Leiden is Lidjen, Memimpin adalah Menderita: Teladan Kepemimpinan Haji Agus Salim  


Pasca transisi kepemimpinan, Indonesia masih dihadapkan pada pelbagai persoalan yang tak kunjung usai. Alih-alih beradu argumen ideologis guna menyelesaikan persoalan bangsa, elite politik kita malah asyik berebut pengaruh dan kekuasaan. Pembusukan institusi legislasi tak terhindarkan. Kepercayaan rakyat pada para wakilnya tak pelak musti pupus bahkan sebelum mereka ‘bergerak’.

Sebagai himpunan besar bernama ‘rakyat’, sudah pasti kita kecewa. Lantas, kita pun bertanya, “Mengapa pentas politik menampilkan lakon wayang yang tak menarik?”, “Apakah padang kurusetra berpindah di ruang dewan?”, “Tidak adakah figur pemimpin yang patut jadi teladan bagi rakyatnya?”

Agaknya mereka lupa. Bisa jadi kita enggan membaca. Bahwa Republik pernah lahirkan tokoh pemimpin besar di masa lalu. Bahwa fakta sejarah itu tak hanya patut diperingati, apalagi berakhir di hafalan para pelajar sekolah negeri. Tanpa berniat lakukan glorifikasi,  penulis ingin hadirkan kembali ia yang berikan teladan terbaik kepemimpinan.

Terlahir dengan nama Masjhudul Haq (Pembela Kebenaran), agaknya menjadi spirit bagi Haji Agus Salim untuk selalu konsisten membela bangsanya dari penjajah. Spirit itu ia wariskan pada para pemuda Islam yang kelak lanjutkan jejak perjuangannya. Natsir, Roem, Kasman, Soeparno, dan banyak aktivis JIB (Jong Islamieten Bond) menjadikannya Bapak tempat bertanya dan menempa diri. Ia mendidik, bukan mengajari. Ia menyederhanakan persoalan, bukan membuatnya makin rumit. Ia tak mendikte solusi, tapi memberi ruang untuk  setiap kemungkinan alternatif jawaban.

Di awal berdirinya Republik, ia tampil penuh percaya diri di panggung dunia. Ia lakukan lawatan ke negara-negara Timur Tengah demi pengakuan kedaulatan atas negara yang terus mengalami invasi militer pihak Belanda. Karena diplomasi seorang poliglot (seorang yang mampu menguasai banyak bahasa) yang brilian ini, sejumlah negara Arab berturut-turut mendukung pengakuan kedaulatan Indonesia. Tak pelak, Soekarno menjulukinya, The Grand Old Man.

Dalam konteks politik, Haji Agus Salim pernah terlibat dalam situasi yang pelik. Intrik dan konflik internal melanda Sarikat Islam- Partai Sarikat Islam, ketika ia menjabat dalam struktur kepengurusan pusat. Hal ini akibat infiltrasi yang dilakukan Partai Komunis Indonesia. Ia selesaikan konflik dalam partai dengan cara yang beradab: adu argumen dan debat terbuka. Akhirnya, disiplin partai diterapkan. Mereka yang komunis tersingkir, purifikasi ideologi dilakukan dengan mantap. Meski menghendaki Islam sebagai dasar negara, Haji Agus Salim tidak bertindak agresif. Dengan kepala dingin, ia menjadi penengah kubu nasionalis dan kubu Islamis dalam Panitia Sembilan saat rumuskan dasar negara.

Diakui lawan politiknya, Willem Schermerhorn, hanya satu kelemahan Haji Agus Salim, yaitu “selama hidupnya selalu melarat dan miskin”. Deliar Noer, sejarawan Indonesia menguatkan pendapat ini: “Sampai akhir hayatnya, salim tak pernah hidup mewah, tidak mengeluh dengan keadaan dan tanpa mengurangi gairah perjuangan.”

Bagaimana tidak? Sampai akhir hayatnya, ia tak memiliki rumah tinggal yang tetap. Tanpa lelah dan keluh kesah, ia, istri, dan ketujuh anaknya berkali-kali pindah rumah kontrakan, sempat ia hanya mampu mengontrak satu kamar saja. Saat anaknya meninggal, ia bahkan tak memiliki uang guna membeli kafan. Ia cuci taplak meja dan kelambu untuk mengkafani anaknya.

Leiden is Lidjen, Memimpin adalah Menderita. Demikian keteladanan yang Haji Agus Salim ajarkan dengan tindakan. Bukan semata lewat spanduk dan iklan. Apalagi pencitraan murahan yang jadi bahan cemooh dan ejekan.

Semoga kita belajar..

 *ditulis untuk Buletin Kammi Uns

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s