Bincang Hangat Bersama GMNI UNS: Sekolah Rakyat Tan Malaka (dan Kaderisasi Gerakan Mahasiswa Hari Ini)


Malam sabtu kemarin, kawan-kawan GMNI UNS mengundang saya dan kawan-kawan KAMMI untuk hadir dalam diskusi pekanan mereka. Diskusi kali ini membahas mengenai sekolah rakyat Tan Malaka dan relevansi pemikirannya untuk diterapkan pada dunia pendidikan hari ini. Berbekal tulisan Tan Malaka yang berjudul SI Semarang dan Onderwijs, berangkatlah saya untuk sekedar berbagi resah dan berbincang hangat dengan kawan-kawan GMNI UNS. Dan tepat seperti yang saya duga sebelumnya, mereka pun memberikan hard-copy tulisan Tan Malaka tersebut sesampainya kami di sekre mereka.

Sebagai pemantik, dua orang kawan GMNI UNS membuka diskusi dengan memberikan pemaparan singkat mengenai sosok Tan Malaka berikut sejarah perjalanan hidup yang tak hanya membuatnya menjadi seorang pejuang, tapi juga pendidik yang konsisten dan persisten menanamkan semangat juang pada diri setiap muridnya.

Kisah ini berawal ketika Tan bekerja menjadi guru sebuah perkebunan kuli kontrak di Deli. Sesampainya disana, ia melihat buruh-buruh perkebunan hidup tidak layak. Melihat realita yang demikian, Tan berkeinginan memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak kuli kontrak perkebunan tersebut. Namun, ide mendirikan sekolah yang ‘layak’ tersebut baru terealisasi ketika pada 1921 ia memutuskan hijrah ke tanah Jawa. Sekolah yang ia dirikan diikhususkan bagi anak-anak Sarikat Islam di Semarang. Dalam tulisannya yang berjudul SI Semarang dan Onderwijs, Tan mengungkapkan bahwa tujuan sekolah tersebut tidak untuk menjadi juru tulis seperti tujuan sekolah-sekolah khas kolonial, melainkan selain untuk mencari nafkah untuk diri sendiri dan keluarganya, juga membantu rakyat dalam pergerakannya. Progresifitas sekolah tersebut membuat banyaknya permintaan dari luar Semarang untuk membuat sekolah yang serupa, akhirnya Tan membuka pendidikan kelas khusus bagi siswa kelas 5 untuk dipersiapkan menjadi calon guru.

Saya rasa, banyak hal yang dapat kita pelajari dari Tan Malaka dengan sekolah rakyatnya. Bukan hanya sekadar untuk mengkomparasikan relevansi pemikirannya guna diterapkan dalam dunia pendidikan dewasa ini, tapi juga membuat kita turut serta memikirkan satu konsepsi mendasar mengenai gagasan kemerdekaan yang ia gelorakan jalur pendidikan. Ya, kita harus berpikir jauh melampaui zaman dimana kita hidup saat ini, seperti Tan.

Tan tidak menyebut sekolah yang ia dirikan sebagai Sekolah Kerakyatan, tidak sama sekali. Analisa yang panjang dari para sejarawan lah yang menghasilkan terminologi Sekolah Kerakyatan (yang kita kenal sekarang). Sekolah khas Tan Malaka hadir secara pragmatis untuk menjawab tantangan zaman di masanya. Maka, wajarlah yang diajarkan di sekolah adalah ilmu-ilmu taktis tanpa kurikulum yang tersusun secara sistematis. Namun, selain ‘cacat’ pragmatis ini, saya harus memberikan penghormatan sedalam-dalamnya pada gagasan Tan Malaka dengan tujuan pendidikan sekolah rakyatnya, yakni: mempertajam kecerdasan dan memperkokoh kemauan, serta memperhalus perasaan…, disamping itu juga menanam kebiasaan berkarya yang tak kurang mulianya dari pekerjaan kantor.

Sebetulnya, saya rasa, ia telah melakukan need assesmen secara mendalam sebelum mendirikan sekolah tersebut, saya bisa katakan bahwa kepragmatisan sekolah tersebut adalah buah dari assesmen yang ia lakukan sebelumnya: melihat kebutuhan mendasar bangsanya yang mesti segera sadar atas keterjajahan yang tengah dialaminya tanpa perlawanan berarti! Ya, memberantas kebodohan yang sengaja kaum kolonial semai dan suburkan di persada tanah airnya, Republik Indonesia. Sayang, buah dari kepragmatisan ini pun berakhir pahit, semakin lama ia semakin kehilangan ruh dan daya penggerak, maka sesuai sunatullah, mandeglah sekolah tersebut.

