Dunia dalam Genggaman?


Beberapa waktu belakangan saya mulai berpikir tentang urgensi media sosial dewasa ini. Agaknya, jika saya katakan bahwa media sosial membawa dampak besar bagi dunia pergerakan mahasiswa beberapa tahun lalu, itu masih relevan. Tapi, jika saya katakan hal itu sekarang (detik ini tepatnya), apakah hal tersebut masih cukup relevan? Jujur, saya meragukannya.

Ragam variasi aplikasi media sosial untuk para sosialita nyatanya membawa dampak berbeda bagi penyebarluasan informasi dengan beragam berita sekaligus kepentingan yang menyertainya. Pemilihan Umum yang baru saja dilangsungkan beberapa waktu sebelumnya menjadi bukti bahwa media sosial tak hanya menjadi wahana untuk mengaktualisasikan diri, akan tetapi menjadi timbunan sampah berita yang tak ada habisnya, menyebar bau busuk dan anyir yang bisa tercium dimana pun kita berada. Yap, sampah itu masuk dalam saku celana maupun bawah bantal kita. Menemani kita kemanapun menghadap. Merasakan hal serupa? Bagi beberapa orang, keengganan membuka portal sampah dan postingan sampah pun merebak, lantas mereka beruzlah, mencari ketenangan batin di bulan yang penuh berkah. Ya, ada yang begitu.

Nah, beberapa lainnya yang mulai bosan dengan aplikasi media sosial macam facebook dan twitter kini mulai beralih (tanpa meninggalkan) pada aplikasi WA, BBM, Line, dan lain-lain. Meskipun kegunaan dan fungsi masing-masing nyatanya tak jauh berbeda, nyatanya tak menyurutkan antusiasme mereka menikmati instannya teknologi dengan beragam keajaibannya ini.

Sempat saya berpikir tren “Dunia dalam genggaman” ini hanya fenomena singkat yang tak lama lagi akan berakhir. Pada akhirnya, orang mulai bosan dan enggan asyik sibuk dengan gadget yang dimilikinya, lantas mereka mencoba berbaur dengan orang-orang di dunia nyata, sama antusiasnya ketika mereka mulai mengupdate aktifitas di Path maupun mengunggah foto di instagram. Nyatanya, sampai saat ini hal itu belum dapat terealisasi. Begitu orang mulai jenuh dengan satu aplikasi, maka akan selalu ada pembaruan dan seabrek hal-hal menyenangkan lainnya.

Saat ini saya dipercaya menjadi sekretaris bidang media, komunikasi, dan informasi (Medkominfo) KAMMI Komisariat Sholahuddin Al Ayyubi UNS. Beberapa pekan terakhir saya memegang akun web http://kammiuns.org. Ada hal unik yang membuat batin saya melengos. Salah satu tulisan di web tersebut mendapat ratusan tanda “like” dari akun facebook, akan tetapi ketika saya buka jumlah pengunjung web, ternyata tak lebih dari 35 orang yang membuka halaman tersebut. Artinya, orang hanya mengklik “like”, tanpa pernah membaca isi tulisan yang ia sukai tersebut.

Sama halnya ketika momen kebersamaan kita bersama sahabat diabadikan melalui lensa kamera dan diunggah ke jejaring sosial, potret siapakah yang menjadi fokus utama perhatian kita? Siapa lagi kalau bukan foto diri kita sendiri? Keegoisan itu perlahan tumbuh dalam kepala kita. Merasa penting. Merasa hebat. Merasa wow. Merasa perhatian dunia tertuju pada kita. Lantas, kita menjadi terlalu sibuk dengan diri kita sendiri, berpikir panjang membuat status yang menggambarkan pribadi ideal, mengunggah foto dengan editan maksimal, bersikap sok manis dengan orang yang bahkan tak pernah kita kenal sebelumnya. Eniwei, ini pengalaman pribadi.

Lebih ironis lagi adalah apa yang adik saya katakan ketika saya mengajaknya ngobrol tentang kegelisahan saya ini beberapa menit lalu: “Jangan-jangan gerakan mahasiswa adalah penyumbang kontribusi terbesar untuk lahirnya generasi instan di Indonesia.” Hal ini berdasarkan fakta bahwa di universitasnya, para peserta ospek (termasuk dirinya) kebanyakan bertanya ini-itu terkait ospek di twitter, padahal menurutnya, semua info berkaitan dengan ospek telah tersedia lengkap di website universitas yang bersangkutan. “Lucunya, admin akun twitternya juga tetep nanggepin si.”

Statemen adik saya ini tidak membantu sama sekali. Sumpah, saya betul-betul gelisah. Ramadhan lalu ketika saya menjadi peserta i’tikaf di Masjid Fatimatuzzahra, dimana selama beberapa hari saya tidak pulang dan (jelas) tidak membawa laptop untuk mengupdate berita ini-itu, seorang senior berkata: “Dek, kamu asik banget ya di rumah sampe lupa amanah. Kalo emang lagi males, minimal menfaatkanlah sepuluh hari terakhirmu untuk ibadah.” Baca sms itu perasaan saya langsung lesu.

Yaelah, apa kalau saya beribadah saya harus laporan? Apa kalau saya berinfak dan shadaqah juga harus mengupdate status? Masa iya lima kali sehari saya harus update bagaimana saya menjalankan ibadah?  Akhirnya, sepulang i’tikaf itu saya membuat status (dengan perasaan riya, sepertinya), lalu saya hide dari timeline, berniat saya hapus tapi malu karena sudah dikomentari beberapa kawan baik. Tuh, kan, malah nambah-nambah dosa aja!

Nah, persoalannya lain kalau saya bicara atas nama lembaga. Dimanakah posisi web KAMMI dalam dunia maya yang tak berbatas ini? Konten apa yang pembaca harapkan dari web tersebut? Saat para kader pun mulai beralih menggunakan WA, BBM, dan lain-lain, tidakkah KAMMI merasa cukup baginya memiliki smartphone pribadi untuk menjadikan dunia dalam genggaman? Toh, fungsi yang diemban masih sama?

Lebih jauh lagi, bagaimana langkah yang akan diambil gerakan mahasiswa dewasa ini dalam memanfaatkan media sosial? Apakah media sosial saat ini masih layak dipertahankan dengan fungsi standarnya guna menyampaikan informasi, tempat bertukar pikiran/gagasan/diskusi, ataukah hanya menjadi ajang narsis agar ngeksis bagi para kader (tuh kan, saya curhat lagi)?

sumber gambar: muhayat.net

Satu tanggapan untuk “Dunia dalam Genggaman?

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s