Baratayuda di Negeri Kita


Wayang_Painting_of_Bharatayudha_Battle

Pasca deklarasi pencapresan Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, media mulai ramai dibanjiri pemberitaan mengenai kedua sosok tersebut. Masing-masing kader maupun simpatisan seolah memiliki energi tak terbatas guna menggali latar belakang masing-masing tokoh, dari mulai orangtua, anak, prestasi yang pernah diperoleh, hingga berderetnya kasus yang masih belum tuntas hingga saat ini.

Sebagai orang awam yang baru mulai belajar untuk melek politik, saya tak ingin banyak berasumsi macam-macam. Entah dengan memberi dukungan pada salah satu calon, maupun menistakan calon yang lainnya dengan argumen yang saya ragukan kebenarannya. Tidak, saya tak mau melakukan hal yang (menurut saya) konyol itu. Hanya saja, melihat beberapa hari belakangan beranda facebook, blog, dan twitter saya ramai, saya pun mulai gatal dengan sesekali menandai ‘suka’, meski menahan diri untuk tidak menshare, me-reblog, maupun meretweetnya. Jadi, biarlah malam ini saya turut nyampah biar tidak dikira apatis dan gagap politik (soalnya kader KAMMI). Hehe. Tapi membahas dari sudut pandang apa? Latar belakang tokoh lagi? Asumsi-asumsi lagi? Aih, baiklah, kita mulai saja omong kosong ini.

Alih-alih teori, saya malah jadi ingat akhir perang Baratayuda yang tragis. Lho? Kok bisa? Bukannya kebaikan menang atas kejahatan? Pandhawa menang! Ya, memang Pandhawa menang, akan tetapi peniadaan kurawa hingga ke akar-akarnya, nyatanya tak membawa pada kejayaan yang agung dan diidamkan. Kematian para Kurawa membuat daya hidup Pandhawa juga habis. Memang, Pandhawa berhasil menguasai Astina, tapi apa gunanya itu semua ketika  seluruh keturunan Pandhawa pun berhasil dimusnahkan (dengan perkecualian Parikesit)? Hingga pada akhirnya, Pandhawa pun harus menghadapi kematian serupa di puncak Mahameru, menyisakan Yudhistira dan anjingnya dalam perjalanan panjang menemukan hakikat.

Mungkin, dialog antara Arjuna dan Kresna di awal perang besar itu patut menjadi renungan bagi kita. Sesaat sebelum perang berkecamuk, Arjuna berkata kira-kira begini, “Mungkinkah kepemilikan suatu negara seimbang dengan korban-korban sedemikian besar?” Jika saja Kresna menyepakati perkataan Arjuna dan memilih menyarankan membatalkan pertempuran di detik-detik terakhir, (toh Pandhawa telah hidup damai di Amarta). Jika pun Kresna tetap memberikan saran yang sama untuk tetap melanjutkan pertempuran, toh Arjuna bisa menolak, dan bisa jadi kematian ratusan ribu nyawa di medan pertempuran urung terjadi, tak ada kisah tragis yang begitu memilukan ini.

Hanya saja, selama ini kita telah dicekoki dengan begitu mudahnya bahwa kebaikan akan selalu menang dari kejahatan. Dengan mudah, kita memberi label “BAIK” dan “BURUK” pada masing-masing golongan. Jika sesuai dengan selera, kita katakan BAIK, jika tidak, maka sebaliknya. Tapi, disinilah akan kita lihat uniknya Mahabharata. Kita tidak akan dengan mudahnya memberi label BAIK dan BURUK pada tokoh yang membangun cerita ini. Setiap peran memiliki kompleksitas dan ambiguitas wataknya. Kita betul-betul akan kesulitan menarik garis tegas yang memisahkan antara hitam dan putih, antara baik dan buruk. Jika pihak Kurawa melambangkan kebengisan, kejahatan, dan keangkaramurkaan, disana kita temukan tokoh Bhisma Dewabrata, Resi Durna, Prabu Salya, dan Karna. Mereka adalah para satria utama. Jika kita ingin melambangkan kebaikan, keadilan, dan kepahlawanan pada para Pandhawa, toh egoisitas mereka memilih korbankan nyawa tak berdosa untuk sebidang tanah patut pula dipertanyakan. Itu baru di level pihak yang terlibat dalam pertempuran, belum sampai pada level pribadi.

