Tentang Legenda Pribadi


“Bahasa kita tidak cukup untuk mengatakan kebenaran. Bahasa kita terlalu miskin untuk menyatakan kebenaran.”

Saat aku masih kecil, duniaku tak berbatas. Aku mengembara ke sudut-sudut asing di dunia yang tak kukenali. Disana, ada cerita tentang seorang gadis yang selalu mendapat perlakuan kejam dari ibu dan kedua saudara tirinya, ada pangeran yang mencari pendamping hidup, ada pemuda yang berpetualang menjelajah belantara untuk menemukan harta karun yang terpendam, ada kisah cinta si cantik dan si buruk rupa, ada gadis kecil yang tersesat di negeri ajaib. Ada banyak cerita.

Fantasi itu kembali dalam sentuhan yang berbeda saat kini aku mengenal dunia yang semakin luas. Dunia imaji yang tanpa batas itu mendadak semakin jauh karena semakin banyak batas yang membelenggu.

Beberapa hari belakangan, Alice datang. Ia mengajakku berkelana dalam belantara liar untuk mengenali labirin jiwaku sendiri. Ada batas tak kasat mata antara alam yang kujelajah dengan dunia yang tengah kutinggali. Sekat ini adalah wilayah yang tak dapat kujelaskan. Aku dapat merasakan saat menembus sekatnya, namun nuansanya melesat begitu saja, berubah bentuk, dan bila aku mencoba mengingatnya, aku hilang, dan kembali pada dunia yang tengah kutinggali.

Kata Jung, wilayah batin yang tak dapat dijelaskan ini adalah tempat dimana aspek psikologis dan biologis berbaur dan mempengaruhi satu sama lain. Memasukinya membutuhkan persiapan yang matang, sebab bila ia tergoda dan tenggelam dalam pesonanya yang memikat, ia akan kembali ke dunia nyata dalam keadaan yang tak utuh.

“Ia sedang bermimpi sekarang,” Kata Tweedledee, “dan apa yang sedang ia impikan menurutmu?”

Alice berkata, “Tak ada seorang pun yang dapat menerkanya!”

“Tentu saja tentang kamu!” Seru Tweedledee sambil bertepuk tangan penuh kemenangan, “Bila ia berhenti bermimpi tentang dirimu, dimana ia akan berada?”

“Di tempatku sekarang tentunya.” Kata Alice.

“Bukan!” Tweedledee menjawab dengan pedas, “Kau tidak berada dimana pun. Tentu saja kau hanya sebuah objek dalam mimpinya!”

“Bila raja itu terbangun,” Tambah Tweedledum, “Bum! Kau akan langsung lenyap seperti sebatang lilin!”

Bum! Apakah orang lain juga memimpikanku saat aku tengah memimpikan mereka? Apakah saat aku menguasai mimpiku sendiri dan berusaha mengendalikannya sesuai kemauanku, segera saja aku akan bangun dan objek yang membangun mimpiku pun akan lenyap?

Ingatkah kau pada impian-impian liar yang pernah kau bangun dalam kawah imajimu? Hatimu bermimpi, nalarmu bermimpi, seluruh jiwa ragamu bergairah oleh mimpi itu. Kau merasakan ketidakcukupan yang teramat meski tengah berada di atas kasur yang empuk dan nyaman. Liarnya mimpimu, meski dibungkam, tak kan pernah bisa diam!

Kau bayangkan dirimu seorang penjelajah angkasa yang berajalan meniti tangga cahaya. Di atas sana kau lihat lintang kemukus melesat, lidahnya memanjang menyemburkan cokelat lezat yang berusaha kau raih dengan tangan mungilmu. Disisi yang lain, kau lihat jutaan bintang membentuk lintasan cahaya, bak susu yang memadat dalam kilauan. Kau melompat sekuat tenaga. Dan Happ! Kue bulan yang terbuat dari susu galaksi dan cokelat lintang kemukus ada di tanganmu!

Ingatkah kau pada mimpi itu?

Bidang itu lahir dari kekuatan alami yang berasal dari dasar samudera hati yang tak henti bergemuruh, mengusik tenangmu untuk kembali bermimpi dan mewujudkan legenda pribadimu. Energi dari kekuatan mimpi tak terbantah ini membuat pancaran matamu hidup, bagai kejora yang berpijar di ufuk langit.

Katakan padaku kau ingat.

“Takdir adalah apa yang selalu ingin kaucapai. Semua orang ketika masih muda tahu takdir mereka. Pada titik itu segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup. Tetapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan mimpi itu. Daya ini adalah kekuatan yang kelihatannya negatif, tapi sebenarnya menunjukkan pada kita cara mewujudkan takdir kita. Daya ini mempersiapkan jiwa dan menguji kesungguhan keinginan kita, sebab ada suatu kebenaran mahabesar dalam dunia ini, siapapun dirimu, apapun yang kamu lakukan, jika engkau bersungguh sungguh menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tersebut bersumber dari jiwa jagat raya. Itulah misimu di dunia ini.” Demikian kata Paulo Coelho.

