Dibayangi Maut


Tepat saat ulang tahunku yang ke dua puluh satu, aku menabrak seorang anak lelaki. Bocah bernama Aji itu meringis tertahan, menahan sakit di lututnya yang lecet dan berdarah. Melihat bocah ini, sepintas lalu wajah adik-adikku terbayang di depan mata. Tanpa berlama-lama, segera kuantar Aji ke rumahnya. Sang Ibu marah besar. Aku membisu. Meresapi sepenuhnya rasa bersalah yang merasuk dalam kalbuku. Aku berhak mendapatkannya.

Kemarin malam, dalam perjalanan ke suatu acara, sebuah mobil menabrakku dari belakang. Tubuhku limbung ke depan menghantam bagian depan motor, keras, dada dan ulu hatiku lebam, lutut dan sikuku tergores aspal jalan. Motorku? Retak di bagian belakang, roda belakang ringsek. Aku membisu saat orang-orang berkerumun di sekitarku, mengatakan hal-hal yang tak mampu dicerna otakku.

Sejak akhir bulan lalu, aku sudah dihantui rasa bersalah. Membuatku tak berani mengendarai sepeda motor di gang-gang sempit, lebih waspada, tidak berkendara saat malam hari, dan membuat beberapa peraturan lain yang aku khususkan untuk diriku sendiri.

Belum genap sebulan sejak kejadian itu, Alloh kembali mendekat padaku lewat jalan yang sama: Maut.

Aku tak ingin panjang lebar bicara soal hikmah dari dua kejadian ini. Malam ini aku tak bisa tidur. Aku takut bahwa esok tak akan datang lagi. Dan, jujur saja, tulisan singkat ini adalah semacam bisik ketakutanku..

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s