Notulensi Diskusi Mata Kastrat: Membedah Pemikiran Haji Misbach


Prolog

Pergerakan senantiasa diawali dari dialektika wacana dan berkembang menjadi gerakan pembebasan. Minimnya pendidikan emansipasi dalam wacana gerakan mahasiswa hari ini menyebabkan gerakan pembebasan juga hilang.

Misbach adalah salah satu tokoh yang menggelorakan semangat emansipasi dan mengimplementasikannya dalam gerakan pembebasan. Ia lahir pada 1876 di Kauman, Surakarta. Pemikirannya mengenai sintesa antara Islam dan Komunisme cukup menggegegerkan. Ia berpendapat bahwa Islam dan Komunis dapat berjalan seiring sejalan secara sosiologis. Gagasan ini mulai menguar ke permukaan saat terjadi perpecahan antara SI Merah dan SI Putih. Saat itu, kapitalisme Belanda bernegosiasi dengan SI sehingga SI mulai kehilangan pengaruh politiknya.. Pada sebuah kongres, terjadi perpecahan di tubuh SI. SI Merah bertransformasi menjadi Partai Komunis Indonesia dimana Haji Misbach turut serta di dalamnya dan mulai mengorganisir masa untuk melakukan gerakan-gerakan pemberontakan.

Misbach berpandangan bahwa SI pro dengan kolonialisme. Sementara, Tjokroaminoto berpandangan bahwa kolonialisme adalah kapitalisme jahat karena memperbudak Islam, sementara kapitalisme baik pun hadir sebagai lawan dari kapitalisme jahat yang berupaya untuk memakmurkan umat Islam. Haji Misbach tidak sepakat dengan pandangan ini. Ia beranggapan, tak mungkin ada kapitalisme baik.

Ia pun mulai menyebarkan gagasan-gagasannya mengenai sintesa Islam dan Komunisme. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang ia gunakan untuk menafsirkan pemikiran-pemikiran komunis. Dalam komunisme, perjuangan kelas dilakukan oleh kaum proletar. Jika komunise bicara tentang sama rata sama rasa, dalam Islam pun ada diktum yang menyatakan bahwa semua manusia sama di hadapan Tuhan. Akan tetapi, apakah benar keduanya bisa disamakan?

Diskusi

Doni: Argumen apa yang mendasari statemen agama menjadi candu?

Dengan menafsirkan Islam dalam kacamata komunis, Ia meruntuhkan satu tesis yang menyatakan bahwa agama adalah candu. Baginya, Islam adalah ideologi pembebasan yang mengajarkan jihad melalui propagandanya di media massa. Berbeda dengan apa yang terjadi di Barat, dimana agama menjadi pelarian orang-orang yang bersikap fatalis terhadap kehidupan dunia.

Alikta: Pemikiran Haji Misbach melahirkan gerakan oposisi yang hadir saat terjadi pertentangan yang berlarut-larut antara SI dan Muhammadiyyah dimana Muhammadiyyah menarik diri dari politik, sementara SI terlibat kooperatif dengan pemerintah kolonial. Keduanya saling menyalahkan satu sama lain. Bagi saya, yang dilakukannya adalah keniscayaan sejarah.

Yang jadi permasalahan dari pertentangan tersebut adalah kaburnya makna antara Islam dan Komunisme. Selain itu, kiblat kepentingannya lagi-lagi berlari ke Barat. Bukan lagi emansipasi massa karena gerakan kiri berkiblat ke Rusia, sementara Rusia pun dimanfaatkan oleh kepentingan politik global. Bagaimana jadinya bila kita ingin memulihkan semangat emansipasi tapi gerakan dimanfaatkan oleh kepentingan kolonial lain? Kita ingin membebaskan kaum proletar, mengangkat derajat kaum mustadh’afin. Tidak ada teologi yang mungkin menjadi landasan selain Islam, namun menyamakan semangat perlawanan antara Islam dan Komunisme dan menafikan hal-hal yang lebih filosofis jelas keliru.

Na’im: Mengapa sejak dahulu kapitalisme tetap bercokol di negeri ini dan tak pernah mau pergi?

Banyak permasalahan negeri ini tak bisa lepas dari kepentingan asing. Saat ini ekonomi kita diserahkan pada kepentingan pasar bebas. Jelas, ini adalah pola kapitalisme. Permasalahan ini tak bisa lepas dari kepemimpinan nasional. Kita tidak merdeka seutuhnya karena ketidakpastian politik dan ekonomi.

Isna: Bagaimana proses Ideologisasi SI Putih dan SI Merah berhasil? Masing-masing memiliki pengikut yang militan. Lantas, bagaimana ilmu pengetahuan menerjemahkan ad-diin sebagaimana Islam menerjemahkan komunisme?

Karena mereka berhasil menginternalisasikan ideologinya dengan semangat pembebasan dan anti penindasan dengan pengetahuan. Apabia umat berdata secara ekonomi, maka kapitalisme dan penindasan terhadap kaum buruh tak akan pernah ada.

Setiap ilmu memiliki kebenaran dan kelemahan. Prinsip keadilan dalam komunisme sesuai dengan Islam. Mensejahterakan umat pun adalah semangat Islam. Tapi kita tidak bisa mengatakan kebenaran absolut dari suatu ilmu, sebab kebenaran ilmu adalah relatif. Sementara, ad diin memiliki kebenaran yang mutlak.

[1] Tulisan ini berdasar pada Mata Kastrat bertema “Membedah Pemikiran Haji Misbach” yang diselenggarakan Kammi Shoyyub UNS di Aula KBM FKIP UNS pada Jum’at, 27 Februari 2015 dengan pembicara Rohmat Suryadi, S.Sos, MA.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s