Antara Aku dan Karin


Setiap orang membutuhkan jaminan dalam hidupnya. Jaminan akan masa depan yang layak, kemapanan finansial, terjaminnya kesehatan dan pendidikan di hari tua, termasuk juga perkara jodoh. Maka jangan heran kalau banyak orang mencoba menjajal banyak cara untuk menemukan cinta sejati (jodoh, bisa kamu sebut begitu).

Ada yang memilih mendapatkannya lewat jalur pacaran dengan alasan: mana bisa kita menikah tanpa saling kenal dulu, itu mah namanya beli kucing dalam karung, Ada yang memilih terlibat dalam lingkaran usroh/halaqoh, demi mendapatkan jodoh dengan cara yang syar’i, atau malah menjadikan usroh/halaqoh itu sebagai sarana mendapat jodoh belaka. Aku bilang: Ada. Ada pula orang yang enggan membina hubungan dengan cara pacaran, tapi juga tak siap menjalani cara yang syar’i, makanya beberapa memilih membina hubungan tanpa status, memberi janji-janji di masa yang akan datang bahwa mereka akan hidup bersama, merencanakan banyak hal, perkara nanti terlaksana atau tidak, kan namanya juga rencana, Tuhan yang menentukan. Katanya begitu.

Tak cukup disitu. Nyatanya orang masih merasa takut apabila jalan yang akan mereka tempuh membawa mereka pada kekecewaan dan kegagalan. Maka mereka membutuhkan rencana cadangan (bahkan pemain cadangan).

Dalam permainan sepak bola, kedudukan pemain cadangan tak kalah penting dengan pemain utama, kalau pemain utama mengalami cidera di lapangan, mau tak mau pemain cadangan harus menggantikan, kondisi pemain cadangan tak boleh kalah prima dengan pemain utama.

Nah, pada akhirnya kita temukan orang-orang pesimis yang menempuh jalan aman ini. Mereka telah membina hubungan dengan seseorang, merencanakan hari-hari ke depan dengan matang dan penuh harapan, tapi di sisi lain juga membina hubungan dengan orang lain, sekedar untuk jaga-jaga bila ternyata rencana pertama dengan “pemain utama” tak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hal seperti ini tak hanya berlaku untuk orang-orang yang punya pacar, catat baik-baik. Bahkan, bagi mereka yang mengaku jomblo pun, hal ini rawan terjadi. Tak hanya memberi harapan pada satu orang, tapi menebarnya kemana-mana. Untuk alasan apa? Keamanan jodoh!

Pertanyaannya: Pantaskah?

Dua hari terakhir aku menonton Catatan Hati Seorang Istri. Ada salah satu karakter yang menarik di sinetron tersebut, Karin. Karin adalah sesosok gadis yang terobsesi sedemikian rupa pada seorang lelaki. Tanpa mempertimbangkan banyak hal, ia mengejar Bram yang jelas-jelas telah memiliki isteri. Tanpa malu, ia meminta pada isteri sah Bram untuk merelakan Bram padanya. Untuk kegigihannya, aku salut. Ia telah melakukan “perjudian” paling berani dengan merelakan segala yang ia miliki  untuk mendapatkan yang ia kasihi, dengan resiko kehilangan segalanya: kehormatan, kasih, harga diri.

Nah, akan menarik kalau aku membaca Karin dari perspektif ini. Meski selama menonton aku gemas dan misuh-misuh atas kelakuannya, toh Karin juga membuatku berkaca pada diri.

“Bisakah kamu mempertaruhkan segalanya untuk mengejar ia yang kau kasihi?” Ini bukan lagi perkara syar’i atau tidak, islami atau tidak, beretika atau tidak. Ini hanya pertanyaan sederhana untuk refleksi kritis pada diri.

Seorang teman bercerita padaku, sebelum ia berpacaran dengan A (pacarnya yang sekarang), sebetulnya ia sedang menjalin hubungan dengan Z (pacarnya yang dulu). Ia juga tahu, A sudah menjalin hubungan dengan orang lain saat mereka mulai menjalin komuikasi yang intens. Akhirnya, temanku dan A memilih untuk berpisah dengan pasangan masing-masing dan menjalin hubungan baru. Ini bukan “perjudian” seperti yang kukatakan di awal tadi, sebab kalau toh temanku dan A gagal menjalin hubungan, masing-masing dari mereka sudah memiliki pasangan. Kalau toh ketahuan, toh mereka pada akhirnya tetap bisa bersama. Ini tak terlalu beresiko.

Ah, tapi memang perkara tak selesai sesederhana itu bukan? Gara-gara menonton sinetron ini, aku jadi ingin curhat dengan Karin atas pertanyaan yang sering mengusik pikiranku. Ini pertanyaan dari sahabat baikku Karin, ngomong-ngomong, dia sangat mirip denganmu.

“Alikta, saat ini aku tengah terobsesi pada seorang pria. Perjumpaan pertama kami terjadi setahun lalu, perjumpaan kedua kami terjadi awal Mei lalu, dan terakhir satu pekan lalu. Perjumpaan itu selalu tanpa kata dan tanpa isyarat. Ia tak mengenalku sama sekali, tapi aku begitu mengenalnya seperti aku mengenal seluruh duniaku. Mungkin, aku yang terlalu naif, anggap ini cinta sejati, yakini sepenuhnya ia jodohku. Aku tahu ia sangat mencintai orang lain, aku tahu dia telah menjalin hubungan dengannya lebih dari seluruh waktu yang telah kuhabiskan untuk mengenalnya. Lalu, saat ia mulai memberiku kesempatan menjadi “pemain cadangan”? Bisakah aku mengabaikan segala bentuk etika dan tetek bengek syar’i lainnya untuk mendekat padanya?”

Aku bilang padanya: Tidak. Ada jalan syar’i yang bisa kau tempuh.

Ia bilang, “Syar’i macam apa lagi Al. Aku sudah lihat dengan mata kepalaku sendiri kemunafikan yang terjadi di dalam barisan ini. Apa-apa modus, nggak ikhwan, nggak akhwat, modus semua. Jangan bahas lagi soal dakwah, mereka taunya cuma nikah dan nikah!”

“Memangnya, kamu rela jadi pemain cadangan?” Tanyaku kembali.

“Haha. Kamu ini polos atau naif si Al? Memang kamu pikir hanya cowok macam dia saja yang mencari pemain cadangan? Ikhwan-ikhwan di kampus juga sama, hanya bahasanya saja yang beda. Lebih santun dan islami. Tapi hanya karena bahasa yang dipakai beda, apa itu membuat maksud yang terkandung di dalamnya jadi lain?”

“Lantas, apa yang kamu inginkan? Mempertaruhkan segalanya untuk mengejar lelaki yang bahkan baru ‘melihatmu’ beberapa hari ini? Menghancurkan hubungan yang telah mereka bina untuk menuntaskan nafsumu saja? Kamu akan kalah dalam perjudian ini, percayalah padaku.”

Ia tak menjawab. Diam.

Aku juga.

Kami membisu, menyelam ke dalam palung pikiran masing-masing.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s