Semacam Curhat: Basis Massa atau Basis Kader?


Beberapa waktu lalu, kawan-kawan Gema Pembebasan menyelenggarakan ICMS. Kakak-kakak saya di sekretariat Kammi-lah yang menerima undangan tersebut. Katanya, mereka sempat berbincang soal grand design kongres meskipun sedikit. Lebih jauh, saya tak tahu apa yang mereka perbincangkan.

Kalau bicara soal kongres Gema Pembebasan, prakiraan saya, ruhnya terasa senada dengan vergaadering yang dilakukan Sarekat Islam di masa perjuangan melawan kolonialisme. Agitasi masa. Pidato persuasif. Metodenya sama seperti yang dilakukan oleh HOS Tjokroaminoto dan Soekarno. Bedanya mungkin hanya pada kemasan dan kontennya saja. Atau, ada perbedaan yang lain lagi?

Saya sendiri agak kaget dengan metode-metode yang mereka gunakan. Agitasi masa tak sekali ini saja mereka lakukan. Di banyak kesempatan mereka sering kumpulkan massa dan lakukan propaganda. Beda betul dengan metode yang disampaikan Ust Taqiyuddin an-Nabhani dalam At-Takattul al Hizbiy.

Jika telah terdapat tiga hal pokok, yakni fikrah yang dalam, thariqah yang jelas, dan manusia yang bersih, maka akan terbentuklah sel utama. Sel utama ini akan bertambah menjadi sel-sel kecil (halqah) pertama dalam partai, yang sekaligus menjadi pimpinan partai. Nah, barulah kemudian terbentuk kutlah hizbiyah (kelompok kepartaian) yang akan berjuang mewujudkan fikrah yang diyakininya. Mirip dengan sistem Partai Komunis Indonesia ya? Atau sama juga dengan metodenya Tarbiyah? Hehe

Sejujurnya saya ingin belajar secara lebih mendalam soal propaganda yang secara persisten mereka gencarkan di kampus. Keren dan wow, saya bilang. Lantas, bagaimana si kabar sel-sel ini? Pernah selama empat bulan saya ikut ngaji dengan kawan-kawan Musliman HTI Solo Raya, tetapi terlalu banyak perbedaan yang tak dapat saya jembatani, karenanya, demi kebaikan saya pribadi, saya pun memilih keluar.

Saya rasa sel-sel kecil tadi masih hidup dan eksis. Tapi saya kurang yakin apa saja yang mereka bahas. Waktu itu, saya masih begitu muda dan lekas bosan akan segala sesuatu, makanya saya putuskan keluar karena wacana yang diusung memang itu-itu lagi. Tak memberikan kebebasan berpikir dan menuangkan gagasan alternatif lain. Judgement. Berontak. Satu solusi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Selain aksi dan propaganda yang keren, saya rasa kawan-kawan GP juga punya massa yang sangat militan. Kalau nggak militan. Siapalah yang mau repot-repot pasang selebaran dan pamflet di setiap spot di kota Solo? Haha

Dipikir lebih jauh, karakter gerakan kawan-kawan GP sangat jauh berbeda dengan KAMMI. KAMMI memiliki karakter sebagai organisasi kader dan organisasi amal. Makanya, yang jadi fokus KAMMI adalah basis kader, bukan basis massa. Perlu lho dibedakan antara siapa yang kita sebut sebagai kader, dan siapa yang kita golongkan sebagai simpatisan. Terus, mana yang lebih baik? Fokus pada kader atau pada massa?

Ah, jawabannya tentu sulit. Tapi, perbedaan pendapat antara Soekarno dan Hatta mengenai bagaimana tepatnya partai bergerak patut jadi bahan renungan bagi kita yang mengaku sebagai aktivis pergerakan.

Setelah dijebloskan ke penjara Sukamiskin, PNI secara resmi dinyatakan sebagai partai terlarang. Aktivis partai kemudian mendirikan Partindo (Partai Indonesia), tetapi gerakannya tidak terasa, jarang sekali mereka mengadakan pertemuan, dan kalaupun ada, pengunjungnya sangat sedikit. Sementara itu, dua tokoh intelektual: Hatta dan Sjahrir pun mendirikan PNI (Pendidikan Nasional Indonesia). Aktivis dan simpatisan PNI pun terbelah, antara mengikuti Partindo dan PNI-Baru. Bung Karno merasa kecewa dengan perpecahan ini, ia menginginkan persatuan dari dua kubu.

