Melampaui Konflik dalam Kesatuan


Saat membuka beranda facebook sore tadi, saya dikejutkan oleh beragam respon yang muncul untuk menanggapi tulisan yang dirilis oleh Bang Umar akhir pekan lalu berjudul “Melupakan Fahri Hamzah dari Pikiran”. (http://www.kammikultural.org/2014/10/melupakan-fahri-hamzah-dari-pikiran.html)

Yunda Zahra memberi tanggapan dengan membangun narasi tentang KAMMI sebagai sebuah keluarga.  Setiap kader diharapkan memiliki loyalitas terhadap KAMMI sebagai bagian dari keluarga besar yang akan terus menopang, mendukung, dan menguatkan. Bahkan Yunda Zahra mencontohkan Anas Urbaningrum yang hingga saat ini masih didukung oleh kader HMI untuk menguatkan argumennya.

Saya tidak tahu dari mana Yunda Zahra mengambil kesimpulan naif ini. Jelaslah tidak semua kader HMI membabi buta membela senior yang bersalah, banyak dari mereka yang juga mengutuk alumni yang jadi broker politik, banyak juga dari mereka yang berupaya keras menyelamatkan kader-kader baru untuk tak terjebak pada rantai politik yang dibangun oleh senior-senior busuk yang menggerogoti organisasi. Jangan sampai terjadi, atas dasar solidaritas keluarga ini, KAMMI malah melegalkan pembelaan membabi buta pada alumni yang terseret kasus (jika ada), tentu kita tak ingin ini terjadi.

Lebih jauh, Bang Dharma membedah ingatan kita pada tagline yang dibawa PP pada periode ini. Tagline yang menarik: KAMMI Untuk Indonesia. Ia mencoba mengajak kader menegaskan wajah baru KAMMI yang otentik Indonesia, tentu tanpa menegasikan pemikiran Ikhwan yang lebih dulu mapan dalam tubuh KAMMI sendiri.

Bang Faqih secara lebih detail membawa kita untuk merenungkan QS Al Mujadalah ayat 22 yang turun setelah salah seorang sahabat Rasulullah, Abu Ubaidah bin Jarrah membunuh ayahnya sendiri dalam perang badar. Rasul pun bersabda bahwa yang Abu Ubaidah bunuh bukanlah ayahnya, melainkan kesyirikan dan kebathilan dalam dirinya (ayah Abu Ubaidah).

Senada dengan Bang Dharma, Bang Faqih pun mengajak kita untuk menjadikan nilai kebenaran sebagai landasan dalam gerak dan pikir, bukan pada asas kekeluargaan seperti yang disampaikan oleh Yunda Zahra. Selanjutnya, Bang Faqih pun mencoba melakukan analisis semantik atas tulisan Bang Umar. (lih https://www.facebook.com/notes/865923736775903/)

Masing-masing berusaha membentuk dan mempengaruhi opini publik dengan argumentasi dan kebenaran pendapatnya sendiri-sendiri, dan anehnya semua terasa masuk akal untuk dimengerti.

Beberapa kader merasa pesimis dan khawatir bahwa perdebatan di ranah literal ini akan berdampak negatif sebab dinilai dapat memunculkan konflik horizontal di kalangan kader sendiri, baik itu di pengurus daerah maupun pengurus komisariat. Beberapa lainnya merasa optimis. Mereka menganggap perdebatan adalah hal yang wajar dan mampu menjadi proses pendewasaan yang baik dalam keberjalanan organisasi. Sisanya, cenderung tidak peduli, “banyak hal lain yang lebih esensial untuk dipikirkan”, begitu pikir mereka.

Sebagai pribadi, saya sendiri cenderung beranggapan bahwa munculnya konflik/perdebatan harus diterima sebagai kenyataan hidup. Bahwa konflik/perdebatan bisa terjadi dimana pun, kapan pun, dan oleh siapa pun. Tak terkecuali bagi organisasi yang dalam namanya mengandung kata “kesatuan” ini.

