Ekstase Malam


Manusia selalu sadar bahwa ada yang tidak beres dalam kondisi dirinya. Mereka merasakan kejanggalan dengan dirinya sendiri dan orang lain, kadangkala mereka merasa tak terhubungkan dengan hakikat batinnya sendiri dan kehilangan arah akan hidupnya. Meskipun didera begitu banyak konflik, nyatanya tak henti jua mereka memadukan berbagai fenomena yang beragam itu untuk kemudian mereduksinya menjadi semacam ‘kesatuan utuh yang tertata’.

Seluruh alam direduksi menjadi atom-atom individual yang tak terbilang jumlahnya, ruang dan waktu menjadi bagian yang diskontinu dan gagal menemukan identitas spesifik bagi dirinya. Batin serta merta mencari dimensi yang tersembunyi di relungnya yang gelap, ia membiaskan simbolisme yang tak ada kaitannya dengan akal dan logika, namun anehnya, dirasa begitu pas untuk menyingkap realitas yang lebih dalam dari konsep yang mampu dicerna oleh indera dan konsepsi rasional.

Sebentuk jasad teridentifikasi sebagai manusia manakala kita lihat dengan kasat mata adanya tangan, kaki, kepala, badan, mata, hidung, telinga yang (kesemuanya) mendorong kita mengorganisasikannya dalam persepsi dan bawah sadar kita menjadi sebentuk ‘manusia’. Selalu ada dorongan menuju ke arah keutuhan yang bersifat fundamental menuju kebenaran mendasar akan realitas.

Setiap bentuk yang tercecer dalam realitas yang kita saksikan terasa lebih real dan signifikan dibanding segala imajinasi yang menghuni benak kita. Hal ini seolah menjelaskan dengan gamblang bahwasanya kehidupan di dunia ini memiliki makna dan nilai penting, meskipun beberapa hal menyedihkan terjadi dan menunjukkan fakta yang bertolak belakang.

Ada orang yang berusaha mendeduksikan suatu kepastian dengan mengempiriskan prinsip-prinsip semesta. Ada orang yang membuat preposisi sederhana untuk menginduksikan kebenaran-kebenaran yang akan terbukti dengan sendirinya. Ada para peragu yang menyusun ulang kaidah ontologis dan memberi batasan akan hakikat.

Dan kini, tentangmu. .

Aku membuat ruang untukmu sendiri dalam relungku. Bukan sebagai bentuk jawaban akan hadirmu yang begitu tiba-tiba, ruang dalam relungku adalah keniscayaan yang serta merta tercipta sebab kau datang dan selalu datang, mengisi ruang dan waktu tempatku hidup, bergerak, dan mewujud.

Ruangmu menyimpan sebentuk ‘aku’, ‘aku’ yang melayang di dalam semesta yang tanpa batas, melihat dalam dirimu lewat beningnya kaca jiwa!

Jiwamu dan jiwaku, manunggal.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s