*

Belasan tahun lalu, aku dan kamu masih sama-sama menjadi anak kecil, namun  aku yakin, tidak dengan jiwa kita. Kita adalah manusia bebas merdeka yang tak kenal rasa takut, bukan begitu? Namun entah sejak kapan waktu  membawa  sepaket penghapus raksasa bernama rasionalitas yang menggusur keberanian dan kebebasan kanak-kanak yang menyenangkan.

Rasionalitas itu membawa kita menjadi ‘orang dewasa menyebalkan’ yang menghabiskan waktu menjadi penghitung probabilitas, kemungkinan-kemungkinan!

“Puss Cheshire, dapatkah kau membantuku menunjukkan jalan untuk keluar dari sini?” Tanya Alice.

“Tergantung ke mana kau mau pergi,” Jawab si Kucing.

“Aku tidak terlalu peduli kemana.” Kata Alice.

“Jika demikian, tidak masalah kemanapun kau pergi.” Kata si Kucing.

“…selama aku tiba di mana saja.” Alice menambahkan.

“Oh, kau pasti bisa melakukannya,” Kata si Kucing, “bila kau berjalan cukup jauh.”

Bagaimana bila kau menjadi Alice? Apakah kau mau berjalan cukup jauh untuk tujuan yang hampir tak pasti? Dunia yang dulu merupakan kawan akrab kita, berubah menjadi musuh mengerikan yang bisa menjerumuskan kita dalam jeratnya yang paling rumit. Lalu kita takut dan mulai mengambil jarak terhadap dunia dan seisinya.

Ada saatnya, kita tak berdaya, impian-impian yang terbungkus rasionalitas itu pecah berantakan. Namun selalu ada kekuatan misterius yang berupaya dengan berbagai cara berusaha membebaskan kita dari balik tembok dan jeruji yang memenjarakan. Ia menggerakkan kita menyelami bening hati kita, menimba ketenangan yang menyejukkan, hingga cahaya gemintang akan kembali bersinar di mata kita, memancarkan keberanian yang tak lekang oleh waktu dan rasionalitas.

“Untuk menemukan harta karun itu, kau harus mengikuti pertanda pertanda yang diberikan. Tuhan telah menyiapkan jalan yang mesti dilalui masing masing orang. Kau tinggal membaca pertanda-pertanda yang ditinggalkan-Nya untukmu.” Demikian kata Paulo Coelho.

Pertanda itu adalah simbol kuno universal, memuat pengalaman manusia sedunia dari jaman silam hingga sekarang, diwariskan secara turun temurun, dan terhayati dari generasi ke generasi.

Aku belum bisa memahami bahasa universal, sehingga pasti juga belum memahami pertanda. Akan tetapi cukuplah bagiku, pertanda adalah kata yang terucap dari lubuk hatiku, yang selalu menginginkan kebebasan sebagaimana gembala yang menjual semua dombanya untuk memulai sebuah perjalanan panjang.

Aku harap kau mengikuti pertanda itu dan menemukan legenda pribadimu.

*

Ada banyak yang ingin ku tuliskan, akan tetapi kiranya cukup sampai disini. Nyatanya, kata sahajaku malah akan semakin mengurung maksud yang ingin kuungkapkan dalam kata dan grammar, sedang kusadari betul, ada jarak yang cukup lebar antara keduanya.

Seperti Lacan yang mengatakan bahwa “Bahasa kita tidak cukup untuk mengatakan kebenaran. Bahasa kita terlalu miskin untuk menyatakan kebenaran.”  yang ingin ku katakan adalah pikiran kita tidak cukup untuk menangkap keluasan kenyataan yang ada. Kenyataan atau realitas yang sesungguhnya jauh lebih kaya daripada apa yang bisa kita tangkap dan pahami dengan pikiran kita.

Kita membuat mimpi, tetapi bisa jadi kenyataan hidup tak akan pernah cukup untuk mewujudkan seluruh harapan kita akan gambaran kenyataan. Bahasa dan imaji kita pun tak cukup merangkum kekayaan kenyataan untuk harapan manusiawi itu.

Bukankah manusia memang tak sempurna? Sehingga ketaksempurnaan meraih mimpi pun juga manusiawi?

Ah, lagi-lagi aku menjadi penghitung. Menyebalkan ya?

Apakah kau tergoda menghitung kemungkinan-kemungkinan?

Aku?

Tidak. Tentu tidak. Aku buruk dalam Statistika.

*

Maka ia duduk dengan mata tertutup dan setengah percaya akan Negeri Ajaib, meskipun ia tahu bila matanya dibuka, semuanya akan berubah kembali menjadi kenyataan yang membosankan. – Alice in Wonderland

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s