Petuah Berharga


Belum lama ini, Yogo menandaiku dalam catatan yang ia tulis di notes akun facebooknya berjudul Do More to Get More. Karena jarang sekali Yogo menulis untuk curhat seperti ini, makanya aku pun berusaha menanggapi curhatan Yogo dengan curhat balik. Nah lho?

Kalau ada Mam Nur yang memberimu petuah berharga ini saat SMA: You have to do more, to get more. Aku juga punya seseorang yang memberiku petuah berharga yang menjadi pegangan hidupku dalam waktu yang cukup lama: Ketika dunia luar menampakkan kekerasannya dan mencoba menyerangmu, tetaplah bertahan dengan imanmu, perkuat, dan bertahanlah. Orang yang mengatakan ini sahabatku sendiri, Denis namanya.

Mungkin, karena petuah Mam Nur, saat ini aku melihatmu sebagai pribadi yang selalu konsisten memperjuangkan apa yang kau yakini sebagai suatu kebenaran. Barangkali karenanya, kamu yakin betul apa yang Allah firmankan, bahwa Dia tak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu berjuang untuk merubahnya.

Mungkin, karena apa yang Denis katakan, saat ini aku menjadi pribadi yang ngeyel, keras kepala, dan habis-habisan mempertahankan keyakinanku. Kata orang, aku punya loyalitas yang teguh. Aku tak tahu apa yang mereka katakan benar atau tidak. Cukuplah orang lain yang memberikan penilaiannya, Go. Kamu dan aku? Kita jalani saja.

Di beberapa kesempatan, aku membuka blogmu. Kata orang, begitulah cara terbaik mengenal seseorang: dari apa yang ia tuliskan. Aku banyak belajar dari apa yang kamu tuliskan di blogmu. Kamu pribadi yang selalu gelisah, Go. Dan kabar baiknya, kegelisahan itu bisa kau tuangkan dengan baik lewat karya-karyamu yang sok ngeksis itu. Eh?

Sempat aku jengkel padamu meski urung ku katakan. Aku jengkel waktu kau ‘menghilang’ dari kampus. Menghilang seolah tak ada daya lagi yang bisa kau lakukan untuk lakukan perlawanan terhadap rezim. Menghilang seolah kau sudah menemukan jalan juang yang akan kau tempuh dengan lupakan jalan juang yang telah kau titi selama beberapa tahun ini. Aku jengkel karena padamu aku menitipkan harap atas apa yang tak berani kulakukan. Kalau sampai kamu berhenti, maka pupus sudah yakinku bahwa perubahan itu akan segera datang.

Mungkin jengkelku saat itu adalah teguran, bagiku khususnya. Teguran hebat untuk membuatku tampil sebagai pribadi yang tak hanya perjuangkan keyakinanku dalam kata-kata sindiran yang payah, tapi secara proaktif meyakinkan orang lain bahwa aku punya alasan, bahwa aku ingin orang lain mengamini alasanku, bahwa kita perlu massa untuk lakukan perubahan.

Membaca catatanmu kali ini cukup ampuh meredam jengkelku. Aku berharap, Alloh selalu meridhoi apa yang kau lakukan.. Doakan aku juga ya.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s