Pintu Kalbu


Dalam hubungan sejati tidak akan ada rasa takut, sedangkan berbagai bentuk pertahanan pun akan runtuh. Seringkali cinta menjadi rusak jika salah satu pihak merasa takut kalau-kalau kelemahan-kelemahan serta kesalahan-kesalahannya terungkap…cinta akan menjadi rusak bukan terutama oleh perasaan bahwa kita tidak dihargai, melainkan oleh rasa takut… jangan-jangan orang lain akan mampu melihat menembus topeng-topeng kita..(Frank G.Globe dalam Mazhab Ketiga: Teori Psikologi Abraham Maslow.

Aku rasa, apa yang dikatakan Globe banyak benarnya. Jelas, aku tak hanya sekadar berasumsi. Aku sendiri mengalaminya. Saat bicara dengan orang lain tentang persoalan yang kuanggap pribadi, bukannya menutup-nutupi kenyataan, aku lebih memilih mengalihkan pembicaraan. Kukira tak akan jadi soal bila aku bicara jujur dan apa adanya, tetapi, aku takut kehilangan simpati jika aku tetap menjadi diriku dengan segala ambiguitas, pesimisme, dan skeptisisme yang mengakar kuat dalam diri.

Mereka mati-matian meyakinkanku bila yang kulakukan salah (mungkin hanya perasaanku saja). Mereka membenarkan keyakinan mereka dengan begitu antusias dan percaya diri. Dan aku mencoba peduli, mencoba mendengar, tapi pada akhirnya aku gagal. Suara-suara sumbang itu hilir mudik di sekitar, lewat pesan teks, atau chat, lalu terlupakan dan pergi dari ingatan.

Kita boleh bersembunyi di balik emoticon dan emoji yang tersedia berlimpah di ponsel kita. Memperlihatkan antusiasme, meski tak peduli. Menunjukkan empati, meski sebetulnya meremehkan. Tapi, bisakah kita tetap lakukan kemunafikan itu pada ia yang kita cinta? Tidak!

Best relationship: talk like best friend, play like children, argue like husband and wife, protect each other like brother and sister. Begitu kata orang. Dan hal yang pertama yang harus kita lakukan adalah menghilangkan ketakutan-ketakutan tak beralasan itu.

Saat menyusuri Slamet Riyadi bersama Joseph dua tahun silam, tak berani kupandang matanya. Aku begitu takut ia akan membaca apa yang kupikirkan, menebak yang kukatakan, sadari segala prasangka dan curigaku padanya, pada hidup, pada jalanan yang bising. Lalu, aku biarkan ia menatap mataku dan menyusuri tiap gurat prasangka, curiga, pesimisme, dan kehancuran bertubi-tubi yang menghantamku terus menerus. Secara adil, ia pun mengizinkanku melihat kesepian, kehilangan, dan kesakitan yang pernah menderanya.

Saat aku bersamanya kemarin, ia meninggalkanku sejenak di tengah keramaian. Suara bising itu memenjarakanku. Aku menerawang ke sekitar dan tatapanku kosong. Begitu lega saat ia kembali. Dan aku mampu menatap matanya sembari mendengar ia bicara tentang ayahnya, kakaknya, mamanya, kenangan-kenangan semasa kuliah. Suara bising itu tak ada lagi.

Aku tak katakan bahwa pengalaman ini begitu istimewa. Kita semua pernah mengalaminya dalam bentuk yang sama atau berbeda. Mungkin, pengalaman ini akan terlupa begitu saja jika tak kutulis dalam catatan harian, tertimbun oleh ragam kenangan lain yang juga berharga. Toh, tak satu pun momen kebersamaan kami yang terekam dalam lensa kamera, no pict=Hoax, kata orang. Tak ada bukti otentik. Haha. Jelas kami tak pernah melakukannya, mustahil malah. Sebab, ia benci dengan mereka yang sibuk jeprat jepret foto dan sibuk dengan gadgetnya saat sedang ngobrol dengan orang lain. Ia lebih senang melihat, mendengar, mengalami, menikmati, dan menyimpan semua kenangan dalam ingatan.

Yang ingin kukatakan adalah, kau tak akan bisa membuka dengan lapang dada topeng berlapis yang kau kenakan jika kau hanya terus bersembunyi dibalik emoticon dan emoji. Kau harus menatap matanya dalam-dalam! Sungguh, mata adalah pintu kalbu..

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s