi aku ingin kau dan aku, setidaknya, memiliki kesempatan untuk berbahagia di masa-masa yang sulit ini. Kita berhak mendapatkannya, Joseph. Semua orang berhak. Termasuk kita.

Bagi orang lain, kita mungkin tak lebih dari sekedar unit-unit yang keberadaannya secara singular tidaklah signifkan. Tapi kau tahu betul, di mataku, kebahagiaanmu pun kebahagiaanku, kepahitan yang kau rasa pun menjadi kepahitanku.

Aku ingin kau bahagia, setidaknya dua tiga tahun lagi, saat aku sampai di posisimu sekarang, masih ada pula kesempatan untukku berbahagia. Tolong, berbahagialah Joseph. Jangan lagi berpikir bahwa kau akan melukai orang yang kau cinta, kau hanya perlu mencintainya, sudah itu.

Satu tanggapan untuk “Berbahagialah

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s