Self Assessment Dauroh Marhalah 1 KAMMI


Pengelolaan dauroh selalu menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan dari waktu ke waktu, utamanya oleh saya yang saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Setiap kali dosen memberikan materi mengenai strategi pembelajaran, inovasi kurikulum, manajemen berbasis sekolah, hingga asesmen pembelajaran, dalam benak saya langsung terbayang bagaimana membuat konsep ideal pengelolaan dauroh yang efektif di KAMMI. Akan tetapi, saat tiba masanya bagi saya mengaplikasikan ilmu yang telah saya dapatkan di lapangan, dalam hal ini mengajar peserta didik, saya menyadari bahwa segala teori yang telah saya dapatkan menguap, berganti dengan grusa-grusu, grogi, gagap ketika kondisi ideal yang diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran tak terwujud sebagaimana yang saya harapkan. Dari sinilah saya paham bahwa semua ilmu mengajar, menajemen kelas, dan lain-lian, hanya akan hanya jadi teori apabila saya gagap mengejawantahkannya di ranah praksis. Pun, saya akhirnya menyadari bahwa mengimplementasikan bidang keilmuan saya ini di KAMMI memang tak semudah membalikan telapak tangan. Ada begitu banyak tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi dan ditaklukan.

Saya akan memulai tulisan ini dengan memberikan gambaran umum pengelolaan Dauroh Marhalah 1 terakhir di KAMMI UNS yang melibatkan saya sebagai salah satu panitia teknisnya. Dauroh Marhalah 1 terakhir di komisariat saya dilaksanakan beberapa bulan yang lallu dan diikuti oleh 80 an peserta dengan input kader dari 9 fakultas di UNS. Dauroh Marhalah 1 ini diawali dengan Pra-DM1 yang terbagi ke dalam tiga sesi, yakni untuk rumpun MIPA (meliputi Fakultas Kedokteran, MIPA, Pertanian, dan Teknik), rumpun sosial (meliputi Fakultas ISIP, Ekonomi, Hukum), dan terakhir rumpun FKIP. Sepanjang dilaksanakannya Pra-DM1 tersebut, pengelola dauroh menjalankan proses screening untuk mengenal peserta lebih mendalam dan mengetahui tingkat kepahaman mereka, khususnya yang berkiatan dengan tsaqofah keislaman, keindonesiaan, kepemimpinan, hingga pergerakan mahasiswa (dalam hal ini KAMMI). Pada akhirnya, terselenggaralah Dauroh Marhalah 1 di KAMMI UNS yang dilaksanakan selama 3 hari dua malam dengan 5 materi wajib dan materi tambahan berupa manajemen dan simulasi aksi. Sepintas saya tangkap, dalam lelah dan kantuk para peserta yang mengikuti dauroh, mereka cukup antusias mengikuti rangkaian kegiatan hingga usai.

Akan tetapi, apakah hanya karena tak ada peserta yang memilih pulang saat acara berlangsung dapat kita tarik kesimpulan bahwa dauroh berjalan sukses? Apakah hanya karena mereka dapat mengerjakan soal post-test yang pengelola berikan, dapat kita tarik kesimpulan bahwa dauroh menghasilkan kader dengan output berkualitas? Apakah hanya karena satu dua pertanyaan yang dilontarkan peserta lantas kita menganggapnya sebagai keaktifan nyata yang pantas mendapat penghargaan?

Selayaknya, saat ini kita merenungkan kembali bagaimana pengelolaan dauroh marhalah kita selama ini berjalan…

Pola dauroh sudah semestinya berpusat pada kebutuhan peserta dauroh. Peserta haruslah mampu mengkonstruksi kembali pengalaman atau pengetahuan yang dimilikinya. Sementara, MOT hanya berfungsi sebagai fasilitator atau pencipta kondisi dauroh yang memungkinkan peserta dauroh secara aktif mencari sendiri informasi, mengasimilasi dan mengadaptasi sendiri informasi, dan mengkontruksinya menjadi pengetahuan yang baru berdasarkan pengetahuan lama yang telah dimilikinya.

Maka, sebagai MOT, yang harus kita lakukan antara lain: memberi kesempatan kepada peserta dauroh unuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, memberi kesempatan pada peserta dauroh untuk mencoba gagasan baru kemudian mendebatnya untuk selanjutnya mendorong peserta dauroh memikirkan perubahan gagasan mereka.

