Bullying di Sekolah Dasar: Akar Masalah dan Solusi


 “Huuu.. Dasar anak tukang becak!!” Teriak salah seorang murid laki-laki pada kawan perempuannya di kelas. Si anak perempuan ini tak terima atas ucapan bocah lelaki tersebut, serta merta ia gunakan tongkat pramuka untuk memukul badan si bocah lelaki yang menghinanya.

Ilustrasi di atas bukan terjadi di layar kaca sebagaimana yang selama ini kita lihat. Kejadian tersebut nyata terjadi ketika saya mengajar pramuka di salah satu Sekolah Dasar di Kota Surakarta. Istilah yang tepat untuk menggambarkan kejadian tersebut adalah bullying.

Menurut Judarwanto (2014), bullying adalah penggunaaan kekerasan atau paksaan untuk mengintimidasi anak lain. Kekerasan yang dimaksud bukan saja berupa kekerasan fisik, seperti memukul, menjambak, menampar, dan lain-lain, tetapi juga berbentuk kekerasan verbal seperti memaki, mengejek, menggosip, menghina dan kekerasan psikologis, seperti mengintimidasi, mengucilkan, maupun mendiskriminasikan.

Bila bullying berlanjut dalam jangka waktu yang lama, dapat mempengaruhi self-esteem siswa, meningkatkan isolasi sosial, memunculkan perilaku menarik diri, menjadikan remaja rentan terhadap stress dan depresi, serta rasa tidak aman. Depresi yang bercampur marah ini ia alami terhadap dirinya sendiri, pelaku bullying, serta orang disekitarnya dan orang dewasa yang tidak mau menolongnya. Dampak lanjut dari depresi adalah agresi, yakni perilaku serupa yang akan ia lakukan pada kawan yang lebih lemah. Hal tersebut kemudan mulai mempengaruhi prestasi akademiknya. Dalam kasus yang lebih ekstrim, bullying dapat mengakibatkan remaja berbuat nekat, bahkan bisa membunuh atau melakukan bunuh diri.

Akar Masalah

Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan selama mengajar, ada dua alasan yang mendorong seorang anak melakukan bullying yakni alasan internal dan eksternal. Alasan internal berasal dari diri anak sendiri berkenaan dengan faktor biologis dan psikologis. Sementara, alasan eksternal berasal dari luar pribadi anak yang berupa pola interaksi sosio-kulturalnya. Kedua alasan ini tidak dapat dipisahkan, sebab keduanya saling berkaitan. Untuk menunjang pembahasan yang utuh, penulis akan membahasnya secara berurutan, bukan terpisah.

Secara tradisional, masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan. Suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi dan sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak berada dalam tekanan sosial dan mereka menghadapi kondisi baru, sedangkan ia belum siap menghadapi keadaan itu.

Masa yang harus ditempuh anak saat menapaki jenjang pendidikan dasar (SD-SMP) adalah masa yang kompleks, sebab di masa inilah identitas diri dan konsep diri seorang anak mulai terbentuk. Konsep diri anak tidak hanya terbentuk dari bagaimana orang lain percaya terhadap keberadaan dirinya, tetapi juga dari bagaimana orang lain percaya tentang keberadaan dirinya. Hal ini ditegaskan oleh Erikson yang berpendapat bahwa penemuan jati diri sesorang didorong oleh pengaruh sosio kultural.

Faktor pubertas dan krisis identitas normal terjadi pada perkembangan remaja. Dalam rangka mencari identitas dan ingin eksis, biasanya remaja lalu gemar membentuk kelompok/geng. Menurut Erikson, pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok-kelompok, baik kelompok kecil maupun kelompok besar. Dalam menetapkan pilihan kelompok yang diikuti, didasari oleh berbagai pertimbangan, seperti moral, sosial ekonomi, minat, dan kesamaan kegemaran. Kelompok ini sebenarnya sangat normal dan bisa berdampak positif. Tiap anggota kelompol dapat belajar berorganisasi, memilih pemimpin, dan mematuhi aturan kelompok, namun jika orientasi geng kemudian ’menyimpang’ hal ini kemudian menimbulkan banyak masalah.

Penyimpangan yang terjadi adalah penindasan yang terjadi pada kelompok yang berkuasa terhadap kelompok marginal, maupun dalam internal kelompok tersebut apabila ada pribadi yang dianggap menyimpang dari aturan kelompok.

Secara sosiokultural, bullying merupakan dampak dari lingkungan yang memberikan referensi kepada remaja bahwa kekerasan bisa menjadi sebuah cara pemecahan masalah. Misalnya saja aksi kekerasan dari kelompok-kelompok massa di lingkungan sekitar maupun tontotan-tontonan kekerasan yang disuguhkan melalui media visual. Walaupun tak kasat mata, budaya feodal dan senioritas pun turut memberikan atmosfer dominansi dan menumbuhkan perilaku menindas. Padahal, anak belajar dengan meniru dan mempersamakan diri (learning by identification). Anak akan menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru.

Solusi

Solusi terbaik untuk menghentikan perilaku bullying adalah tindakan terintegrasi yang melibatkan seluruh komponen mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Keluarga harus dapat menjadi tempat  yang nyaman untuk anak. Orangtua hendaknya mengevaluasi pola interaksi yang dimiliki selama ini dan menjadi model yang tepat dalam berinteraksi dengan orang lain. Orangtua haruslah mengajarkan anak untuk melindungi dirinya sendiri dalam arti menghindarkan diri sebagai korban maupun pelaku kekerasan.

Sekolah adalah lingkungan artifisial yang sengaja diciptakan untuk membina anak-anak ke arah tujuan tertentu, termasuk pembentukan sikap dan karakter. Kurikulum Sekolah Dasar harus mengandung unsur pengembangan sikap prososial yang mendukung tumbuh kembang mental dan karakter anak, dengan guru menjadi ujung tombak percontohan/teladan. Maka, tugas guru adalah konsisten dengan pengelolaan kelas dan memperlakukan siswa secara manusiawi. Bukan melulu memberikan punishment apabila mereka bertindak kasar/ di luar kendali, termasuk bagi mereka yang melakukan bullying.

Selama ini, kebanyakan guru tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi di antara murid-muridnya. Sangat penting bagi guru memupuk kedekatan hubungan dengan peserta didik dan membangun kepercayaan pada mereka, sehingga anak secara aktif mau mengkomunikasikan berbagai persoalan yang dihadapinya. Hal ini akan mencegah anak menjadi pelaku maupun korban bullying. Yang jelas, kedua-duanya wajib kita selamatkan!

 

Referensi:

Sunarto, dkk. (1995). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Dikti.

Yudharwanto, Widodo. (2014). Bullying di Sekolah, Cara Pencegahan dan Penanganannya.  Diunduh dari growupclinic.com/ pada 16 November 2014 pukul 13.00 WIB

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s