Bung Hatta          : Dengan sistem Bung Karno, partai tidak memiliki kestabilan. Ketika Bung Karno beserta tiga kawan kita masuk penjara, seluruh gerakan tercerai berai. Gagasanku adalah membentuk satu inti kecil dari organisasi yang kemudian akan melatih kader untuk digembleng sesuai cita-cita kita.

Bung Karno         : Lalu apa yang akan dilakukan para kader ini? Apakah akan mendatangi massa rakyat dan membangkitkan semangat mereka seperti yang telah kukerjakan?

Bung Hatta          : Tidak. Konsepsiku lebih didasarkan pada pendidikan praktis untuk rakyat daripada didasarkan pada daya tarik pribadi dari seorang pemimpin. Dengan cara demikian, bila para pemimpin puncak berhalangan, partai akan tetap berjalan dengan pemimpin di bawahnya yang sudah sadar mengenai apa yang kita perjuangkan. Pada gilirannya, mereka akan meneruskan cita-cita ini ke generasi berikutnya sehingga barisan kita bertambah banyak dengan mereka yang simpati pada perjuangan kita. Kenyataannya sekarang, tanpa pribadi Soekarno, tidak ada partai. Ini akan membuat partai bubar karena rakyat tidak memiliki kepercayaan kepada partai itu sendiri. Yang ada hanya kepercayaan pada Soekarno.

Bung Karno         : Mendidik rakyat agar cerdas membutuhkan waktu bertahun-tahun Bung Hatta. Cara yang Bung lakukan baru akan tercapai puluhan tahun.

Bung Hatta          : Kemerdekaan memang tidak akan tercapai selagi kita masih hidup. Tapi setidak-tidaknya cara ini pasti. Pergerakan kita akan terus berjalan selama bertahun-tahun.

Seperti yang telah kita ketahui, perdebatan yang berlanjut hingga beberapa bulan kemudian itu menemui jalan buntu. Baik Bung Karno maupun Bung Hatta sama-sama meyakini jalan juang yang dipilihnya. Menurut Bung Karno, yang dikatakan Hatta adalah khayalan revolusioner. Buku teks tak dapat mempimpin dan menggerakkan jutaan rakyat. Sementara, Bung Hatta pun keukuh mempertahankan yang diyakininya, ia katakan, “Ini merupakan janji kesetiaan pada negeri kita. Ini merupakan soal prinsip. Soal kehormatan.” Bung Karno pada akhirnya masuk Partindo, dan Bung Hatta tetap meneruskan perjuangannya lewat PNI-Baru.

Agak janggal menarik persoalan ini pada kebimbangan gerakan menentukan mana yang lebih baik, membina basis massa atau basis kader. Tapi setidaknya percakapan dua tokoh besar tadi mampu membuat kita menyelami hakikat perbedaan paling prinsipil yang pernah terjadi dalam perjuangan kemerdekaan republik.

Kawan-kawan GP, janganlah anti pada buku-buku sejarah bangsamu sendiri. Kawan-kawan Tarbiyah, jangan hanya andalkan wacana IM tahun 85. Mari kita saling berdialog dan berwacana dengan kajian yang matang.

Era informasi kian membanjir, maka kita tahu bahwa era ini akan segera berakhir. Gerakan intelektual akan kembali berjaya. Pastinya, kita harus segera menyiapkan diri.

 

Referensi

Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams

At Takattul Al Hizbiy karya Taqiyuddin an Nabhani

6 tanggapan untuk “Semacam Curhat: Basis Massa atau Basis Kader?

  1. Kunjungan dini hari…
    Saya akui militansi mereka emang bagus. Pernah sekali liat anak2 GP (2 orang sih) di pinggir perempatan Panggung pas siang panas, gak tau ngapain, tapi kayaknya ada hubungannya dengan ICMS kemarin…
    Saya kira di akhir tulisan ini mau mengatakan bahwa basis xxx lebih baik daripada basis yyy, liat judul lagi, oh iya curhat…
    Kalau menurutmu yg lebih baik mana (sambil liat realita)?

    Suka

    1. haha, tapi semangat non-kooperatif mereka ini yang bikin saya salut sepenuh hati.. kangen juga sama gerakan mahasiswa yang nggak mulu2 ngundang pembicara dari menteri ini lah, pejabat itu lah, cuma buat mengundang masa, cuma buat ndengerin ocehan berbusa mereka. ya cuma di GP ini,

      Suka

      1. mungkin itu definisi “militansi” menurut kawan-kawan HTI, meskipun bukan berarti tanpa cela, emang salut sama bagian usaha agitasi massa a la mereka 🙂

        Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s