Semacam Curhat: KIDS dan Satu Generasi Muslim yang Kita Pertaruhkan


Senin, 27 Oktober 2014

Training For Instructure KAMMI Daerah Solo Raya usai dilakukan. 14 Instruktur baru resmi dilantik. Sayang, komposisi instruktur baru ini tidak berimbang. Kebanyakan berasal dari angkatan lama. 2008-2009. Padahal, keinstrukturan yang dipegang kaum muda adalah keniscayaan yang kuyakini mampu membangkitkan semangat zaman.

Aku kagum (sekaligus iri) pada kader KAMMI Jogja. Konsep-konsep keinstrukturan yang mereka inisasi goal di muktamar. Ide-ide mereka dipakai secara nasional meskipun belum merata. Pemerataan in tentu merupakan sebuah proses yang panjang. Membutuhkan waktu lama dan konsistensi yang tak mudah surut, apalagi luruh.

Sungguh, pertanggungjawaban kita pada mereka yang telah memilih KAMMI sebagai saluran aktualisasi dan kawah candradimuka untuk menempa diri harus dihayati dengan sebenar-benarnya penghayatan dan kesadaran.

Pertanggungjawaban itu harus mewujud dalam kerja-kerja perkaderan yang tersusun dalam kerangka konseptual, integral, dan holistik. Yang ku tahu, pembenahan kaderisasi kita tidak akan tuntas dalam waktu singkat. Kerja-kerja kaderisasi adalah kerja yang tak pernah putus. Mata rantainya menyambung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Terus begitu.

Hanya saja, karakter gerakan KAMMI sebagai harokatul amal menuntut kadernya tak hanya fokus mengurus kaderisasi, tapi secara taktis berkontribusi memecahkan persoalan umat dan bangsa.

Atas sebab keanggotaan dan kepengurusan organisasi yang terus berjalan dari periode ke periode, maka sangat sulit mengharapkan kematangan sikap, kestabilan organisasi, dan kematangan konsepsi di tubuh KAMMI sendiri. Karenanya, taurits (pewarisan) haruslah menjadi hal pokok yang jadi prioritas. Sayangnya, budaya taurits ini belum terwujud secara utuh. Hanya sebatas dokumen-dokumen kerja yang tak menguraikan proses berpikir, kurasa.

Aku berharap bisa menjadi saksi sejarah yang mendokumentasikan serangkaian proses berpikir itu dalam tulisan-tulisanku (termasuk tulisan ini). Proses berpikir merupakan pondasi yang paling fundamen dalam melakukan perbaikan. Bisa jadi, karena ketiadaan dokumen ‘proses berpikir’ ini, generasi selanjutnya akan memulai konsep dari awal lagi.

Seperti yang kubilang di awal, karena KAMMI adalah rumah tinggal sementara (kawah candradimuka untuk menempa diri), maka waktu yang singkat ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Mengoptimalkan proses perkaderan di tubuh KAMMI dengan pengoptimalan Korps Instruktur adalah ikhtiar yang dipilih. Di beberapa organisasi kader lain, jalan ini telah ditempuh sejak lama. KAMMI sebetulnya tinggal mengadopsi atau mengadaptasi saja apa yang telah diterapkan oleh PII atau HMI, tentunya dengan tetap berpegang pada filosofi gerakan dan nalar/orientasi kaderisasi nasional kita. Tapi, memang tak semudah itu.

Kemarin, pasca TFI usai. Dilaksanakan pula lokakarya KIDS (Korps Instruktur Daerah Solo). Ada tiga agenda yang jadi pokok bahasan. Pertama, laporan pertanggungjawaban penanggung jawab sementara KIDS. Kedua, pembentukan renstra KIDS. Ketiga, pembentukan struktur dan penempatan personil KIDS.

Dari laporan PJS KIDS sebelumnya, aku menyimpulkan bahwa fungsi keinstrukturan belum berjalan sebagaimana pola ideal yang diharapkan. Meskipun memang KIDS telah menginisiasi dihapusnya Sie Acara dalam kepanitiaan DM1 (sebetulnya KIDS bertanggungjawab untuk semua suplemen dauroh yang diselenggarakan KAMMI, akan tetapi fokus garapan pokok di periode awal ini adalah mengidealkan DM1) dan menggantinya dengan sistem kepengelolaan.

Dari empat komisariat yang berada di KAMMI Daerah Solo (Sholahuddin Al Ayyubi UNS, Al Fath UMS, Al Aqsha IAIN, dan Abdullah Azzam yang merupakan gabungan beberapa universitas macam Universitas Setia Budi, Universitas Slamet Riyadi, serta Poltekes), hanya Shoyyub UNS lah yang telah established menerima konsep keinstrukturan dalam pengelolaan Dauroh Marhalah.

Maka dari itu, aku mengusulkan dibentuknya suatu renstra jangka pendek. Dengan logika yang sama, saya, Mas Umam, dan Mas Hartono mengusulkan renstra satu tahun. Melalui perdebatan yang cukup alot, renstra satu tahun yang dibagi dalam dua fase tersebut disepakati forum.

Ada empat poin yang menjadi acuan kerja-kerja KIDS selama satu tahun ke depan, yakni 1) Bertambahnya jumlah instruktur 2) Selesainya sosialisasi KIDS ke seluruh komisariat 3) Pengelolaan DM1 yang 100% ditangani KIDS dan peninjauan dauroh-dauroh lain untuk pembuatan SWOT renstra jangka panjang satu tahun mendatang 4) Peningkatan kompetensi intruktur melalui Halaqoh Instruktur (HI).

Untuk menunjang tercapainya renstra tersebut, dibentuklah struktur sebagai berikut:

Koordinator                            : Ahmad Walid (Pascasarjana UNS)

Sekretaris & Bendahara          : Diandaru (Pascasarjana UNS)

Tim Instruktur Lapangan        : Evi (UNS-alumni), Alvian (UMS), Irine (UNS-alumni), Fitri (IAIN), Amin (UNS)

Tim Manajemen Data dan Informasi  : Rahmad (UNS), Titis (UNS), Titik (UMS)

Tim Pengembangan Kompetensi Instruktur   : Nuzul (UMS), Alikta (UNS), Umam (UNS-alumni), Vike (IAIN), Syahid (UNS-alumni)

Besar harapan yang ku tumpukan pada sistem keinstrukturan ini. Aku sadar betul bahwa satu tahun ke depan adalah masa trial and error. Mudah-mudahan Alloh SWT mengampuni kami semua.

Aku ingin mengutip tulisan Ahmad Wahib untuk mengakhiri tulisanku kali ini..

Arena telah kita pilih

HMI sebagai saluran

Bertahun-tahun kita membina

Satu generasi muslim kita pertaruhkan

Untuk umat Islam

Kegagalan HMI kegagalan satu generasi

Keberhasilan HMI keberhasilan satu generasi

Kita telah memilih KAMMI sebagai wadah perjuangan permanen (seperti yang kita hafal sebagai visinya). Mari berdoa, mudah-mudahan Alloh SWT membimbing KAMMI ke jalan-Nya yang lurus. Mudah-mudahan Alloh SWT mengampuni kita atas satu generasi muslim yang kita pertaruhkan..

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s