Perhitungan Duniawi yang Menyempitkan Rezeki


Beberapa pekan ini aku agak kelimpungan mengelola keuangan. Selama tiga tahun kuliah, belum pernah rasanya keuanganku seseret dan sesempit ini. Jatah uang bulanan dari orangtuaku selalu dapat ku kelola dengan baik, bahkan seringkali tersisa di akhir bulan dan kugunakan untuk membeli buku. Tapi, bulan ini dan bulan kemarin sungguh lain. Pengeluaranku membengkak habis-habisan.

Biaya berobat ke Rumah Sakit memakan ratusan ribu. Apalagi kalau seminggu sekali harus control. Aku jadi berniat membeli obat saja langsung ke apotik untuk menghemat pengeluaran. Bahaya tidak ya?

Biaya pembayaran KKL (Kuliah Kerja Lapangan) juga menyita banyak lembar dari tabunganku. Aduh! Padahal aku malas sekali ikut tour wisata yang tidak memberiku hal-hal berharga selain oleh-oleh kaos, foto-foto, dan tentu saja: Lelah!

Bensin, pastinya. Aku memilih kos di asrama untuk menghemat pengeluaranku membeli bensin. Tapi, hampir sepekan penuh aku harus bolak balik Kentingan-Kleco untuk keperluan organisasi. Tinggal izin saja, begitu pikirmu ya? Tidak sesederhana itu. Ini masalah kebutuhan pribadiku untuk menyalurkan passion-ku. Demi tanggung jawab atas ikrar yang pernah kuucapkan. Kalau sampai harga BBM benar-benar naik, perlukah aku resign? Hehehe

Dan lagi, kuliah di PGSD memang sungguh boros. Kalau tiap mata kuliah mensyaratkan adanya praktek mengajar. Otomatis, aku harus membuat media ajar. Pembuatan media ajar ini memakan biaya yang juga tak sedikit, repot pula. Belum lagi menyusun dua puluh lima lembar RPP tiap satu pembelajaran. Membosankan!

Mengandalkan jatah bulanan dari orangtua di usiaku yang sudah dua puluh lebih ini memang memalukan. Kalau di semester sebelumnya aku mengajar les, semester ini aku memutuskan berhenti. Soalnya tanggungan tugas-tugas lain tidak memungkinkan. Pernah juga jadi kontributor sebuah website Islam, tapi idealismeku tidak bisa lagi menerima pembenaran atas berita-berita yang kutulis maupun tulisan lain yang nangkring di web tersebut. Akhirnya, berhenti juga.

Mengandalkan beasiswa? Pernah terbersit sebenarnya. IPK-ku cukup lumayan: 3,54. Tapi entah kenapa aku berpikir bahwa ada lebih banyak orang lain yang  membutuhkan beasiswa tersebut dibanding aku. Makanya, aku selalu mengurungkan niat untuk mendaftar.

Ah, kalau Yien, sahabatku pernah bilang bahwa saat aku merasa waktu makin menghimpit, tandanya aku tak melapangkan waktuku untuk beribadah pada Alloh Swt. Kupikir, hal yang sama berlaku padaku saat ini.

Karena perhitungan keuangan macam ini, aku jadi makin bakhil. Terhitung sejak awal kuliah aku menjadi donatur tetap sebuah lembaga sosial, tapi sejak beberapa bulan ini aku menarik diri. Mungkin karena itu Alloh menyempitkan rezekiku. Karena aku tak melapangkan hati untuk bersedekah, karena aku terlampau banyak membuat hitung-hitungan duniawi ini untuk  memberikan hak-hak orang lain yang dititipkan padaku.

Ya Alloh.. Ampuni aku..

5 tanggapan untuk “Perhitungan Duniawi yang Menyempitkan Rezeki

  1. Mungkin memang ada orang yang lebih berhak mendapat sebuah beasiswa dibanding Alikta, tapi ada kemungkinan juga ada orang yang tidak lebih berhak menerima beasiswa itu daripada kamu kan?

    Itu artinya peluang untuk merelakan beasiswa untuk yang lebih berhak dan pada yang tidak lebih berhak adalah 50:50. Karena kemungkinannya sama, maka pertanyaannya harusnya ‘Sebenarnya saya butuh atau tidak?’
    Kalau ga butuh ya biarkan saja, tapi kalau ternyata butuh kenapa ga coba diambil?

    😛

    #Semogabukansesatpikir

    Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s