Pelajaran 3: Aporia. Bamuskom. Catatan Acak


Geram hati Achiles saat tahu bahwa sahabat karibnya, Patroclus, dibunuh oleh Hector, salah seorang pangeran Troya. Ia hampir gila karena rasa bersalah. Dia pun datang pada Hector untuk membalas dendam. Hector ia bunuh dengan sadis. Mayatnya diseret berkeliling makam Patroclus, disaksikan keluarga kerajaan Troya yang ia tolak permohonannya untuk mengembalikan mayat Sang Pangeran.

Hingga suatu malam, Sang Raja kerajaan Troya datang memohon dalam iba agar Achiles mengembalikan jasad anaknya. Achiles tergugah, batinnya menangis, dipeluknya lelaki tua itu, lantas diberikannya dengan hati-hati tubuh Hector sambil mencemaskan betapa rapuhnya sang lelaki tua untuk menggendong jasad anaknya.

Namun, sebagaimana yang telah kita tahu, Perang Troya tak berakhir dengan pelukan penuh haru itu. Pertempuran terus berlanjut hingga seluruh Kota Troya luluh lantak.

Akan lebih baik bagiku untuk hanya mengakhiri kisah itu dalam sebuah pemahaman dan empati yang sederhana antara Achiles dan Raja Troya, Priam.  Setidaknya, aku bisa menghindar dari pengetahuan yang utuh atas sebuah kisah yang teramat tragis. (Benar kata Joseph, ketidaktahuan adalah anugrah.)

Semakin kita belajar, semakin kita merasa bahwa ada banyak hal yang tak kita ketahui. Para filosof yang datang pada Socrates untuk berdialog mendapati diri mereka tak tahu apa yang mereka bicarakan, sebab Socrates berhasil membongkar dasar-dasar intelektual dan moral mereka secara radikal. Mereka meragu. Keraguan mengantar mereka pada pertanyaan yang jauh lebih besar dan wawasan yang jauh lebih luas. Dialog, adalah ruang untuk membenamkan para pencari tentang kebodohannya.

Namun, zaman telah berubah. Saat ini, semua orang bangga dengan kepakaran instan mereka. Masing-masing diri merasa lebih tahu dari yang lain, lebih tinggi kapasitas ilmunya, lebih dalam pemahamannya akan hidup dan kehidupan. Ketidaktahuan yang mereka ucap hanya pemanis bibir agar dianggap rendah hati.

Aku ingin belajar untuk menundukkan egoku, dan Bamuskom (Badan musyawarah komisariat) adalah forum yang Tuhan berikan untuk menjawab permohonanku. Hanya beberapa orang. Lelaki dan perempuan dipisahkan hijab. Tapi perdebatan kami nyatanya mampu menembus hijab yang membentang.

Saat debat menjadi semakin tak terkendali, sering aku berpikir:

Apakah aku dan orang-orang ini tahu apa yang kami bicarakan?

Apakah kami benar-benar bisa memahami dasar argumen satu sama lain?

Apakah aku mengindentifikasi pendapat yang lahir dari akalku dengan kedirianku secara utuh?

Mengapa aku selalu ingin menawarkan perspektif lain?

Apakah aku lebih tertantang untuk memenangkan perdebatan daripada mendapatkan yang maslahat?

Tuhan benar-benar sedang menyuruhku belajar!

5 tanggapan untuk “Pelajaran 3: Aporia. Bamuskom. Catatan Acak

  1. saat semua itu memuncak, aku hanya mampu bilang “TERSERAH FORUM!” gitu mba… meski sakit wkwkwk sesungguhnya hanya doalah selemah-lemahnya iman, semakin aku menyelam dalam … semakin kekuatanku habis untuk menyembul ke permukaan. Tekanan hidrostatis di dasar laut itu telah mati mba … atau aku mulai jatuh cinta? #ApaSiMel #EfekMusykom

    Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s