Korupsi! Korupsi!


Bakir, nama pak tua itu. Sudah dua puluh tahun ia menjadi pegawai. Hanya sepeda tua berkarat yang jadi kawannya. Ia butuh uang untuk anak-anaknya yang akan melanjutkan sekolah, juga untuk mengusir keluarga Tionghoa yang menyewa beberapa kamar di rumahnya sebagai warung yang saban hari hadirkan keributan.

Kebutuhan akan uang itulah yang membuatnya gelisah siang malam. Ia butuh sumber penghasilan yang memungkinkan. Namun, ia hanya pegawai biasa yang andalkan kenaikan sedikit gaji tiap tahunnya. Tak akan cukup. Tak akan cukup. Hingga akhirnya, terbetiklah dalam hatinya, seperti sudah jamak di masa kini: korupsi! Berdengung kata itu di tiap dinding dan tiap benda di kamarnya: korupsi! Korupsi!

Hatinya sakit mengingat betapa selama ini kejujuran telah membuat ia dihargai sebagai pribadi yang bermartabat akan lenyap begitu saja, berganti dengan keculasan dan kecurangan yang ia niatkan. Dengung kata Korupsi itu ternyata lebih berkuasa dan merobohkan pertahanan idealismenya. Berawal dari hasil pencurian persediaan alat tulis kantor yang ia jual pada tauke sebesar dua puluh rupiah, semakin menjadi lah hasrat Bakir untuk lakukan korupsi, lagi dan lagi.

Isteri yang telah setia mendampinginya belasan tahun melihat gelagat itu. Ia ingatkan suaminya agar tak berbuat lebih jauh. Namun, apa mau dikata, uang telah membuat Bakir silau. Ia pun lakukan korupsi dalam jumlah yang lebih besar. Isterinya berang. Karyawan setianya, Sirad, mulai curiga. Karena senantiasa diliputi kecemasan bahwa tindakannya diketahui orang, ia melarikan diri pada pelukan seorang dara belia bernama Sutijah.

“Kalau engkau sungguh-sungguh tak mau dicegah dalam niatmu, besok lusa engkau jual benteng pertahananmu dengan uang. Kemudian engkau kawin lagi. Kemudian engkau menjauhi atau dijauhi kawan-kawanmu. Engkau mendapat kawan-kawan baru yang semua ada di dalam ketakutan. Engkau jadi binatang perburuan. Engkau harus lari, terus lari, terus sampai akhirnya rebah sendiri tiada bertenaga.”

Bagaikan kutukan, kata-kata isterinya tersebut satu per satu terlaksana. Bakir tinggalkan isteri dan tiga anaknya demi Sutijah. Mereka tinggal di kawasan Puncak, Bogor. Ia tak lagi berkawan dengan rekan-rekan sejawatnya di kantor. Ia punya komunitas elite sendiri, pelaku pezinahan, koruptor, dan seperti binatang perburuan, ia terus lari, terus, sampai akhirnya rebah sendiri tiada bertenaga.

“Dapatlah aku mengetahui bahwa jalan kembali bagiku masih tersedia, hanya saja aku yang tak berani kembali. Tidak berani! Tidak berani! Dan tambah lama tambah tidak berani. Tambah tua aku menjadi tambah penakut menghadapi kebenaran dan menerimanya sebagai milik sendiri..”

Agaknya, kegelisahan yang sempat ia rasa mesti ia semaikan sebelum lakukan perbuatan kotor itu. Bakir, dalam kegelisahan sebelum melangkah lebih jauh menjadi budak nafsunya pernah berkata: Apakah yang sebenarnya betul: manusia yang mencari kebahagiaan ataukah kebahagiaan telah memperkudanya? Belasan tahun lampau ia berkata bahwa kebahagiaan adalah harta terbesar yang selalu diimpikan manusia, tapi sekaligus harta benda yang begitu dekat, begitu tak teraba, begitu tak disadarinya, bahwa itulah sesungguhnya yang diimpikannya.

Dibalik jeruji besi, Bakir hanya bisa menyesali nasib: betapa pengetahuan dan kesadaran ini terlampau mahal untuk ia beli.

 

Membaca novel Pram ini membuatku terus menghela nafas. Kita seolah telah kehabisan kata, daya, dan upaya dalam upaya pemberantasan korupsi. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari gerakan sosial antikorupsi, penafsiran teologi anti korupsi, pembuatan aturan perundangan anti korupsi setiap kali ada kasus korupsi yang dinilai baru, serta pembentukan lembaga yang khusus menangani masalah korupsi. Namun nyatanya, korupsi tetap ada, mengakar, dan membudaya.

Benarlah apa yang dikatakan Cak Nun dalam salah satu artikel lepasnya;

“Orang lebih tertarik kekayaan dibanding kesalehan. Orang lebih terpikat oleh uang banyak daripada digniti kepribadian. Orang lebih tergiur pada kejayaan materi dibanding kemuliaan hidup.”

Agaknya, pabila segala daya dan upaya memang tiada guna. Minimal, diri ini sadari bahwa  kalau kita mencuri, kita mencuri harta milik Tuhan, di bumi yang jadi milik Tuhan. Meski kita membawa harta curian kita lari, mentransfernya, menginvestasikannya, Sang Penadah Agung tetaplah pemilik sahnya. Harta Tuhan saja tak pernah pergi kemana pun, apalagi diri kita yang tak berdaya ini. Melarikan diri kemana pun jua adalah jalan kembali pada asal usul kita yang sejati.

Ya, hidup adalah pergi untuk kembali. Kata Ello.

Inna lilahi wa inna ilaihi roji’un.

Ingatlah bahwa kita akan mati, akan pulang, dan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita amalkan.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s