Perang Melawan Valentine!


Februari meriah dengan warna merah jambu. Katanya, pertengahan bulan ini adalah hari kasih sayang. Omong kosong. Sejak dahulu kala, hari kasih sayang itu hadir sebagai bagian dari industri budaya massa yang akan memenjarakan jomblo, eh, maksudnya, manusia konsumtif macam saya dalam kegalauan oleh sebab event-event bodoh yang jadi santapan di layar kaca setiap harinya.

Saat saya masih aktif dalam organisasi kerohanian Islam saat SMA, masa-masa jelang hari kasih sayang adalah masa perang melawan mainstream. Kami buat selebaran dan mading berisi anjuran untuk tak merayakan hari valentine lengkap dengan dalil-dalil yang menyertainya di saat kawan-kawan organisasi lain wajibkan junior memberikan cokelat untuk seniornya.

Tapi, tren ternyata tak berhenti sampai di titik itu. Perang melawan Hari Kasih Sayang di kampus adalah perang melawan seks bebas yang kian marak dengan hadirnya kondom beraneka rasa sebagai hadiah cokelat di beberapa toserba. Gila! Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, beli dua gratis kondom!

Selain merupakan bentuk dari pendangkalan makna ‘kasih sayang’ itu sendiri, hari kasih sayang bukan ajang buat menyerahkan kehormatanmu, ladies. Hari kasih sayang bukan hari yang membuat seks menjadi halal, bermesra-mesraan dengan yang non-mahrom jadi halal. Astagaa!

Apa kamu bilang? Asal suka sama suka? Hei, kalau kalian saling cinta. Yaudah nikah. Belum siap dengan konsekuensinya? Ya udah jangan macem-macem. Oke, kamu udah dewasa, kamu udah berhak menentukan jalanmu. Tapi, kalau dia memang lelaki, kalau dia memang mencintaimu, dan kamu mencintainya, itu tak berarti kamu harus mengorbankan segala yang kamu miliki untuk dirinya. Kalau kamu masih berpikir seperti itu, artinya kamu mencinta dengan pamrih. Padahal mencinta adalah memberi yang terbaik, tanpa khawatir tertolak, terabaikan, terhinakan, ya, cinta bukanlah alat tukar pragmatis untuk kehormatan dan harga diri seorang wanita.

Jangan pernah menjadikan cinta sebagai alat tukar demi tujuan pragmatis yang kamu berikan pada seseorang agar kamu mendapatkan sesuatu yang kau idamkan, entah itu berupa perhatian, pengakuan cinta, kesetiaan, dan sebagainya. Apalagi, menjadikan seks sebagai alat tukar untuk cinta itu sendiri.

Semakin sering kamu menjadikan cinta sebagai alat tukar, maka akan semakin sering kamu sampai pada rasa marah, kecewa, frustasi, dan ketersiksaan. Dan, saat dengan bodohnya kamu mempersembahkan kehormatanmu sebagai alat tukar guna mendapat cinta, kau tak akan dapatkan apapun selain kehinaan.

Sumpah, saya nulis catatan ini sambil berderai-derai air mata.  Duh, saudariku seiman.. Duh, saudariku.. Semoga Alloh menyelamatkanmu, menyelamatkan kita…

Alloh… Alloh.. Alloh..

2 tanggapan untuk “Perang Melawan Valentine!

  1. Emangnya, apa yang salah dengan Valentin sih? sebenarnya apa yang ia bawa hingga ia harus divonis haram?
    Bukannya justru adanya Valentin justru berjasa? memberi inspirasi bagi anak-anak muda khususnya mereka para penantang adrenalin? jadi, jangan mudah memfatwa sebelum menjalani eh menonton Valentin. Itu.

    TTD
    Fans Valentin o Rossi 🙂

    Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s