Sarasehan Lintas Gerakan Mahasiswa (Bag 2): Menerjemahkan Visi dan Desain Kaderisasi Gerakan Mahasiswa


Bagian 1 (http://www.kammiuns.org/sarasehan-lintas-gerakan-mahasiswa-bag-1-menerjemahkan-visi-dan-desain-perkaderan-gerakan-mahasiswa/)
 

Setelah hampir satu tahun berlalu, saya putuskan membongkar kembali catatan lama notulensi diskusi ini untuk melanjutkan apa yang telah saya mulai sebagai bentuk pertanggungjawaban saya terhadap kawan-kawan yang hadir dalam sarasehan tersebut. Maaf atas keterlambatan yang tak mengenakkan ini.

Iwan, kader Gema Pembebasan Solo Raya menyampaikan bahwa setiap pergerakan memiliki corak client-patron, seperti misal Gema Pembebasan dengan Hizbut Tahrir Indonesia. Lantas, ia mempertanyakan batas independensi gerakan mahasiswa yang lain (HMI, KAMMI, dan PMII), sebab ia meyakini gerakan mahasiswa adalah political movement yang sejatinya tak akan pernah lepas dari politik.

Rodif menyatakan bahwa PMII tidak digandeng menjadi kader siapapun. Di kampus, PMII berjuang untuk memperjuangkan aswaja, sementara kalangan ‘atas’ Nahdatul Ulama tidak mampu merangkul golongan pemuda ini. Oleh karenanya, PMII berupaya meneguhkan independensinya dengan berpihak pada kepentingan PMII sendiri. Ia menegaskan bahwa meskipun memiliki garis merah yang sama, sisi politik praktis tak akan pernah dilakukan oleh PMII. Bergabungnya PMII sebagai gerakan politik yang dependen pada NU baru akan terwujud apabila terjadi perubahan radikal dalam tubuh NU.

Insan, perwakilan dari KAMMI menyatakan bahwa organisasinya telah menegaskan diri sebagai gerakan sosial independen, bukan sebagai organisasi politik. Dan meskipun orientasi perkaderan KAMMI adalah mencetak muslim negarawan, tafsir muslim negarawan ini bukan hanya mereka yang kelak menjadi politisi atau birokrat, tetapi juga enterpreneur dan teknokrat. Jika dikaitkan dengan PKS, ia mengakui bahwa memang terdapat banyak kesamaan antara kedua institusi tersebut khusunya dalam patron ideologi dan mentor, akan tetapi KAMMI tetap meneguhkan independensinya secara pemikiran dan lepas dari politik praktis.

Adhyt secara tegas menyatakan bahwa sejak dulu hingga hari ini, HMI adalah organisasi yang independen dan bukan merupakan underbow partai politik manapun.

Mulad Aji, perwakilan dari Gema Pembebasan berpendapat bahwa kita tidak bisa menerjemahkan politik hanya dalam tataran praktis, tetapi juga tentang isu keumatan. Ia teguh berpandangan bahwa GP perlu menyuarakan khilafah Islamiyah, sebab demokrasi sekuler tidak sesuai dengan Islam dan hanya mendindas rakyat. Ide harus diimplementasikan secara radikal. Tandasnya.

Pada perwakilan HMI, secara bergiliran dua peserta sarasehan (Heru dan Fajar) bertanya, yakni: apa yang membedakan antara HMI di masa lalu dan HMI hari ini, serta kronologis perpecahan dalam tubuh HMI dengan diberlakukannya asas tunggal.

Adhyt menjawab bahwa kondisi umat di tahun 1947 adalah Islam yang Indonesia. Mahasiswa yang sadar berhimpun dalam satu Organisasi yakni HMI. Pada tahun 1960-1970 an, HMI fokus pada dakwah mahasiswa Islam, salah satunya adalah dengan dibentuknya LDMI (Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam) serta perang melawan PKI di tahun 1966. Saat ini, HMI menawarkan Islam yang memasyarakat.

Menurut Adhyt, antara HMI dan HMI MPO tetaplah sama, kecuali memang perbedaan pemaknaan asas tunggal tersebut. Saat peristiwa itu terjadi, HMI telah terorganisir dengan rapi selama 35 tahun, ia sudah siap dengan NDP. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, kader semakin tak mampu menaklukan pemahaman terhadap NDP dan menghasilkan tafsir yang beragam. Efeknya, kader HMI terbagi dalam dua arus: yang condong pada identitas keislamannya menjadi religius, sementara yang terlalu humanis akan menjadi liberal.

 10254046_10202153786549278_7534657075937060638_n

Lantas, bagaimanakah GP mengambil peran dalam upaya menyelesaikan persoalan bangsa? Masuk sistem atau tetap berada di luar sistem?

Mulad Aji menyatakan bahwa aktivitas politik saat ini telah membentuk sistem yang membuat kita tak bisa bangkit. “Kita perlu perubahan yang revolusioner, bukan hanya secara parsial. Sistem ini harus diperbaiki sampai ke akar-akarnya.” Dua hal yang telah dilakukan oleh GP adalah dengan 1) Membina dan berwacana, 2) menggempur sistem kufur yang menjangkiti dengan meminta dukungan pada orang-orang yang mempunyai kekuasaan secara riil serta mengoptimalkan pada agitasi massa untuk menerime sistem Islam sebagai keniscayaan, bukan sekedar utopia.

