Pesta Tahun Baru, MEA, dan Ekstase Masyarakat Konsumer


Perayaan tahun baru di Kota Solo tahun ini dirundung kelabu. Beberapa hari jelang momen pergantian tahun, Pasar Klewer yang merupakan salah satu jantung perekonomian Kota Solo habis dilalap api. Demi nama kemanusiaan, dan tentu saja atas nama solidaritas, gaung kemeriahan tahun baru pun turut dipadamkan. Akan tetapi, antusiasme warga Solo untuk memeringati momen ini nyatanya tak turut padam. Ribuan orang memadati jalan Slamet Riyadi mulai sejak ba’da isya hingga lepas tengah malam jelang hari pertama di tahun 2015.

Saya termasuk salah satu orang yang turut berjubel memadati Slamet Riyadi malam itu. Turut menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri begitu banyak anonim manusia yang duduk berjejer di sepanjang trotoar, membentuk ratusan lingkaran kecil di tengah jalan, ataupun menyantap ragam kuliner yang dijual berjejer sepanjang Purwosari-Gladak itu. Meski tak meriah, dan bahkan cukup lengang karena matinya listrik, kembang api beberapa kali dinyalakan menghias langit malam yang gerimis.

Ada perasaan hampa yang menerpa saya demi melihat momen pergantian tahun yang hening ini. Di tengah temaramnya pencahayaan yang hanya hadir dari gedung-gedung bertingkat di kanan kiri jalan, saya melihat wajah-wajah lelah yang memimpikan harap akan datangnya matahari baru di tahun mendatang. Terwujud atau tidak harapan itu, hanya Tuhan yang kan menjawab. Bukankah manusia memang hanya bisa berupaya sebaik-baiknya?

Akhir tahun mendatang, saya dan ribuan anonim manusia yang memadati Slamet Riyadi ini akan menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Kami semua harus siap melihat ketimpangan yang lebih besar. Bukan hanya ketimpangan pasar yang terbakar dan meriahnya sekaten di alun-alun. Kami harus siap melihat betapa yang besar akan semakin besar, sementara yang kecil semakin tergilas. Kami harus mengelus dada saat menyaksikan penghasilan kelompok atas dan menengah lepas bebas, sementara kelompok kecil akan selalu di atur dan di tekan serendah-rendahnya. Potret buram in akan hasilkan kesenjangan antara mereka yang termanjakan oleh fasilitas mewah dan mereka yang terhimpit dan tertindih titik nadir kesusahan.

Perluasan dan integrasi pasar yang tercermin dari diberlakukannya MEA sedikit banyak telah terlihat dampaknya. Perilaku konsumtif masyarakat telah muncul di berbagai kategori usia, lapisan, dan kelompok. Hal ini tercermin dari lenyapnya dimensi moral, kehangatan spiritual, dan makna kemanusiaan itu sendiri. Sekali lagi, persoalan MEA bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga gesekan lapisan moral, sosial, dan kebudayaan.

Perayaan malam tahun baru kemarin adalah perayaan yang pertama saya ikuti sejak saya lulus dari bangku Sekolah Dasar. Saya berharap akan mendapati ribuan orang yang saling berbagi kisah refleksi tentang satu tahun yang telah terlewati dan resolusi yang mereka canangkan satu tahun mendatang. Saya kira akan melihat orang-orang yang saling menggenggam tangan erat untuk ucapkan maaf dan terima kasih atas kebersamaan yang penuh makna sepanjang tahun. Namun, yang saya lihat di hadapan saya adalah orang-orang yang detik demi detiknya sibuk berpose di depan kamera, mengunggahnya ke jejaring sosial, dan saling berbagi cerita dengan kawan mayanya.

Fenomena ini kerap diklaim sebagai salah satu bentuk ekstasi. Ekstasi, menurut Jean Baudrillard, adalah kondisi mental dan spiritual di dalam diri setiap orang yang berpusar secara spiral, sampai pada satu titik ia kehilangan setiap makna, dan memancar sebagai sebuah pribadi yang hampa. Seseorang yang tenggelam di dalam pusaran siklus hawa nafsunya, pada titik ekstrem menjadi hampa akan makna dan nilai-nilai moral.

Ekstasi dalam masyarakat kita hari ini tercermin dalam suntikan ekstasi yang pragmatik dan narsistik. Yasraf Amir Piliang membaginya dalam banyak term. Tiga diantaranya adalah ekstasi komunikasi, ekstasi sosial, dan ekstasi internet. Ekstasi komunikasi adalah esktasi dalam berkomunikasi tanpa merasa perlu adanya pesan dan makna komunikasi. Ekstasi sosial yakni ekstasi dalam bersosialisasi secara global tanpa merasa perlu berinteraksi secara fisik. Dan, ekstasi internet, yakni sosialisasi global yang membuat dunia bergerak mengelilingi kita melalui internet. Bentuk-bentuk ekstasi ini mengantarkan masyarakat kita menjadi masyarakat konsumer yang senang bertamasya menuju siklus trance/ pencerahan semu.

Masyarakat kita saat ini menjadikan jejaring sosial sebagai gaya hidup yang menggoda. Jejaring sosial ini menawarkan penampakan ilusi, kenyamanan, kegairahan, prestasi, dan ekstasi. “Saya mengunggah foto di facebook yang di-like oleh ratusan orang, saya eksis, saya berhasil.” Namun, berhasil dalam hal apa? Jumlah like atau komentar kah? Prestasi jumlah like ini adalah prestasi semu yang menenggelamkan manusia dalam ekstasi pengalaman puncak narsistik yang terdalam. Sebab, sejatinya tak ada nilai guna dari jumlah like dan komentar selain citraan narsistik pada diri.

Citraan semu ini terus dikejar demi mendapat pengalaman puncak, ilusi akan keberhasilan yang tercipta dari banyaknya like dan komentar di jejaring sosial. Maka, tak heran citraan semu ini menjadi pasar untuk dijajah komoditi. Tak cukup menggunakan efek cantik lewat aplikasi gratis di internet, demi mendapat penampilan sempurna di layar kamera, seseorang rela melakukan perawatan wajah senilai jutaan rupiah. Maka tubuh pun kini hanya jadi seonggok daging terbungkus kulit yang padanya dipakaikan baju yang sesuai mode dan ragam aksesoris yang memikat.

Yang perlu kita sadari adalah bahwa perubahan sistem nilai budaya demi terwujudnya consumen culture adalah pilihan rasional ekspansi pasar ke negara berkembang agar tindakan konsumtif tetap terjaga. Selain menggunakan iklan sebagai media advertensi, ekstase narsistik masyarakat juga dipupuk menjadi lahan subur serbuan komoditas asing.

Pertanyaan besar yang belum terjawab adalah, sejauh mana kesiapan kita menghadapi era pasar bebas di akhir tahun mendatang jika kita belum jua bisa lepas dari budaya ekstasi masyarakat konsumer ini?

Surakarta, 5 Januari 2015

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s