Membuka Kotak Ingatan


Kediaman dan perenunganku malam ini membawa suara-suara yang tak ingin kudengar, ingatan-ingatan yang pernah kubuang, dan semua cerita lama yang telah terbingkai dalam kenangan. Kupikir, segala perasaan yang hadir dalam ingatan itu akan tersimpan dalam sebuah kotak bernama ‘kotak ingatan’. Sebagai pemilik kotak, seharusnya aku berhak mengisinya dengan hal-hal yang aku sukai. Jika diibaratkan perasaan sebagai buah, aku akan mengisi kotak itu dengan stroberi, sawo, apel, ceri, dan mangga. Manis, menyegarkan, menyenangkan, kadang mungkin terasa asam, tapi tak masalah bukan?

Namun, perasaan-perasaan yang belakangan telah tertata di kotak ingatan, kuikat, dan kukunci dengan segenap kesadaranku kini jadi berantakan, amburadul, dan berbau busuk. Betapa bencinya aku pada sebuah ingatan yang menyimpanmu ada didalamnya! Dan seperti seekor serangga, kau menggerogoti perasaan manis yang tinggal disana, hingga menyisakan kau, hanya kau! Suaramu berdengung disana, kenanganku bersamamu timbul ke permukaan. Bagaimana ini?

Kemudian tiba-tiba, aku mendengar jawaban lain dari dasar hatiku, hanya saja tak berwujud kata-kata, ia lebih pada rasa, bermacam-macam rasa yang muncul tanpa bisa kukendalikan. Air mataku hampir meleleh saking sesaknya perasaan itu. Badai emosi yang melanda diri mendadak membuncah ruah. Suara angin yang keras menekan-nekan dada. Menyapu semua kotak dan sekat yang kuciptakan. Ah, betapa bencinya aku membayangkan hadirmu.

Ternyata, kotak ingatan itu adalah ruang yang kubuat untukmu sendiri dalam relungku. Bukan sebagai bentuk jawaban atas benciku pada hadirmu yang begitu tiba-tiba, ruang dalam relungku adalah keniscayaan yang serta merta tercipta sebab kau datang dan selalu datang, mengisi ruang dan waktu tempatku hidup, bergerak, dan mewujud. Kotak ingatan itu menyimpan sebentuk ‘kau’, ‘kau’ yang melayang di dalam semesta yang tanpa batas, melihat dalam diriku lewat beningnya kaca jiwa lewat matamu yang mirip cermin itu. Aku ada di depannya, memandang kedalaman perasaanku. Dan pada akhirnya, jiwamu dan jiwaku, manunggal!

[1] tulisan ini merupakan parafrase dari sebuah puisi berjudul Ingatan karya Yetti Aka, terbit di  Harian Kompas Minggu, 25 Mei 2014s

Ingatan
Yetti Aka

Betapa aku benci pada sebuah ingatan
Kupikir kalau ingatan sebuah kotak
Aku hanya ingin mengisinya saja dengan macam-macam buah;
Stroberi, sawo, apel, ceri, mangga
Tapi kau ada di dalamnya
Seperti seekor serangga
Dengan sayap berdengung-dengung

Ah, betapa bencinya aku
Membayangkan matamu yang mirip cermin itu
Aku berdiri di depannya, diam

kotak ingatan

5 tanggapan untuk “Membuka Kotak Ingatan

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s