Sekolahnya Manusia, Renungan bagi Calon Guru


Kembali ke Solo, kembali menyegarkan otak dengan perbincangan menarik bersama kawan-kawan yang menyenangkan. Tanpa ber ba-bi-bu lagi, segera saja kulontarkan betapa ruwetnya pikiranku belakangan ini mengamati kacaunya dunia pendidikan dewasa ini, harapan baru dari munculnya kurikulum baru, juga segarnya kembali pendidikan Indonesia sebab maraknya sekolah-sekolah Islam Terpadu dengan segala kontroversi yang menyertainya saat sarapan pagi bersama sahabatku, Atin.

Ngalor ngidul sudah kami bicara panjang lebar, dan beberapa menit setelah aku kembali ke kamar, ia memanggilku dan memberiku dua buku karya Munif Chatib: “Sekolahnya Manusia” dan “Gurunya   Manusia”. Sebetulnya, aku sudah beberapa kali berniat membacanya, namun urung kulakukan karena beberapa kesibukan, juga karena ada beberapa buku lain yang sedang berniat kurampungkan. Akhirnya,  selama tiga hari ini aku asyik masyuk membaca buku pertama Munif Chatib yang melejitkan namanya di dunia pendidikan Indonesia, yakni: Sekolahnya Manusia.

Sekolahnya Manusia-Munif Chatib

Aku mengamini apa yang dijabarkan Munif terkait beberapa permasalahan krusial pada pendidikan Indonesia hari ini, dimana sekolah yang kita sebut unggul akan senantiasa menargetkan input siswa baru yang “berkualitas” dengan mengadakan tes seleksi masuk, sehingga hanya mereka yang berada di peringkat atas saja yang berhak menikmati pendidikan “berkualitas”. Padahal, sekolah unggul bukanlah sekolah yang menitikberatkan pada the best input, tapi the best process, sehingga menghasilkan output yang berkualitas, bagaimanapun inputnya.

Permasalahan yang tak kalah pentingnya adalah rendahnya kualitas guru yang mengajar dengan kreativitas yang baru dan menarik. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan banyak hal mendasar, diantaranya adalah bagaimana efektivitas kurikulum pada LPTK serta ragam pelatihan yang mestinya diselenggarakan secara berkala oleh dinas pendidikan terkait. Ketika LPTK maupun Dinas Pendidikan enggan berupaya memperbaiki kualitas tenaga pendidik, wajar saja jika penyakit Disteachia (yang dikemukakan Thomas Amstrong, Ph.D) menjangkiti guru-guru kita. Menurut Amstrong, penyakit Disteachia (salah mengajar) mengandung tiga virus T, yaitu Teacher Talking Time, Task Analysis, dan Tracking.

Teacher Talking Time adalah kecenderungan mengajar guru mengajar menggunakan metode ceramah. Guru berasusmsi bahwa ketika ia mengajar, maka murid akan belajar. Padahal, kedua hal tersebut merupakan hal yang berbeda. Bisa jadi siswa yang bosan akan tertidur pulas selama pelajaran dan baru terbangun ketika guru diam setelah berbusa menyampaikan materi. See? Kedua, Task Analysis. Artinya, guru selalu membawa logika induksi-deduksi secara tidak proporsional saat ia mengajar. Siswa tidak dibawa untuk memahami global analysis lebih dahulu, sehingga mereka tidak mengerti benefiditas materi yang akan dipelajari. Terakhir, Tracking. Tracking adalah pengelompokan siswa ke dalam kelas berdasar kemampuan kognitifnya, sehingga outputnya adalah labelisasi siswa menjadi “siswa pintar” dan “siswa bodoh”.  Lebih lanjut, ia menawarkan konsep MI, yang dirasanya tepat untuk mengatasi ragam virus ini.

Pada dasarnya, dalam buku ini ia ingin menawarkan kembali sebuah alat riset yang pertama ditemukan oleh Dr. Howard Gardner dalam bukunya yang berjudul Frame of Mind bernama MI (Multiple Intellegences). MI meletakkan paradigma dasarnya pada tiga hal, yaitu: 1) Kecerdasan tidak dibatasi tes formal; 2) Kecerdasan itu multidimensi;  3) Kecerdasan merupakan proses discovering ability (menemukan kemampuan seseorang), artinya kondisi lingkungan seseorang harus kondusif dengan kecenderungan kecerdasan yang dimilikinya agar orang tersebut cepat menemukan kondisi akhir terbaiknya (kecerdasannya).

Persis dengan quantum learning, cara siswa belajar  adalah cara guru mengajar. Metode ini disesuaikan dengan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki seorang siswa. Oleh Gardner dikelompokkan menjadi sembilan kecerdasan (dan mungkin akan terus berkembang), yakni: Naturalis, Intrapersonal, musik, linguistik, interpersonal, spasial-visual, kinestestis, dan matematis-logis.

Catatan penting yang aku garis bawahi setelah membaca buku ini adalah betapa sulitnya menjadi  guru. Menjadi pembelajar sepanjang zaman, yang bersedia untuk tak henti belajar, berkaca dan menilai kurang diri setiap harinya. Ah, aku jadi cemas dan gelisah: Siapkah aku?

*ditulis dengan perjuangan ekstra karena bersin, buang ingus, dan batuk di setiap menitnya

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s