Max Havelaar: Heroisme Setengah Hati (Bag 1)


 

IMG_20140902_143814

“Buku ini kacau.. terpisah-pisah.. mengejar efek.. gayanya buruk.. kemampuan penulisnya kurang.. tidak punya bakat.. tidak memiliki metode.”  Ungkap Multatuli pada bab terakhir bukunya, Max Havelaar, halaman 387.

Tak bisa disangkal, buku ini memang sulit untuk dipahami. Selain karena gaya terjemahan yang agak ‘memaksa’, buku ini tidak ditulis dengan alur yang runtut sehingga memaksa saya dalam beberapa kesempatan kembali membuka halaman sebelumnya yang belum bisa saya pahami agar bisa menarik benang merah antara satu bab ke bab berikutnya. Akan tetapi, ini tak berarti saya meremehkan kemampuan pengarang dalam menyusun sebuah gagasan yang padu dan utuh. Malah, lebih lanjut Multatuli sendiri menulis, “..Karena substansi karya saya tak terbantahkan! Terlebih semakin nyaring buku saya dicela maka saya akan semakin senang, karena semakin besar kesempatan saya untuk didengar, dan itu yang saya mau!”

Max Havelaar, buku yang baru saya tuntaskan ini adalah karya fenomenal Multatuli (Eduard Douwes Dekker) yang diklaim telah membuka mata publik dunia tentang betapa kejamnya kolonialisme yang dilakukan terhadap rakyat pribumi di Hindia-Belanda, terutama di wilayah tempatnya bertugas: Lebak. Perlu diketahui, Eduard Douwes Dekker adalah anggota Dewan Pengawas Keuangan Hindia Belanda yang ditempatkan di Batavia pada 1840. Tahun 1842, ia meminta untuk dipindahkan ke Sumatera Barat, lalu ke Natal, Sumatera Utara. Baru setelahnya dipindahkan menjadi Asisten Residen di Lebak, Banten. Namun pertanyaannya, benarkah Max Havelaar merupakan otobiografi dari Multatuli sendiri ataukah semacam roman yang dikisahkan secara berlebihan?

Alih-alih berkisah tentang tokoh utama: Max Havelaar, bab pertama buku ini malah memperkenalkan seorang makelar kopi yang tinggal di Lauriergracht No.37, Amsterdam bernama Droogstoppel. Pria ini adalah seorang rasional yang cenderung skeptis terhadap segala sesuatu, memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap profesinya sebagai makelar kopi, dan menganggap dirinya bermoral.

“Saya sendiri bermoral, namun apakah saya meminta imbalan untuk itu? Jika bisnis saya berkembang—dan memang begitu..jika istri dan anak-anak saya sehat, sehingga saya tidak perlu repot dengan para dokter dan apoteker…… Namun semua ini muncul secara alami dari keadaan, dan karena saya berkonsentrasi pada bisnis saya. Untuk kebaikan moral saya, saya tidak mengklaim apapun: kebaikan moral adalah imbalan itu sendiri!” hal.19

Pada suatu malam, ia bertemu dengan sosok yang pernah ia temui dalam sebuah insiden di masa lalunya, yang untuk selanjutnya ia sebut sebagai “Pria Berselendang”, yang hingga akhir buku tak ia sebut namanya (karena ia tak suka menghina dan membicarakan orang). Pria berselendang ini memberikan sebuah parsel besar berisi kumpulan tulisannya bersama sepucuk surat.

“Droogstoppel yang baik!

Saya mengunjungi rumah anda kemarin dengan tujuan untuk meminta pertolongan anda.

………

..memutuskan untuk bertanya pada anda apakah anda bersedia untuk memberi saya dan penerbit uang jaminan untuk biaya cetakan pertama, karena volumenya hanya sedikit. Saya tinggalkan pilihan dari seluruh contoh pertama pada anda. Pada parsel yang menyertai anda akan menemukan banyak manuskrip, dan dari itu anda tahu bahwa saya telah banyak berpikir, bekerja, dan menyaksikan.” hal 33.

Mulanya, Droogstoppel tak mengacuhkan parsel itu sampai kemudian ia menemukan bahwa diantara tulisan Pria Berselendang terdapat hal yang menarik perhatiannya: Kopi. Maka, ia pun meminta bantuan Stern, anak kolega bisnisnya untuk menulis buku dari arsip yang diberikan oleh Pria Berselendang. Pasca diambil alih oleh Stern, kisah ini baru memperkenalkan tokoh utamanya: Max Havelaar.

Sulit bagi saya untuk menggambarkan Havelaar, sebagaimana Multatuli pun kesulitan menggambarkan sosoknya (mungkin juga ia kesulitan menggambarkan sosoknya sendiri).

“Saya nyatakan kurang lebih. Karena, benar bahwa segala definisi memiliki kesulitan sendiri, menjadi lebih sulit lagi ketika hal itu adalah pertanyaan untuk menggambarkan seseorang yang sangat menyimpang dari norma sehari-hari.” hal 103

Sehingga, dengan segala kurang lebih itu, saya gambarkan Havelaar adalah seorang pria berumur 35 tahun yang memiliki isteri bernama Tina dan anak bernama Max. Kurang lebih pula, ia adalah sosok yang digambarkan sangat pro terhadap kebenaran dan keadilan, akurat, teratur, sabar, cekatan, sensitif terhadap cinta dan perhatian,.. “terakhir, dia ramah, berkelakuan baik, dan suci dalam perilakunya: itulah, kurang lebih: Havelaar!”hal.103

Perhatian Havelaar terfokus pada dugaan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh Raden Adipati Karta Nata Negara, adipati Lebak yang juga menjabat sebagai Regen[1] di kabupaten tersebut. Ia menuduh Regen Lebak tersebut atas penyalahgunaan kekuasaan melalui penggunaan tenaga kerja bawahannya secara ilegal dan pemerasan melalui permintaan barang-barang yang bukan berbentuk uang, juga tanpa pembayaran untuk ditetapkan secara acak. Lebih lanjut, ia juga mencurigai menantu Regen, Demang Parangkujang sebagai kaki tangan untuk melanggengkan tindakan yang dilakukan oleh Raden Adipati Karta Nata Negara. Namun, usaha untuk menegakkan keadilan itu terpaksa kandas karena tak mendapat dukungan dari Gubernur Jenderal. Malah, ia harus menerima pil pahit untuk memilih antara diasingkan ke Wilayah Ngawi, atau berhenti dari jabatannya sebagai asisten residen.

Pertanyaannya: Mengapa Max Havelaar begitu peduli pada nasib kaum pribumi di wilayah jajahan Belanda? Bukankah ia sendiri seorang pejabat pemerintah Belanda? Lantas, benarkah tuduhan yang ia berikan pada Raden Adipati Karta Nata Negara? Begitu rendahkah mental seorang pemimpin kala itu?

 

Alikta Hasnah Safitri

(bersambung)

[1] Regen adalah perwakilan dari unsur orang Jawa pada suatu daerah, dan dipercaya untuk berbicara atas nama ratusan ribu atau lebih jiwa yang membentuk masyarakat pada kabupatennya.

<

p style=”text-align:justify;”> 

2 tanggapan untuk “Max Havelaar: Heroisme Setengah Hati (Bag 1)

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s