Perjalanan Odysseus dan Kesetiaan Penelopeia


Ada beberapa alasan yang membuatku memiliki keterikatan dengan sebuah buku. Pertama, aku membutuhkannya sebagai sumber literatur. Kedua, adilnya penulis yang tak menghitam-putihkan setiap sosok yang membangun jalan cerita. Ketiga, aku melihat diriku ‘dikisahkan’ sebagai pemeran dalam cerita yang disajikan penulis.

Hal yang membuatku terikat dengan Iliad dan Odyssey disebabkan dua alasan terakhir. Seperti Mahabharata, karakter dalam kedua kisah ini sangat kompleks. Kita tak bisa menghomologkan label baik dan buruk dalam sebuah kisah peperangan. Mereka yang tampil sebagai antagonis, memiliki peran yang sama sebagai pahlawan di sisi yang lain. Relasi antara para tokoh ‘manusia’ dengan Dewa-Dewi yang juga turut berkomplot dan berseteru menyelesaikan konflik cukup menarik untuk ditelaah lebih lanjut, apalagi jika kita ingin membandingkannya dengan konsep Dewa-Dewi dalam pewayangan Jawa.

Iliad dan Odyssey adalah kisah klasik yang melegenda hampir tiga ribu tahun lamanya. Berkisah tentang pertempuran antara Yunani dan Troya yang tak hanya melibatkan pasukan kedua kubu, melainkan juga Dewa-Dewi yang bersemayam di Olympus.  Pertentangan bermula dari kemarahan  Raja Agamemnon atas  penculikan Putri Helena oleh Paris. Untuk merebut kembali sang putri, ia pun mengerahkan pasukan untuk menyerang Troya. Hal ini mendapat penentangan dari Achilles, yang menganggap penyerangan ini hanya sebagai bentuk kesombongan Agamemnon.

Akhirnya, pasukan Yunani bisa mengalahkan Troya, meskipun membutuhkan waktu dua puluh tahun lamanya. Bukan oleh Diomedes atau Achilles, tapi berkat ide cemerlang Odysseus dengan dibantu oleh para Dewa. Namun, kemenangan pasukan Yunani atas Troya ternyata tak berakhir indah. Para Dewa marah karena tindakan brutal yang dilakukan pasukan Yunani yang  menghancurkan kuil-kuil dan membunuh ternak milik Helios, Dewa Matahari.

Odysseus, tokoh utama dalam novel kedua mengalami rintangan terberat sepanjang perjalanan pulangnya. Mulai dari pertempuran melawan bangsa Ciconian,  perang melawan Cyclop yang membantai semua sahabatnya, hingga badai yang menenggelamkan kapalnya dan membawanya ke negeri raksasa biadab yang menghabisi seluruh anak buahnya yang tersisa. Tak cukup sampai di sana, ia pun harus berhadapan dengan berbagai monster yang mengerikan sampai kemudian Zeus menghancurkan kapalnya dan membuatnya terdampar di Pulau Ogygia. Penolakannya menjadi Dewa membawanya pada Bangsa Phaiachian yang mengantarkannya pulang bertemu isteri dan anaknya kembali.

Keindahan kisah Odyssey adalah pada jalinan cinta yang terbingkai antara Odysseus dan isterinya, Penelopeia. Meskipun harus melewati perjalanan panjang dan berat, Odysseus tetap bersikeras melewatinya demi  bertemu kembali dengan isteri yang dicintainya. Pun, demikian halnya Penelopeia yang sudi menunggu selama dua puluh tahun lamanya meskipun puluhan bangsawan telah melamarnya.

Kedalaman cinta Penelopeia pada suaminya tergambar dari ikrarnya: Ia bersedia menerima lamaran salah satu bangsawan apabila ia telah selesai membuat rajutan kain kafan untuk ayah mertuanya. Namun, kenyataannya ia senantiasa membongkar kembali rajutan yang telah ia buat sepanjang siang saat malam datang, sehingga rajutan itu tak pernah selesai. Dalam ratapannya, Penelopia berkata;

“Seandainya Artemis menusuk hatiku dengan panahnya! Biarkan aku bertemu kembali dengan suamiku untuk terakhir kalinya, dan setelah itu biarlah aku mati menanggung penderitaanku! Manusia dapat menanggung penderitaan dalam hari-hari panjang yang penuh air mata, selama ia bisa memejamkan matanya pada malam hari: karena tidur dapat membuat lupa segala hal, kebaikan atau keburukan; namun aku dihantui mimpi buruk. Betapa bahagianya aku jika malam dapat tidur di samping suamiku, sama seperti pada hari ketika ia meninggalkanku..”

Akan halnya ketika Odysseus kembali di sisinya, Penelopia tak berusaha menahannya agar ia tak lagi pergi melanjutkan petualangannya. Meskipun baru semalam mereka kembali bersama, Penelopia merelakan suaminya pergi melanjutkan tugasnya. Ia hanya berkata;

“Jika para Dewa menganugrahimu usia panjang dan kebahagiaan sampai masa tuamu, berarti kau punya kesempatan untuk melakukan perjalanan lainnya!”

Sebagai pembaca yang budiman, aku trenyuh pada kisah cinta yang manis ini. Dunia percintaan hari ini telah kehilangan dua hal yang paling  esensial dan bermakna dalam sebuah hubungan: kesetiaan dan penerimaan.

Kau merasa teristimewa? Jangan senang dulu. Kau akan kalah oleh dia yang selalu ada. Begitu kata orang. Dalam dunia dimana perasaan berubah makna menjadi status, obrolan hangat penuh kasih berganti teks-teks hambar di aplikasi BBM atau WhatsApp, kesetiaan menjadi hal mendasar yang wajib ada dalam sebuah hubungan. Ia yang istimewa, tetaplah harus menjadi yang teristimewa, dengan atau tanpa lampu hijau berpendar di samping namanya saat kita membuka smartphone untuk online.

Soal penerimaan, mungkin hanya akan bernyanyi lirih dengan suara sumbang lagu Crisye ini; 

Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu

Selagi masih ada waktu

Jangan hiraukan diriku

Aku rela berpisah, demi untuk dirimu

Smoga tercapai sgala keinginamu

Yang ku tahu, dalam sebuah hubungan, secara sadar kita harus saling mendorong, saling menopang. Kalau kata seorang Ustadz: jangan jatuh cinta, tapi bangunlah cinta. Demikian.

2 tanggapan untuk “Perjalanan Odysseus dan Kesetiaan Penelopeia

  1. Nice. Namun Cinta Nabi Sholallahu ‘alaihiwassalam kepada Ummul Mu’miniina Khadijah ra lebih “indah” & nyata dibanding kisah diatas. Begitu juga kisah kasih Ali bin Abi Thalib ra kepada Sayyidah Fathimah ra. 🙂

    Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s