Tulisan Iseng Pagi-Pagi


Seperti tahun-tahun sebelumnya, ramadhan ini kami sekeluarga menjalankan sholat Tarawih di tempat yang berbeda. Nenek dan kedua adikku mengikuti sholat berjamaah di masjid yang ada di sebelah selatan, Kakek dan sepupuku mengikuti sholat berjamaah di masjid sebelah utara, sementara aku bersama warga persyarikatan Muhammadiyyah menjalankan ibadah sholat Isya dan Tarawih berjama’ah di mushola yang berada di rumah Bu Pur, guruku saat aku masih menjadi siswa BA Aisiyah dulu. Pun, demikian saat lebaran. Aku merasa agak anomali karena senantiasa mengikuti sholat id di tanah lapang, sementara keluargaku di masjid. Mereka tidak pernah mempermasalahkannya, setidaknya selama beberapa tahun terakhir ini.

Aneh, untuk urusan peribadatan kami mesti berbeda. Sementara, soal kuliah kami tidak punya perbedaan yang terlalu mencolok. Saat ini aku menempuh studi di Pendidikan Guru Sekolah Dasar UNS dan Ilmu Komunikasi UT. Adikku akan memulai tahun pertamanya di Pendidikan IPS UNY. Ibuku baru saja akan memulai magister Pendidikan Bahasa Indonesia-nya di UMP. Sering aku berpikir, ketidakkreatifan ini harus segera dibabat habis sampai ke akar-akarnya. Keluarga yang aneh, aneh.

Tahun ini, persyarikatan Muhammadiyyah di desaku menyelenggarakan i’tikaf di mushola sepanjang sepuluh hari terakhir. Aku berniat mengikutinya, mungkin beberapa hari jelang lebaran, dua atau tiga hari sebelumnya. Oh iya, baru nanti sore aku akan mengikuti i’tikaf di Masjid Fatimatuzzahro, Insya Alloh. Mau bagaimana lagi, hari-hari sebelumnya aku libur.

Semalam, pengajian kami membahas tentang fitnah. Diawali dari dibacakannya sebuah hadist Riwayat Muslim: Bila seseorang selesai membaca tashahhud (akhir), hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah empat perkara, yaitu: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah dajjal’. Selanjutnya, kita diperkenankan untuk berdoa berkaitan dengan hal-hal yang sesuai dengan keinginan kita.

Secara bijak, eyang Suheri juga membahas tentang bahaya fitnah seperti yang terjadi saat G30-S terjadi berpuluh tahun silam, juga bagaimana menghadapi fitnah hidup yang beliau sarikan dari pemikiran HAMKA.

Semalam, Eyang Suheri melontarkan celetukan yang menggelitik di sela ceramahnya. Beliau membahasakan masjid sebagai tempat bersujud.

Aku jadi merenung sejenak sepanjang perjalanan pulang. Kalau kita pahami, masjid memang memiliki makna harfiah dan filosofis. Secara harfiah, bisa kita artikan bahwa masjid adalah bangunan dimana orang Islam menjalankan ibadah (sholat) didalamnya. Namun, secara filosofis, masjid adalah tempat orang-orang bersujud/menyembah kepada Alloh swt. Artinya, setiap tempat di muka bumi ini kecuali tempat-tempat yang bernajis dan makam adalah Masjid (tempat kita untuk bersujud). Artinya, jangan sampai kita bermegahan dalam menghias bangunan fisiknya, namun melupakan makna yang lebih mendalam: bersujud, berpasrah diri secara total di hadapan Alloh swt.

Sampai sini dulu, aku sedang iseng menulis saja. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. 🙂

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s