Curhat yang Belum tuntas


Malam tadi, aku mengobrol santai bersama sahabat-sahabatku. Oleh sebab umur yang kian menua, perbincangan kami yang dulu saat SMA hanya berkisar soal pelajaran, guru, dan kegiatan ekstrakulikuler, kini berubah jadi perbincangan soal target: Kapan lulus? Kapan nikah? Hah!

Aku lupa siapa yang duluan memulai obrolan tak penting ini. Hanya saja, entah kenapa, kalimat ini meluncur begitu saja dari mulutku: “Menurutku kita nggak selalu bisa memperturutkan kehendak kita soal ‘cinta’. Misal, suatu ketika kita ‘suka’, atau katakanlah jatuh cinta dengan seseorang. Jelas tanpa alasan. Tapi, kita tahu banget bahwa antara kita dan dia yang kita suka ada berbagai perbedaan paling prinsipil yang nggak bisa disatukan. Masa iya kita harus memperturutkan cinta dan berubah menjadi bukan kita yang sebenernya selama sisa hidup kita? Ih, nggak mau ah. “

Siang ini, aku mau meneruskan lagi argumenku yang belum selesai. Biar aku lega.

Ada alasan mengapa kita menemukan perasaan aman dan nyaman dengan mereka yang menjalani hari-hari bersama dengan kita, menghargai mimpi-mimpi kita, serta tak pernah sedikit pun mengecilkan harapan akan asa yang kita tuliskan. Ada alasan mengapa terkadang aku enggan berbagi cerita pada orang-orang yang selalu memandang sebelah mata, katakan bahwa apa yang kuinginkan sangatlah utopis, apa yang kuperjuangkan selama ini hanya omong kosong. Mungkin pribadi mereka tak pernah katakan selugas itu, tapi aku bisa menangkap jelas maksudnya. Sangkaku, itu karena mereka mengkonsumsi bacaan best seller yang punya tendensi misoginis dan mereduksi peran perempuan. Kamu pasti tahu buku yang ku maksud.

Dalam sebuah kajian yang pernah kuikuti, sang ustadz mengatakan: alangkah indah bila kita mewakafkan diri kita bagi ummat. Yang beliau katakan bukan sekedar kata. Aku tahu betul bagaimana ia dan keluarganya melaksanakan dengan penuh kesungguhan apa yang ia katakan. Bukan macam orang-orang yang sekedar nyinyir perkara kafir, yahudi, konspirasi, dan segala tetek bengeknya di media sosial. Mereka betul-betul melayani ummat dengan ikhlas dan tawadu’, dengan hal-hal sederhana yang mereka lakukan dan nyata kebermanfaatannya untuk orang-orang di sekitarnya. Bukan macam orang-orang yang sok-sokan memperdebatkan soal masuk ke sistem atau koarkan birokrasi yang lebih bersih dan transparan, sementara dirinya pun terhanyut dalam arus yang kian turbulen.

Potret keluarga sesederhana itu lah yang ingin kubangun suatu saat nanti. Dan segalanya bukan bermula dari cinta abege labil sebagaimana sering kutuliskan di blogku. Tapi dari kesadaran yang hakiki akan makna perjuangan dan pengabdian sebagai umat manusia yang mewakafkan dirinya untuk beribadah pada Alloh serta secara kolektif mengembangkan nilai-nilai itu dalam ikatan ‘keluarga’ yang dipertautkan atas kesejatian iman.

Tentu saja, ikatan itu tak akan pernah kujalin dengan ia yang remehkan mimpi-mimpiku, mengerdilkan pilihan sikapku, dan merasa dirinya paling layak untuk mengkapling-kapling tanah surga.

Aku ingin berjuang bersama denganmu, melangkahkan kaki dengan penuh kesungguhan untuk menuju-Nya. Senantiasa mengingatkan bahwa harta yang sesungguhnya adalah ia yang bersinar terang di dalam jiwa, yang menuntun kita terus membuat jejak jejak kebaikan. Look inside your heart, kata Mariah Carey.

Sudah, begitu saja.

4 tanggapan untuk “Curhat yang Belum tuntas

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s