Semangat pembebasan yang sama juga pernah dilakukan oleh Paulo Freire, seorang pendidik dari Brazil. Dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kaum Tertindas (hal 27), Freire mengatakan: “Pendidikan kaum tertindas, sebagai pendidikan para humanis dan pembebas, terdiri dari dua tahap. Pada tahap pertama, kaum tertindas membuka tabir dunia  penindasan dan melalui praksis melibatkan diri untuk mengadakan perubahan. Pada tahap kedua, dimana realitas penindasan itu sudah berubah, pendidikan ini tak lagi menjadi milik kaum tertindas tetapi menjadi pendidikan untuk seluruh manusia dalam proses mencapai kebebasan yang langgeng. Dalam kedua tahap ini, dibutuhkan gerakan yang mendasar agar kultur dominasi dapat dilawan secara kultural pula.”

Kedua tokoh ini mengaktualisasikan gagasannya dalam pola awal yang sama, yakni kaum tertindas (atau kaum kromo, meminjam istilah Tan) harus menyadari ketertindasannya. Dalam situasi apapun, ketika “Penindas” melakukan penindasan/pemerasan pada “Tertindas”, maka hal tersebut resmi disebut penindasan. Ini mutlak, dan sifatnya pasti, meskipun kaum penindas menutupinya dengan penghargaan atau kedermawanan palsu.

Agaknya, saat ini kita harus mengangkat kepala sejenak guna memandang realitas pendidikan kita hari ini. Artikel Febri Hendri AA di kolom opini Kompas, Jum’at 19 September 2014 kemarin patut menjadi cermin jernih untuk berkaca. Secara garis besar, artikel tersebut membahas kekecewaan Penulis pada kurikulum baru yang dirasanya penuh masalah yang urung dituntaskan, diantaranya: motif yang mendasari terbentuknya kurikulum baru baik yang berkenaan dengan motif kepentingan maupun motif politik serta implementasi penerapan kurikum secara teknis di lapangan.

Tentunya, hal ini menyisakan pertanyaan besar bagi kita. Dalam kurun 1920an-2014, pendidikan senantiasa menyisakan problematika yang tak kunjung tuntas. Jika di Era Tan Malaka, ia berjuang untuk menyadarkan rakyat hakikat kebebasan dan kemerdekaan, saat ini yang terjadi justru sebaliknya: pendidikan menjadi alat untuk menjajah dan menindas. Pun, hal ini tak hanya terjadi untuk pendidikan dasar dan menengah, tapi juga bagi kita yang saat ini menyandang status sebagai mahasiswa.

Status mahasiswa bukanlah status yang permanen, kita harus melepasnya (suka tidak suka). Akan tetapi, apa yang terjadi jika universitas tempat kita menempa diri malah menjadi penjara yang memasung kemerdekaan dan kebebasan kita? Bagaimana jika sistem perkuliahan yang kita jalani selama ini pelan tapi pasti malah merenggut kesadaran humanis kita? Ah, bagaimana bisa?

Kita harus menyalakan lilin, bukan mengutuk kegelapan. Begitu kata orang. Maka, dengan keyakinan tersebut, saya masih sangat percaya bahwa kaderisasi gerakan mahasiswa eksternal mampu menjadi titik tolak pendidikan yang membebaskan, pendidikan yang menumbuhkan nilai dan kesadaran, pendidikan yang membuat kita merdeka dalam pikir, tindak, dan laku.

Saat ini, kaderisasi gerakan mahasiswa eksternal masih kembang kempis didera banyak persoalan. Kita sibuk membandingkan heroisme generasi pendahulu dan memble-nya generasi hari ini. Tapi, penanaman nilai dan kesadaran ini tak boleh putus. Karena akan tiba saatnya, gerakan mahasiswa kembali dibutuhkan oleh zaman. Mungkin bukan di zaman kita, atau zaman adik-adik kita, tapi akan ada masanya.. Ya, saya yakin seyakin-yakinnya. Keyakinan itulah yang membuat saya bertahan.

Surakarta, 21 September 2014

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s