Formulasi sistem pendidikan yang berubah membawa tantangan yang banyak bagi gerakan mahasiswa. Bagaimana masing-masing gerakan menyikapi hal tersebut?

Adhyt (HMI) beranggapan bahwa hal tersebut adalah tantangan. Sebab, mindset perkaderan HMI adalah untuk menyelesaikan permasalahan akhlak. Di dalam internal HMI, kader diarahkan untuk menjadi organisatoris, akademisi, sekaligus profesional. Masing-masing punya kecenderungan. Persoalan represifnya pemerintah menekan gerakan mahasiswa melalui pendidikan bukanlah hal baru, itu sudah lama terjadi, namun saat ini dialami kembali. Perkaderan kehilangan arahnya. HMI Kom FSSR menyikapi hal tersebut dengan dua hal: pertama, menyesuaikan kultur di FSSR dengan permasalahan besarnya yakni tingkat apatisme yang tinggi, kesadaran keilmuan yang rendah, serta minimnya kesadaran akhlak yang baik. Kedua, dengan melakukan pembinaan kader secara lebih intens sesuai dengan ideologi.

Mulad (GP) berpandangan bahwa apatisme mahasiswa terjadi karena sistem. Sejumud-jumudnya mahasiswa, mereka masih memiliki akal dan nurani. Persoalannya adalah bagaimana mententuh mereka agar peduli terhadap urusan di luar diri mereka, bahwa ada kewajiban lain disamping belajar dan kuliah, serta memberanikan diri untuk berpikir di luar zona nyaman kita.

Insan (KAMMI) mengakui bahwa fenomena akademik, khususnya UKT, membuat mahasiswa yang pada dasarnya apatis dan pragmatis mendapatkan pembenaran atas sikap apatis mereka. Padahal, hakikat ilmu dalam Islam bukanlah sebagai akat pencari kerja semata. Selama satu periode, KAMMI rutin mengadakan diskusi kepakaran di masing-masing fakultas. Diskusi berangkat dari ranah keilmuan mereka, baru kemudian dibawa pada diskusi tentang permasalahan umat Islam yang terhampar di depan mata.

Rodif (PMII) menyatakan bahwa selama ini telah terjadi perbedaan paradigma antara mahasiswa yang mengaku aktivis dan mereka yang dituduh apatis. Keduanya saling tuding dan menyalahkan. Mahasiswa aktivis sering menyematkan steriotipe berupa kebebalan dan egoisme pada mereka yang enggan aktif berorganisasi, serta cenderung membanggakan ideologinya sendiri. Rodif merasa, ini merupakan hal yang keliru. Munculnya gerakan sosial non-ideologis mulai menarik minat mahasiswa. Karenanya, kita harus mulai melihat pasar, menerapkan konsep kapitalisme dalam artian memposisikan diri sebagai penjual yang menjual ‘nilai’ dan ‘kesadaran’ pada mereka. Bagi Rodif, kampus merupakan tempat persemaian ideologi. Dalam ranah aplikatif, kader PMII didorong untuk berdiaspora ke semua lini tersebut.

Afzal, salah seorang peserta diskusi mempertanyakan tak adanya peran gerakan mahasiswa dalam memecahkan permasalahan di kampus.

Insan (KAMMI) menyatakan bahwa kader KAMMI dibebaskan untuk berdiaspora ke lembaga-lembaga internal kampus dan berkarya sesuai minat dan bakat mereka tanpa intervensi dari KAMMI, sebab batasan-batasannya telah jelas.

Adhyt (HMI) menyatakan bahwa kader HMI bebas berorganisasi di kampus maupun organisasi profesi lain. Ideologi HMI bisa diberlakukan terus di mana pun berada.

Mulad (GP) menyampaikan bahwa pergerakan GP di kampus memang terbatas, namun bukan berarti tak ada upaya yang dilakukan. GP telah menyuarakan hal yang jauh lebih besar dari kampus, yakni sistem di negara ini.

Rodif (PMII) berpandangan bahwa harusnya gerakan mahasiswa melakukan kaderisasi internal di masing-masing lembaga sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya. Mereka harus memetakan antropologi kampus, termasuk persoalan yang ada, dan tentunya diselesaikan. Bukannya hilang begitu saja sesaat setelah diskusi. Selama ini gerakan mahasiswa kehilangan ruh keberpihakan pada kampus, serta lebih banyak fokus pada isu nasional yang dangkal. Padahal, kampus adalah ladang untuk beramal. Sambil berseloroh, Rodif menambahkan bahwa menurutnya selama ini kita sejatinya munafik. Kita mengutuk pendidikan kapitalis, tapi kita tetap mau di atur di dalamnya. Kita harus selesai dengan diri kita sendiri sebelum menyelesaikan persoalan yang jauh lebih besar.

Demikian catatan sarasehan di atas. Mohon maaf karena catatan versi kedua ini belum saya klarifikasikan lagi pada para narasumber. Apabila ada kata yang tak sesuai/kurang berkenan, penulis dengan senang hati menerima kritik untuk perbaikan.

Laweyan, 9 Maret 2015

23. 20 WIB

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s