(Kembali) Membuka Kotak Ingatan


“Akhirnya..” Hanya itu kata yang mampu kuucapkan setelah seharian ini aku berkutat dengan kotak ingatan dalam hidupku. Hanya saja kotak ingatan ini tak lagi bermakna konotatif, kotak ingatan ini adalah sebenar-benarnya saksi bisu perjalanan usia yang telah kutempuh selama 21 tahun.

17 Ramadhan ini aku memperingati hari lahirku yang ke 21 (20 tahun lebih 5 bulan jika dihitung menggunakan kalender masehi). Dan kata “akhirnya” itu benar-benar terucap setelah pada akhirnya aku bisa menyingkirkan benda-benda yang jadi saksi dalam masa aku menjalani 21 tahun usiaku ini.

Benda-benda yang sebelumnya terlihat berharga dan begitu sayang untuk dibuang, hari ini kulepas dengan rasa berat yang menekan-nekan dada. Ada buku-buku sekolah selama 15 tahun terakhir, kumpulan buku harian yang mulai kutulis sejak kelas 3 Madrasah, baju, tas, sepatu, boneka, serta barang-barang berharga lain yang menyimpan sejarahnya sendiri.

Sedari awal, ibuku sudah ngomel dan menyuruhku membuang barang-barang yang menurutnya sampah ini, tapi aku ngeyel dengan alasan irrasional: “Nggak bisa, barang-barang ini menyimpan kenangannya masing-masing.”

Tapi, pada akhirnya aku harus mengalah. Rumahku terlalu kecil untuk sekedar menampung kenanganku. Aku punya tiga orang adik yang juga sedang menata hari dan membuat kenangannya disini. Dan aku, sebagai si sulung, punya kewajiban memberi ruang yang juga merupakan hak mereka.

Awalnya aku memilah dengan hati-hati. LKS Biologi ini jangan dibuang, ada puisi iseng yang pernah kutulis di kelas jaman SMA dulu. Em, buku rumus praktis fisika ini juga jangan, aku belinya bareng teman-teman baikku. Mm, meskipun buluknya minta ampun, tas ini tas pertama yang aku beli dengan uangku sendiri. Aduuhh, boneka Si Komo ini udah aku punya sejak jaman aku bayi, sudah pernah aku operasi waktu main dokter-dokteran. Jaanggaaan, plis jangan dibuang dong!

Sejurus kemudian aku tersenyum kecut menyadari betapa benar aku terikat pada hal-hal fana ini. Menggelikan sekali bukan? Apakah semua kenangan harus selalu berwujud benda-benda materiil belaka? Apakah tak cukup bila aku hanya menyimpannya dalam ingatan? Bukankah itu lebih indah dan bermakna? Seperti aku yang enggan mengabadikan setiap momentum menggunakan lensa kamera, maka seperti itu jugalah aku memperlakukan semua kenangan yang telah terlewati, membiarkannya hanya tersimpan dalam ingatanku, memanggilnya kembali bila ku ingin.

Aku mungkin akan kehilangan benda-benda bersejarah itu, akan tetapi kenangannya masih ada dalam ingatan. Kamu juga kan? Meski jarak kita jauh, hati kita selalu dekat. *Apasih* Hehee

 my-birthday

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s