Kumbakarna & Wibisana: Tentang Sebuah Ikhtiar Menghaluskan Rasa


Malam ini aku menonton Sendratari Ramayana di Balekambang. Langit cerah, purnama merekah, lenggak lenggok gemulai lakon Shinta di pentas nampak indah. Untuk sejenak, aku terpukau oleh suasana magis yang melingkupi sekitarku sebelum beberapa orang mulai ramai mengeluarkan smartphone/tab nya untuk mengambil gambar hingga menutupi pandanganku ke arah tempat pagelaran berlangsung. Hei, jangan singgung soal tinggi badan, please.

Sembari menonton, aku iseng menguraikan jalan cerita seperti yang sebelumnya kubaca dari kisah tragis Ramayana pada kawan sebelahku. Ia manggut-manggut saja, namun sepertinya ocehanku mengganggu fokusnya, jadi aku sadar diri dan memilih diam, ikut memperhatikan.

Memang, jika dibandingkan dengan Ramayana, aku lebih suka Mahabharata. Alasannya sederhana: kompleksitas karakter yang berperan dalam membangun kisah Mahabharata. Akan tetapi, itu bukan berarti Ramayana bebas dari ambiguitas peran serta kategorisasi lakon hitam-putih, jahat-baik, penjahat-ksatria.

Rahwana menculik Shinta, dia berdiri di sisi ‘yang bersalah’. Rama datang ke Alengka untuk menjemput kekasih yang dicintanya, Shinta, dia berdiri di sisi ‘yang terzalimi’. Tapi, apa yang dilakukan Rama setelah kembali ke negerinya pada Shinta juga merupakan bentuk kezaliman lainnya. Banyak yang tak tahu bahwa setelah Rama kembali ke negerinya, Rama meragukan kesucian Shinta, terpaksalah Shinta harus melakoni ritual untuk membuktikan kesetiaan dan kesuciannya dengan menceburkan diri ke dalam kobaran api yang menyala-nyala. Apakah setelah Shinta selamat Rama tetap meyakini kesucian dan kesetiaan Shinta? Tidak! Rama mengusirnya dalam keadaan tengah mengandung! Kezaliman apa yang lebih menyedihkan dibanding pengusiran seorang suami pada isterinya yang tengah mengandung buah hati mereka? Adakah jawaban?

Tapi, tulisan ini tak akan meributkan perkara percintaan Rama-Shinta, kalau sudah menyangkut soal cinta dan kepercayaan, itu akan jadi bahasan lain, perasaanku sedang tidak enak membahas percaya. Lha, hari ini saja terpaksa aku ingkari janji pada sahabat baikku karena ketakutan tak beralasan. Kok pedenya mau bahas soal ‘percaya’.

Nah, jadi begini. Ada dua tokoh dalam kisah Ramayana yang sedang jadi role model-ku dalam mengambil sikap, dan selama pertunjukan tadi berlangsung, aku belum juga bisa memutuskan akan memilih bersikap sebagai siapa manakala diminta untuk memilih: Kumbakarna atau Wibisana? Keduanya sama-sama adik Rahwana, keduanya sama-sama mencela tindakan penculikan Rahwana terhadap Shinta, tetapi sikap yang mereka ambil toh berlawanan. Saat Wibisana memilih bergabung bersama Rama atas nama kebenaran, Kumbakarna memilih setia mempertahankan tanah airnya, Alengka, hingga kematian yang tragis datang menjemputnya di medan pertempuran. Keduanya tercatat sebagai satria utama, akan tetapi siapa yang sejatinya mengambil sikap yang benar?

Pilihan Wibisana untuk bergabung bersama Rama bukan hanya perkara soal benar-salah. Aku membayangkan, ketidakinginan Wibisana menjadi bagian yang dieksklusi di dalam negeri karena perbedaan sikapnya dengan sang kakak pun ‘memaksanya’ turut menyeberang menjadi pendukung Rama. Pertanyaannya, apakah setelah ia hijrah dengan begitu mudah ia mendapat kepercayaan dari Rama dan pengikutnya? Menurutku, jelas tidak semudah itu. Secara politik, di pihak Rama, ia pun akan tereksklusi sebagai orang asing, sebagai alien. Barulah ia akan diterima apabila telah memberikan pengorbanan yang setimpal.

Kumbakarna sendiri tak serta merta turut andil dalam melawan penyerbuan ke Alengka. Sebelumnya, ia melarikan diri dengan bersemadi. Barulah ia mengambil sikap untuk menyerang balik pasukan Rama manakala keadaan tentara Rahwana semakin mengkhawatirkan.

Betapa sulitnya menilai benar-salah dengan tetek bengek logika menjengkelkan ini. Entahlah, aku ingin menilai semua itu dengan rasa, hanya rasa. Mengabaikan segala logika yang mungkin, juga ketajaman analisa dalam melihat kompleksitas persoalan.

Tiga pekan yang lalu, aku misuh-misuh gara-gara membaca curhatan Jean Couteau di Kompas yang menurutku terlalu subjektif dan hanya berpedoman pada olah rasa, olah intuisi, sehingga tentu saja tidak dapat dipertanggungjawabkana. Mungkin memang dimaksudkan demikian, sebab JC sendiri pun memberi judul tulisan itu Igauan “identiter” di Bandara Doha.

“Mengapa mereka yang berlalu-lalang itu semuanya merasa harus berbeda, mengikuti gaya tampilan khas warisan dari suku, agama, atau bangsanya masing-masing? Sementara mereka dan saya pun tak lebih dari tetesan air di aliran sungai besar…Apakah itu cukup sebagai tanda jati diri? Saya melihat “Babel” sekeliling saya. Jelas tidak cukup!” Tulisnya di udar rasa tersebut.

Akan tetapi, di bawah tulisan itu kok dia langsung menilai sifat orang, kemudian mengidentikkannya dengan tokoh lain, dengan hanya melihat tampilan luarnya saja, bukan tampilan luar malah, dari tiket yang ia beli!

Sayangnya, meskipun aku misuh-misuh, aku baru sadar bahwa selama ini pun aku telah melakukan dosa tak terampuni itu: menilai dengan begitu mudahnya orang-orang disekitarku hanya dari tampilan mereka, bagaimana mereka memperlakukan gadget yang mereka miliki, status facebook mereka, link-link yang mereka share. Tanpa mau menyelami lebih dalam karakter dari tiap pribadi dengan melakukan interaksi secara intens untuk menghaluskan rasaku.

Mungkin (hanya mungkin) dengan kembali merenungkan sikap yang diambil oleh Wibisana dan Kumbakarna, kita kembali belajar, bukan untuk menggurui tentang benar-salah, atau sekadar mengingatkan tentang norma-norma, pesan moralitas, apalagi sekadar pembenaran penentuan sikap, tapi untuk kembali berkaca pada diri, siapkah kita mengambil keputusan secara sadar dan bertanggungjawab?

Sekali lagi, betapa sulitnya menilai benar-salah dengan tetek bengek logika yang menjengkelkan. Betapa inginnya aku menilai semua itu dengan rasa, hanya rasa, mengabaikan segala logika yang mungkin, juga ketajaman analisa dalam melihat kompleksitas persoalan. Tapi, bijakkah?

Tanya hatimu saja.

Kumbakarna-dan-Wibisaa

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s