Tak ada yang meragukan watak satria Bhisma Dewabrata. Ia adalah seorang panglima yang dihormati baik oleh Kurawa maupun Pandawa. Tentu saja ia akan memihak pada kebenaran, kebaikan, dan keadilan. Lantas, mengapa ia memilih berada di pihak Kurawa? Bukankah seorang satria harus memilih yang benar, yang baik, dan yang adil? Tapi di lain pihak, ia adalah seorang satria yang wajib membela tanah airnya, Astina. Bukankah seorang satria memang harus mempertahankan setiap jengkal tanah airnya ketika orang lain ingin merebutnya? Lantas, bagaimana kita akan menghakiminya saat ia mati di tengah pertempuran oleh panah Srikandi? Surga atau Neraka? Begitu pikirmu?

Sengkuni memang terkenal culas dan licik, ia dituding sebagai pengobar perang Baratayuda. Tapi bagaimana dengan Kresna? Sosok yang kita kenal sebagai moksa Dewa Wisnu inilah yang mengipasi api agar menyala lebih ganas dan membara! Sebagai seorang satria, ia pun melakukan penipuan terhadap Durna dalam peperangan dengan mengabarkan berita bohong bahwa Aswatama, anaknya, telah mati (padahal yang mati gajah bernama Aswatama). Yudhistira memang terkenal arif dan bijak, tapi kalau bukan karena persetujuannya berjudi dengan Kurawa, Pandhawa tak akan terusir dari Astina begitu saja! Karna mungkin dianggap khianat pada saudara seibunya, tapi ia setia guna membalas budi atas kebaikan Duryudana.

Terjebak dalam moralitas murahan baik dan buruk ini akan membuat kita kehilangan kemanusiaan kita. Mungkin kau akan berkata, yang haq telah jelas, demikian pula dengan yang bathil, tapi selesaikah sampai disana? Gambaran dunia bukan hanya hitam dan putih, begitu banyak warna yang membentuk selengkung pelangi, dunia juga demikian. Judgement asal-asalan bukan hal yang bijak.

Sebagaimana Kurawa dan Pandhawa yang mencerminkan sifat khas manusia dengan ambiguitas dan ambivalensinya, demikian pula pribadi kita. Maka, sembari menonton perang di dunia maya ini, saya pun merenung dan berkaca, (mungkin kau juga berminat melakukannya), bahwa baik dan buruk bukanlah suatu hal yang dengan mudahnya dapat diputuskan kadarnya, lebih apik lagi jika kita mau mawas diri.

Tokoh yang kita kenal dalam cerita pewayangan sudah memiliki karakter khasnya masing-masing, kita tahu bijak sekaligus liciknya Durna, kita paham kejumawaan sekaligus kedewasaan Antasena dan Antareja, kita tahu watak satria Arjuna meski dia pernah pula berselingkuh dengan Dresnala. Tapi, dalam dunia nyata, watak kita tak tergambarkan sejelas itu. Apakah kita lebih dekat dengan tokoh Sengkuni ataukah Bima? Apakah kita lebih pantas disejajarkan dengan Bambang Ekalaya ataukah Prabu Salya? Jika saja kita mau jujur, barangkali dalam hati kita pun hidup ragam sosok itu, bukan hanya satu-dua, terjadi lebih dari sekedar paradoks dan ambiguitas. Kita ingin menjadi seorang pembelajar sejati macam Ekalaya, tapi apakah setelah sukses kita malah berubah menjadi Salya yang mencampakkan kawan seperguruannya? Kita mungkin akan menelusup dalam batin kita terdalam untuk menemukan hakikat, lalu setelah merasakan damai itu, apa yang akan kita pilih? Bima memutuskan kembali dan menjalani pertempuran, sementara Wisanggeni memilih hidup dalam jagad cilik bersama isterinya. Bagaimana dengan kita? Ada Baratayuda yang berkecamuk dalam tiap diri kita, meskipun dalam perang besar ini kita tak lebih keberadaannya dari prajurit maupun penonton.

