Tiga Belas Jam


Kemarin siang Joseph menjemputku di asrama. Dia memintaku menemaninya menonton film yang aku sendiri tak tahu judulnya. Aku hanya bilang: ya, aku mau. Itu saja. Aku tak pernah bisa katakan tidak pada permintaan Joseph. Sedari dulu. Ia abangku yang terbaik.

Sepanjang perjalanan, kami ngobrol banyak hal. Memang selalu menyenangkan bersama Joseph. Jadi, perjalanan satu jam di mobil itu tak kikuk, tak hambar, malahan (seperti tadi kubilang) sangat menyenangkan. Aku ingat, waktu ia katakan bahwa ia punya kemampuan interpersonal yang baik, aku yakin itu serius.

Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno dan Rurouni Kenshin: The Legend Ends. Dua judul itu adalah film yang akan kami tonton. Sebelumnya, aku tak pernah tahu seri pertamanya. Aku tak begitu punya ketertarikan pada film. Malah, aku hanya menonton film-film yang ia rekomendasikan. Macam Life of Pi, Batman, Habibie-Ainun. Yap, itu. Makanya sebelum masuk bioskop, ia berikan prolog lebih dulu soal film yang akan kami tonton. Panjang. Aku menangkapnya dengan baik, kurasa. Penggambaran karakter tokoh yang tak melulu hitam putih adalah bagian terbaik film ini. Kita tak akan bisa menghakimi Aoshi, Shishio, Sojiro, dan tokoh-tokoh ‘antagonis’ lainnya dengan mudah. Kita tak akan merasa Kenshin adalah pahlawan putih yang sejati.

Di Kyoto Inferno, tokoh yang paling kusuka adalah Seta Sojiro. Penampilannya imut dan terkesan innocent, padahal dia adalah seorang psikoat dengan kemampuan bertarung yang baik. Bahkan ia patahkan pedang punggung Kenshin dalam sebuah pertarungan ‘teknik’. Adegan yang paling menyihirku adalah pertarungan antara Aoshi dan The Elder, Penjaga Rahasia. Entah kenapa, dalam adegan itu perasaanku ikut tercabik. Mungkin, karena aku mengidentifikasi diriku sebagai adik Aoshi. Berharap sekian lama demi kembalinya sang kakak. Namun, saat ia kembali, ia hanya punya satu hasrat: membunuh Battosai Himura. Dan saat ia menebas dada The Elder dengan pedangnya, ia hanya berkata sambil lalu pada adiknya, “Aku bukan Aoshi yang dulu lagi.” Rasanya, perih. Tapi, Aoshi tak salah.

Di The Legend Ends, tokoh yang paling kusuka adalah Makoto Shishio. Aku merasakan suatu perasaan simpatik pada tokoh ini. Ia terbuang. Ia dibakar. Ia kumpulkan mereka yang kecewa dan sakit hati. Dan ia kembali untuk menuntut balas atas perlakuan tak adil yang diterimanya. Sangat manusiawi. Adegan yang paling membuatku tak kedipkan mata adalah saat Kenshin beradu pedang dengan gurunya untuk mempelajari suatu jurus pamungkas. Adegan ini menarik karena hampir mirip dengan adegan di Batman Begins saat Bruce berlatih dengan gurunya: R’As Al Ghul. Lain kali, akan kucatat deh tiap perkataannya. Bruce dan Kenshin sama-sama merasa bersalah sepanjang hidup, sama-sama tak berhasil ketahui kelemahan (Kenshin) dan ketakutan (Bruce) mereka. Menyentuh!

Jeda antara kedua film itu dua jam. Dan waktu kembali berlalu dengan cepat. Joseph membuatku mendengar. Itu bagian terbaiknya. Untuk kali kedua aku berani beradu pandangan dan mencari matanya. Aku tak takut lagi ia ‘membaca’ diriku. Aku tak gentar lagi. Kata Joseph, mataku tak bisa bohong. Saat kali pertama jumpa, ia kata tatapanku padanya: waspada dan meremehkan. Kurasa itu telah berubah sekarang.

Aku mengantuk sekali sepanjang perjalanan pulang. Jadi aku pejamkan mata dan katakan ingin tidur. Tapi lagu-lagu Crisye yang ia putar sepanjang perjalanan pulang terus berdengung di telingaku sampai pagi.

Tiga belas jam aku bersamanya, dan aku tetap merasa ia abangku yang terbaik. Tak kurang dari itu.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s