Cukupkah Satu Saja? (Tanggapan atas tulisan Hasan Fahrur Rozi: Cukup Satu Saja!)


Kembalikan pikiranmu untuk rakyat!” adalah akhir dari rangkaian gagasan yang Hasan sampaikan dalam tulisannya berjudul Cukup Satu Saja! beberapa waktu silam. Dalam tulisan tersebut, Hasan memaparkan (dan jelas mengarahkan para pembacanya) untuk kembali melakukan refleksi panjang dalam menilai sebuah kepemimpinan.

Titik tekan yang ia ambil adalah bahwa dalam memutuskan suatu perkara, landasan dalam mengambil sikap itu lah yang perlu dipertimbangkan dengan matang, terlebih bagi seorang pemimpin yang keputusannya menyangkut hal-hal strategis yang berdampak bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, seorang pemimpin haruslah memiliki wawasan dan pengalaman yang memadai serta kemerdekaan pikir guna mengerahkan segenap daya dan upaya yang dimilikinya demi kesejahteraan rakyat.

Saya sepakat dengan apa yang Hasan sampaikan. Nalar seorang negarawan mestinya memang dilandasi kemerdekaan dalam pikiran, sikap, dan tindakan. Buah gagasannya terlepas dari intervensi meskipun tidak bebas seenaknya sendiri. Hal ini tentu saja telah tergambar jelas dalam Kredo Gerakan KAMMI yang sejatinya telah merangkum bagaimana independensi kader semestinya diterapkan: Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkehendak merdeka. Tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak. Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan.

Akan tetapi, jika yang kita bicarakan adalah kepemipinan, satu kriteria saja jelas tidak cukup. Kalau bicara soal kriteria, maka kita akan dihadapkan pada begitu banyak faktor yang saling terkait satu sama lain, kesemuanya membentuk rangkaian sebab-akibat yang tak bisa diputus seenaknya. Orang yang memiliki kemerdekaan pikir tentulah harus memiliki wawasan yang luas, orang yang memiliki wawasan luas haruslah bersikap jujur, kejujuran pun perlu dilandasi keberanian dan kemauan untuk berkorban, demikian seterusnya.

Saya meyakini bahwa seorang pemimpin sejati bukanlah dia yang ditetapkan oleh suara mayoritas, bukan ia yang tampil menawan karena kuasa modal yang dimiliki, terlebih diangkat hanya karena popularitas. Tanpa iman yang teguh, kewibawaan pemimpin hanya akan jadi bahan olok-olok. Pemimpin ada, bukan hanya untuk melayani, tetapi juga memberikan pengaruh. Bukan hanya mau mendengar keluhan, tapi juga berpikir keras untuk menyelesaikan persoalan. Bukan sekedar beretorika, tapi memberi bukti nyata yang bisa dirasa.

Bagi saya pribadi, kapasitas pemimpin terletak pada kemampuannya membedakan antara yang haq dan yang batil. Hal ini tercermin pada sikapnya yang adil dalam mengambil setiap keputusan. Tak semua yang terlihat lemah pantas dilindungi dengan keberpihakan mutlak, dan tak semua yang terlihat garang layak untuk disalahkan secara membabi buta.

Konstelasi politik di negeri ini patut menjadi pelajaran. Keadilan melompat jauh menembus segala batas yang nampak di permukaan. Menembus batas-batas itu dengan mengenyahkan segala keegoisan dan kehendak untuk mapan dengan kondisi sosial adalah sebuah keniscayaan bagi aktifis pergerakan. Sebab, seorang aktifis adalah ia yang tumbuh dalam keyakinan, keberanian, dan kehendak kuat untuk bersikap idealis, serta bersedia mendarmabaktikan hidupnya demi kepentingan umat yang jauh lebih besar. Pertanyaannya: Sanggupkah kita?

Billahi Fii Sabilil haq Fastabiqul Khairat.

ditulis oleh: Alikta Hasnah Safitri, Sekretaris Bidang Medkominfo KAMMI Shoyyub UNS 2014

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s