Bukan Pasar Malam


“Mengapa kemudian kita harus bercerai berai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang-orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasar malam.” (h.95)

Seorang pelayat bertanya dalam suasana duka oleh sebab kawan main judinya mati. Pertanyaan itu tak mendapat jawaban. Yang mendengar tertawa. Yang bicara pun tertawa. Mungkin yang bicara pun tak mengerti apa yang telah diucapkannya. Kemudian, percakapan itu mati.

Pram, seperti lazimnya ia, mengisahkan dengan apik kisah keperwiraan seorang dalam revolusi yang pada akhirnya melunak ketika dihadapkan pada kenyataan sehari-hari; pesakitan yang meregang nyawa, kemiskinan yang mendarah daging, serta ketidakberdayaan yang syahdu.

Berpotong-potong kisah itu terbingkai dalam sebuah perjalanan yang hadirkan kembali kenangan yang pernah dilalui. Kenangan-kenangan itu sewenang-wenang menyerbu dalam kepalanya tanpa permisi. Membuatnya tersenyum saat sadari bahwa memang terkadang manusia terlampau kuat dan menenggelamkan kesadarannya.

Hari-hari yang dibayangi maut membuatnya sadar; sama seperti berlalunya malam, demikian pula hidup manusia yang lenyap sedetik demi sedetik tanpa disadari. Meninggalkan berbagai persoalan yang bukannya menua, malah meremaja bersama pusaran arus waktu.

Membaca Bukan Pasar Malam karya Pram ini membuatku kembali mendefinisikan diriku, hidupku, keberadaanku di dunia, dan akhir cerita hidupku.

Jelang dua puluh satu tahun masa usiaku, aku telah menjalani hidup seperti wanita kebanyakan, tak ada yang istimewa, tak banyak hal berbeda kecuali hal-hal yang detail. Pada intinya, aku adalah orang yang biasa-biasa saja, yang tak pernah berpikir untuk lakukan hal-hal besar, atau bertindak layaknya pahlawan yang mewujudkan hal-hal besar.

Banyak orang suka membaca, aku salah satunya. Dan saat aku membaca, aku seperti melihat diriku tengah berperan dalam skenario cerita yang ditulis dalam buku-buku. Aku telah membaca sedikit dari jutaan buku yang ada, namun cerita hidupku sama membosankannya seperti dalam roman-roman usang yang mudah dicari referensinya. Tak ada yang istimewa.

“Mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah bisa mencintai seorang manusia, dan orang itu pun mencintai kita..” (h.95)

Ah, betapa indahnya hidup yang singkat ini bila kita bisa dicintai seorang manusia dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya berdasarkan perasaan, akan tetapi juga pada kenyataan yang apa adanya tentang diri dengan segenap paradoks dan ambiguitas yang melekat.

Aku tak lagi harapkan cinta yang berakhir indah dan romantis sebagaimana tertulis dalam buku-buku. Dalam kehidupan nyata, kisah itu berakhir dramatis dan tragis. Kita dipaksa menangis sejadi-jadinya, jatuh sedalam-dalamnya, menerima seperih-perihnya. Itulah hidup. Hidup yang hanya menunda kekalahan, kata Chairil.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s