Sebagai prajurit, kita akan dengan mudahnya membuat rasionalisasi atas perjuangan kita. Kulakukan ini karena yakin akan kebenaran, kulakukan ini atas dasar nasionalisme, kulakukan ini untuk cintaku. Sebagai penonton wayang, kita pun membuat rasionalisasi mengapa Kurawa harus kalah dan Pandhawa memang layak menang. Itu sah-sah saja. Sungguh, saya pun kesulitan menemukan motif saya (termasuk dalam tulisan ini), apakah ia murni merupakan refleksi dan saya berharap orang lain membaca serta memberikan pendapatnya mengenai tulisan ini, ataukah tercampur pula kebencian serta dukungan tersamar? Adakah pamrih? Seberapa besar? Hanya Tuhan yang tahu.

Tulisan ini tak bermaksud membuat pelabelan tertentu, bahwa salah satu pasangan capres adalah Kurawa, sementara yang lainnya adalah Pandhawa. Yang ingin saya katakan adalah, dalam Baratayuda, ada ratusan ribu ‘Baratayuda” yang berkecamuk dalam tiap diri lakonnya. Dalam kehidupan nyata, sudah pasti kita akan dihadapkan dengan situasi yang menuntut kita memilah dan memilih, lantas memberi keputusan. Tak jarang rasa bimbang menyergap, sebab baik buruk hilang batasnya, tercampur baur! Akan tetapi, pada akhirnya, kita lah yang akan mempertanggungjawabkan tiap keputusan yang kita ambil. 

Sebagai penutup, saya ingin mengutip perkataan salah seorang mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin, Syekh Hasan Al Hudhaibi: “Kami adalah juru dakwah, bukan hakim.” Pernyataan ini beliau sampaikan sebagai respon atas munculnya golongan takfiri di kalangan Ikhwanul Muslimin puluhan tahun silam. Semoga kita terhindar.

Ya Allah, Tuhan kami, tunjukilah kami jalan yang lurus.

9 tanggapan untuk “Baratayuda di Negeri Kita

  1. :v haha, kalo nggak perebutan harta ya wanita, atau kekuasaan, bahkan fabel tertua macam pancatantra pun kisahkan politik para binatang :p

    aih, yaa, nggak usah liat, gituan filmnya -_-

    Suka

  2. cerita klasik itu kebanyakan universal dan nilainya dalem. jadi dia bisa ditarik kemana-mana, termasuk dalam politik… hehe

    the host malah aku blm liat… 😀

    Suka

  3. wah, aku jadi inget film the host malah, yang ender ini belum pernah liat soalnya..
    sayang banget baratayuda cuma buat jadi pisau bedah capres doang, nilai2 di baratayuda lebih dalem lagi, 😀

    Disukai oleh 1 orang

  4. haha… menarik… versi pop dari Baratayudha bisa dikiaskan dengan film “Enders Game” sebuah film sci-fi dgn tokoh utama brnama Ender yg sangat jenius dan disuruh untuk membantai ‘entire’ ras asing… alasannya adalah, agar ras asing itu tak menyerang bumi sebagai tempat hidup manusia, mempertahankan diri (diatas fondasi suatu ‘kemungkinan’) kemudian bembantai habis seluruh spesies lain, dan hanya menyisakan 1 telur dr spesies itu… tapi Ender yg bijak, bersama game tikusnya (bukan anjing) justru bersimpati kepada benih spesies itu… mirip Yudhistira yg menemukan hakikat 😀

    Disukai oleh 1 orang

  5. amin.

    tapi knapa saya masih belum ngeh sama cerita – cerita wayang, apalagi sampai menceritakan yang sedalam itu hingga bisa nyambung dengan dunia politik. Mungkin karena saya tidak suka wayang dan dunia politik.

    Suka

    1. baratayuda adalah pendidikan politik dalam bentuk karya sastra/epik. nggak heran, orang jawa yang jadi penikmat karya ini punya kesadaran politik terutama dalam melihat pergerakan politisi/tokoh tertentu.. saya termasuk penikmatnya 🙂

      Disukai oleh 1 orang

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s