Perbedaan cara pandang dalam melihat dan memahami sesuatu menimbulkan dorongan untuk meningkatkan semangat berpikir, menulis, dan berdialektika dengan sehat. Karenanya, perdebatan harus dikelola dengan baik, sehingga setiap pihak memiliki kesempatan belajar membangun kemerdekaan pikir berdasar argumen teoritisnya masing-masing. Harapannya, sintesa baru akan lahir menjadi kebenaran sementara, begitu seterusnya, hingga sintesa-sintesa baru terus memperkaya ruang gagasan kita. Saya meyakini, apabila kader terbiasa dengan budaya debat publik secara terbuka, jujur, dan tanpa tedeng aling-aling, mereka pun akan terlatih berpikir dan bertindak secara objektif.

Lagi-lagi, tulisan Bang Umar telah menyentuh sisi sensitif kader KAMMI dimana pun berada. Tujuan tulisan untuk menjadikan Fahri Hamzah serta relasi patron klien KAMMI dan alumninya yang terjun ke pergulatan politik praktis sebagai metafor malah dipahami sebagai provokasi untuk menegasikan KAMMI dari akar sejarahnya. Bahkan beberapa berburuk sangka dengan berkomentar singkat yang lepas dari konteks. Hanya dengan mencari titik lemah dari deretan kata-kata dengan dibumbui kecurigaan untuk melakukan serangan balik.

Saya berharap setiap orang yang turut berkomentar dalam perdebatan ini, entah dalam celetukan singkat maupun uraian panjang mampu berbesar hati membawa keakuan dan egoisme diri ke titik yang paling rendah. Mengutip apa yang disampaikan oleh Musa Asy’arie, “sehingga kata-kata yang diucapkan punya jiwa dan menjadi kekuatan pencerahan, tidak mengundang kebencian dan sakit hati, tetapi menyejukkan, dan dapat menjadi penggerak lahirnya perilaku kesalihan sosial.”

Ketika Yunda Zahra membangun narasi tentang KAMMI sebagai sebuah keluarga, agaknya Yunda Zahra perlu mempertimbangkan rekonsiliasi di tingkat pusat sebagai bentuk pertanggungjawaban atas narasinya. Rekonsiliasi jelas diperlukan sebagai upaya perdamaian di atas puing reruntuhan konflik antara Pengurus Pusat dan KAMMI Nasional. Dan itu tak akan dapat terwujud tanpa ada adanya loyalitas kader terhadap KAMMI sebagai bagian dari keluarga besar yang akan terus menopang, mendukung, dan menguatkan. Namun, sudah pasti rekonsiliasi akan gagal manakala masing-masing dari kita enggan mengosongkan egoisme, atau paling tidak menekan keakuan hingga level terendah.

Ada banyak hal yang harus dikawal dalam kepengurusan PP KAMMI periode ini. Salah satunya adalah tagline yang digagas oleh Bang Arif Susanto: KAMMI Untuk Indonesia. Sudah sejauh mana KAMMI mampu mengindonesia? Masihkah fasih mengutip kalimat Hasan Al Banna tapi enggan belajar sejarah perjuangan ulama-ulama yang berjuang menegakkan Islam di bumi Indonesia?

Atau, bagaimana kelanjutan lokus-lokus kepakaran yang sempat digagas di awal kepengurusan? Apakah ia hanya berhenti sebatas pada pewacanaan global tanpa realisasi di lapangan? Sudahkah ada prototype komisariat yang menjadi bahan percontohan giatnya lokus-lokus kepakaran? Cukupkah lokus ini menjadi kelompok studi, atau akan dikembangkan menjadi Lembaga Semi Otonom?

Baru-baru ini, PP juga menggagas “Rekruitmen 100.000 Kader Penggerak Kebangkitan Indonesia”. Tak ada pertanyaan, mengapa harus seratus ribu? Mungkin, karena angka itu paling mudah diambil, karena bulat, dramatis, dan cukup abstrak untuk dibubuhi keterangan lebih panjang. Lantas, siapkah KAMMI melakukan pembinaan terstruktur untuk seratus ribu kader tersebut?

Hallo, apa kabar Korps Instruktur?

Hai, Jamdiknas?

 “Menggagas ide adalah satu tahapan, dan mewujudkan ide itu menjadi nyata adalah tahapan yang lain.” Kata Bang Wibi.

Fahri Hamzah telah mendeklarasikan lahirnya KAMMI. Imron Rosyadi, Mu’tamar Ma’ruf, dan Yusuf Maulana telah meletakkan pondasinya. Kita? Telah berproses sependek ini.. Bukan, bukan melupakan. Melampaui Fahri Hamzah dan para senior kita adalah suatu keharusan..

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s