Mengapa demikian? Sebab, konstruksi pengetahuan yang ideal erat sekali kaitannya dengan pola pikir divergen, yakni kemampuan menghasilkan jawaban alternatif. Kemampuan ini dapat dikembangkan dengan mencoba berbagai alternatif jawaban guna penyelesaian masalah, sehingga mereka dapat memiliki keluwesan berpikir yang secara fleksibel dapat dikembangkan dalam mengatasi berbagai persoalan yang berbeda di lingkungan sekitar. Lebih jauh lagi, diharapkan kader berhasil mengemukakan ide dan gagasan yang orisinal serta kemampuan mengelaborasi ide sampai pada hal yang sifatnya detil.

Hal yang perlu dimunculkan guna mencapai tahap tersebut adalah motivasi intrinsik dari tiap individu. Hal ini yang akan menyebabkan peserta dauroh melakukan segala aktivitas dengan optimal dan bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Menurut teori kebutuhan Maslow, di dalam diri setiap individu terdapat sejumlah kebutuhan yang tersusun secara berjenjang, mulai dari kebutuhan yang paling rendah tetapi mendasar, yakni kebutuhan fisik, sampai jenjang yang paling tinggi yakni aktualisasi diri. Setiap individu mempunyai keinginan untuk mengaktualisasi diri, yakni untuk menjadi dirinya sendiri, karena di dalam dirinya terdapat kemampuan untuk mengerti dirinya sendiri, menentukan hidupnya sendiri, dan menangani sendiri masalah yang dihadapinya. Itulah sebabnya, MOT harus bisa memfasilitasi tiap peserta dauroh untuk mengaktualisasikan dirinya. Hal ini bisa dilakukan apabila MOT telah mengetahui motivasi peserta mengikuti dauroh marhalah 1 KAMMI, artinya, kita hanya perlu memberikan apa yang mereka inginkan, apa yang menjadi ekspektasi mereka. Maka, selesai, antusiasme mereka akan mampu menjaga semangat mereka hingga akhir.

Hal yang ingin saya bahas dalam tulisan ini bukanlah bagaimana pengelolaan dauroh yang ideal (dari segi teknis), karena hal itu telah saya tulis di makalah yang saya buat 24 Novermber 2013 silam, yang ingin saya tekankan disini adalah pola asesmen terpadu yang meliputi penilaian proses serta penilaian hasil. Hal ini penting untuk dibahas, mengingat Manhaj Kaderisasi KAMMI belum memuat hal-hal yang berkaitan dengan prinsip maupun pola asesmen dauroh secara komprehensif. Padahal, dengan pola asesmen yang benar, MOT dapat mengetahui tingkat pemahaman peserta dauroh setelah proses dauroh berlangsung, lebih penting lagi, ini merupakan kontrol bagi pengelola tentang perkembangan kader.

Saat pelaksanaan ICES (Islamic Civilization Engineering School) di KAMMI UNS, pengelola merumuskan model penilaian baru guna memudahkan penilaian dauroh . Model penilaian ini dikembangakan dan dimodifikasi berdasar model penilaian dauroh yang dilaksanakan oleh Pelajar Islam Indonesia, yakni dengan menggunakan beberapa kriteria pokok, yang kami sebut dengan ARLEI (Attitude, Respon, Logic, Emotion, dan Integrity). Akan tetapi, cukupkah angka-angka tersebut mewakili pelaksanaan penilaian proses dauroh yang berlangsung? Tentu, hal tersebut tidaklah cukup. Baiknya, kita memberi kesempatan pada peserta dauroh untuk melakukan self assessment (penilaian diri).

Self assessment akan membuat peserta dauroh dapat menilai dirinya sendiri berdasar status, proses, dan tingkat pencapaian materi yang diberikan berdasar sejumlah acuan yang telah disiapkan. Teknik penilaian diri ini tentunya memiliki keunggulan, diantaranya: menumbuhkan kepercayaan peserta dauroh karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri, mengintrospeksi kelebihan dan kekurangan yang ia miliki, serta mendorong peserta dauroh bersikap objektif dalam menilai dirinya sendiri. Hal yang perlu dilakukan oleh MOT hanyalah melakukan komparasi antara self assesment yang dilakukan mandiri oleh peserta dauroh dan penilaian objektif yang dilakukan oleh pengelola, sehingga didapatkanlah pemahaman yang utuh mengenai apa yang dipahami dan dirasakan oleh peserta selama materi berlangsung.

Tentunya, terlaksanakanya pola dauroh yang konstruktif dan pola asesmen yang komprehensif ini tidak dapat terwujud apabila tidak mendapat keseriusan dan perhatian serius dari pengelola dauroh.

Billahi taufiq wal hidayah.

*ditulis sebagai pra-syarat mengikuti Training Pengkader Nasional PP KAMMI di Semarang, 12-14 September 2-14

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s