Tentang Pluralisme, Multikulturalisme, dan Relasi Agama-Negara


Surakarta(22/2)- Dalam rangka roadshow program kaderisasi ulama, Universitas Darusalam Pondok Modern Gontor bekerjasama dengan Takmir Masjid Nurul Huda UNS menyelenggarakan workshop dan seminar Pemikiran dan Peradaban Islam di Ruang Seminar Masjid Nurul Huda UNS.

Pemakalah pertama, Abdul Wahid, mempresentasikan makalahnya mengenai Pluralisme dalam Pandangan Agama-agama. Ia mengawali pembahasannya dengan kritik terhadap pendidkan agama yang pada akhirnya menjauh dari akal sehat dan tradisi intelektual yang sejak dahulu menjadi energi kekuatan Islam. Hal ini dapat terlihat dengan merebaknya paham pluralisme dalam dunia pendidikan maupun praktik keseharian.

Pluralisme berangkat dari pandangan ekstrem yang menyatakan semua agama itu benar, sehingga pluralisme memandang bahwa tidak ada agama yang benar-benar benar. Pluralisme sendiri lahir dari pos-modernisme sebagai solusi membumikan toleransi. Hal ini dirasa perlu guna mengcounter paham kesukuan dan menjaga kedamaian antar umat beragama.

Kita bertuhan melalui banyak jalan merupakan jargon andalan para penganjur pluralisme, sehingga menurut paham ini, tak ada perbedaan antar agama-agama di dunia. Efeknya, agama mulai diragukan oleh para penganutnya, lenyaplah sudah iman pada Tuhan dan agama yang dianutnya.

Pluralisme hadir dengan cara yang begitu manis.  Ia masuk ke ranah sosiologis dan bergeser ke arah teologis. Lewat sosiologi, pluralisme memperkenalkan diri sebagai suatu keragaman (pluralitas) yang hendak mengusung toleransi. Hal ini membawa dampak relativitas kebenaran, dimana seseorang tidak boleh mengatakan bahwa pendapatnyalah yang paling benar, sebab setiap pendapat memiliki kebenarannya masing-masing.

Pandangan mengenai pluralisme agama terbagi menjadi dua, yakni teologi global dan kesatuan transdensi agama. Teologi global berpijak pada pemusatan agama yang berpandangan bahwa kita memiliki Tuhan yang sama, Tuhan itu disebut The Real. Sementara, kesatuan transenden agama berpandangan bahwa semua agama memang berbeda dalam aspek eksoteris, tetapi memiliki substansi yang sama di ranah esoteris.

Lantas, bagaimana agama-agama di Indonesia menanggapi pluralisme? Katolik menolak pluralisme karena berpandangan bahwa hanya Tuhan Yesus lah yang benar. Protestan menolak pluralisme karena dianggap memudarkan keimanan terhadap agama yang dianut. Hindu pun menolak pluralisme karena menganggap bahwa jalan yoga hanya ada di agama mereka. Bagaimana dengan Islam? Islam menerima pluralitas, tetapi menolak pluralisme. Kesimpulannya, jelas semua agama memiliki konsep ajaran yang mutlak dan tidak dapat disamakan dengan pluralisme.

Pemakalah kedua, Ahmad Sofyan Hadi, menyampaikan makalahnya mengenai Multikulturalisme dan Problematika Pendidikan. Ia mengawali pembahasannya dengan mengulas pembahasan mengenai pendidikan multikulturalisme yang mulai marak diperbincangkan sejak satu dekade terakhir.

Tujuan pendidikan multikulturalisme adalah untuk merangkul semua orang dalam kedamaian melalui toleransi. Multikulturalisme dianggap mampu menjadi solusi atas disentegrasi berbagai elemen bangsa. Hal ini disebabkan asumsi bahwa banyak konflik yang merebak karena agama. Titik pangkal persoalannya adalah klaim bahwa pendidikan agama selama ini bersifat eksklusif doktrinal sehingga menghasilkan umat beragama yang fanatik.

Maka, pendidikan multikulturalisme menekankan pada pengusungnya untuk melakukan rekonstruksi konsep Tuhan dimana semua agama menyembah Tuhan yang satu dan semua agama membahwa kebenaran meski dengan konsep yang berbeda.

