Tersesat dalam Buku-Buku, Aku tak Tahu Jalan Keluarnya


Beberapa waktu terakhir, aku menghabiskan waktu dengan membaca beberapa karya klasik. Sebetulnya, aku tak begitu paham klasifikasi antara karya klasik, modern, kontemporer, maupun kategorisasi lainnya. Jadi, kalimatku di awal tulisan ini sebenarnya juga keliru. Karya-karya Homer seperti Iliad dan Odyssey diakui sebagai tonggak sastra klasik di Eropa. Karya Tolstoy seperti Anna Karenina dan Haji Murad juga merupakan karya klasik yang memiliki nilainya sendiri. Di Indonesia, kita mengenal Pramoedya Ananta Toer yang kelewat produktif dengan menelurkan sejumlah karya sastra. Pun demikian dengan Danarto, Motinggo Busye, dan Achdiat K. Miharja. Lantas, apakah yang dimaksud dengan karya sastra klasik? Apakah kumpulan cerita pendek Oscar Wilde dan kompilasi puisi Rabindranath Tagore layak mendapat predikat sebagai karya sastra klasik? Entahlah, aku pun tak tahu.

Prolog di atas sebetulnya juga keliru. Sebab, apa yang sedang kupikirkan belakangan ini bukanlah perkara kategorisasi yang memusingkan itu. Ada kegamangan dalam diriku saat aku menyadari betapa kerdilnya bacaanku selama ini, betapa tak berkembangnya bacaanku sejak sepuluh tahun terakhir. Mungkin apa yang pernah dituliskan oleh Jujun S.Suriasumantri cukup mewakili apa yang kurasakan. Kurang lebih ia menulis begini: Seperti seorang pemborong yang memiliki batu bata, semen, pasir, dan kayu. Ia ingin membangun sebuah rumah, tetapi tak tahu bagaimana cara memulainya. Aku lupa redaksi tepatnya.

Pengibaratan itu cocok dengan apa yang ku rasakan. Begini. Aku telah membaca beragam buku, tapi tak tahu bagaimana melakukan pembacaan yang tepat untuk membentuk kerangka berpikir yang utuh dari ragam buku yang kubaca. Apa yang kubaca saat masih berumur delapan tahun tentu berbeda dengan apa yang kubaca saat aku berumur delapan belas. Kalaulah aku senang membaca novel detektif James Patterson dan novel seram RL Stine, toh aku pun masih membaca beberapa buku karangan Nurcholis Madjid, Dawam Raharjo, Musthafa Masyhur, Hasan Al Banna, Salman Rushdie, Sayyid Quthb, Yusuf Qardlawi. Mm, tapi permasalahannya bukan itu juga. Bukan soal berimbang tidaknya aku memilih bacaan, menurutku itu hanya soal selera dan kebutuhan saja.

Nah, yang jadi permasalahan dari proses membacaku selama ini adalah terlambatnya aku membaca sebuah karya. Selama ini, aku mentolerirnya karena menganggap bahwa akses atas ketersediaan buku-buku tidak cukup lapang. Tapi belakangan aku menyesalinya dengan teramat. Saat aku berumur delapan, intelektualitasku mestinya sudah cukup mapan untuk membaca karya-karya Oscar Wilde, tapi aku baru mengenalnya saat tanpa sengaja aku ‘menemukan’ kumpulan cerpennya di perpustakaan kampus. Gie membaca karya-karya Rabindranath Tagore di usia belasan, aku baru membaca saat berusia dua puluh. Terlambat membaca, terlambat berkembang.

Karenanya, saat beberapa waktu sebelumnya dengan percaya diri aku memberikan rekomendasi bacaan untuk adik-adikku guna memperdalam suatu topik, bahkan mengurutkannya agar alur berpikirnya runtut, aku sadari kini bahwa yang kulakukan keliru. Bukan soal saran bacaan, tapi pada pola pikirku yang begitu picik yakini mampu menyusun grafis pembacaan ideal atas sebuah karya. Setiap orang bisa menyusun daftarnya sendiri dengan tolak ukur biologis dan intelektualitas personalnya. Intervensiku hanya akan mengacaukan arah perkembangan bacaannya.

Kawanku pernah bertanya, “manakah yang harus lebih dahulu kubaca? Biografi Soekarno-nya Cindy Adams atau Memoar Bung Hatta? Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie atau Pergolakan Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahib? Matamu atau hatimu dulu (eh, yang ini bercanda)?”

Dengan sok tahu, aku menjawabnya. Lancang sekali kan? Tapi, entahlah, aku cukup gamang belakangan ini.. Aku sudah bosan dengan gaya bercerita Paulo Coelho dalam novel-novelnya, jadi kupikir, ia tidak bisa dikategorikan sebagai penulis buku klasik seperti Tolstoy dan Camus yang karya-karyanya selalu menghadirkan hal baru setiap kali dibaca ulang.

Beberapa waktu terakhir, aku asyik membaca essai-essai bebas Emha Ainun Najib dan Mohamad Sobary, satir yang asik dan cerdas, menurutku. Ke sanalah bacaanku akan berkembang mulai sekarang. Aku akan mencari beberapa referensi buku yang layak untuk mengimbangi essai-essai mereka, biar aku jadi tak bodoh-bodoh amat untuk melakukan pembacaan secara kreatif atas tulisan yang mereka hasilkan. Mungkin, aku akan membaca juga kisah-kisah petualangan Karl May dengan serial Kara Ben Nemsi-nya sebagai ramuan mujarab mengembalikan roh kanak-kanak dalam diriku, roh petualangan yang menyala, untuk menjelajah dunia dengan tenggelam dalam buku-buku.

Sebetulnya, dengan menuliskan ulasan ringkas tentang buku-buku yang baru saja kubaca di sini, aku merasa malu. Karena pembaca blog ini pada akhirnya dapat mengetahui sampai sejauh mana kemampuan membacaku yang ternyata: “alah, baru segitu aja rupanya.” Yah, mau bagaimana lagi? Aku sudah berusaha membaca apa yang tersirat dari buku-buku ini, untuk menemukan apa yang tak disampaikan pengantar penerbit dalam kata pengantar, untuk melakukan pembacaan yang ‘berbeda’ dari yang kebanyakan orang pikirkan, tapi tetap saja, aku hanya bisa mengutip beberapa kalimat dan melakukan tafsir bebas yang juga begitu-begitu saja. Mungkin benar, aku baru sebatas ini.

Ada yang punya saran?

10 tanggapan untuk “Tersesat dalam Buku-Buku, Aku tak Tahu Jalan Keluarnya

      1. Oke aku lupakan saja. Iya, yang terbitan yayasan kalam.

        Faust dan Mephisto terlihat seperti satu tubuh, yg apabila satu bagian terluka, bagian lain ikut merasakannya. Yg apabila satu katakan begini, yg lain katakan begitu. Lalu tercapai konsensus bersama. aku seperti melihat satu manusia dg dua gagasan dalam kepalanya.Halah.. Haha..

        Perjumpaan mrk yg pertama siratkan bahwa faust lah yg terkutuk, sedang mephisto lebih terlihat seperti dark angel daripada iblis. Jangan2 dia jadi iblis karena labelling soalnya aku rasa mephisto cukup adil memainkan perannya sbg iblis yg harusnya menyesatkan manusia, tapi tetap memberi pilihan2.. Yaa gitu. Keren aja..

        Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s