Paham kemajemukan ini akan membawa pendidikan pada gagasan untuk mengafirmasi pendidikan agama Islam multikultural. Meskipun dalam ranah eksoterik ibadah ritual yang dilakukan tiap agama berbeda, namun mereka bertemu pada titik yang sama di ranah esoterik.

Ada banyak dampak yang mungkin ditimbulkan. Namun, yang paling krusial adalah terbangunnya skeptisisme umat terhadap keimanan dan munculnya ragam penafsiran ulang terhadap dalil-dalil keagamaan secara asal-asalan. Hal ini akan menghancurkan sendi-sendi bangunan Islam. Salah satu contohnya adalah pemaknaan Islam sebagai ketundukan/kepasrahan diri, dimana yang diperlukan untuk berislam adalah penghayatan nilai-nilai substansi, bukan pada aspek ritual.

Pendidik hendaknya membekali diri dengan pengetahuan yang mumpuni mengenai konsep agama, kebenaran Tuhan, dan toleransi agar tidak terjebak dengan terminologi pendidikan multikulturalisme. Lebih lanjut, para pendidik harus senantiasa menekankan terhadap pembentukan adab dalam pendidikan itu sendiri.

Pemakalah ketiga, Cecep Supriadi menyampaikan materinya mengenai Relasi Islam dan Negara. Ia mengawali pembahasannya dengan menyajikan beberapa statemen tokoh nasional mengenai relasi Islam dan Negara. Susilo Bambang Yudhoyono pada 2011 mengatakan bahwa Indonesia bukan negara sekuler, meskipun pada 2014 malah berujar sebaliknya. Mahfud MD menyatakan bahwa Indonesia bukan negara sekuler, tetapi juga bukan negara agama. Ia menambahkan, negara Indonesia adalah darusalam, bukan darul Islam.

Secara umum, ada tiga pandangan dalam memandang relasi Islam dengan agama. Pertama, pandangan integralistik, yakni paham yang menyatakan bahwa negara tunduk di bawah diktum agama. Kedua, pandangan sekuleristik, yakni paham yang menyatakan bahwa agama terlalu suci dan sakral untuk bergabung dengan politik yang kotor. Ketiga, pandangan simbiotik, yakni paham yang tidak memisahkan relasi antara agama dan negara, tetapi juga tidak menyatukan sepenuhnya.

Seperti yang kita telah ketahui, Islam merupakan agama yang sempurna. Islam tak hanya mengatur mengenai individu dan masyarakat, tetapi juga mengenai komunitas dengan seperangkat pemerintahan, hukum, dan institusi yang kita sebut sebagai negara.

Ketika gagasan mengenai sekularisme gagal, ditawarkanlah pluralisme dan multikulturalisme. Problem mendasar yang dihadapi dewasa ini adalah sekularisasi yang terjadi di Indonesia melalui paham pluralisme dan pendidikan multikulturalisme sebagai salah satu saluran penyebarannya. Padahal, kedua pandangan ini telah gagal membentuk manusia yang beradab.

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi.

3 tanggapan untuk “Tentang Pluralisme, Multikulturalisme, dan Relasi Agama-Negara

  1. ya menrut pandangan ku dalam AL QURAN,,disana dperintahkan laksanaknlah islam secara kaffah,,berarti dlam slruh aspek khdpan baik bermsyarakt ,berbangsa dan bernegara,,hrs dengan syariat islam,,sdngkan di indonesia kita sbgai warga merasa msh kurang dan belum menyeluruh mngenai kwajibna kita sbg umat islm,,berarti mnrutku khilafah itu wjb ada,dn kita wjb mngikutinya,,apkh organisasi sperti KAMMI dpt memperjuangkn spya negra terbntuk yg demikian

    Suka

  2. mbak alikta blog mu bagus bagus,,ku da satu unek unek ,,,menurutmu untuk mengubah negara indonesia yg memprhatinkan ini,,sistem demokrasi yg digunakan diindonesia diganti dengan sistem khilafah islamiyah,,yaitu negara dengan hukum berdasarkan AL QURAN dan AS SUNAH…saya rasa itu satu satunya cara,,, gimana menrut pandanganmu dengan sistem khilafah?apakah KAMMI bisa mencta citakan untuk mengubah negara kita jadi sistem khilafah

    Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s