Notulensi Mata Kastrat 3: Membedah Pemikiran Yamin


oleh: Alikta Hasnah Safitri

Sekretaris Bidang Medkominfo Kammi Uns 2014/2015

Pertanyaan yang selalu muncul setiap kali Kammi Uns mengusung seorang tokoh untuk dibedah pemikirannya adalah, “Mengapa harus tokoh tersebut?” Hal tersebut juga terjadi dalam diskusi kali ini. Bagi Zulfikar, alasan mengapa kita membedah pemikiran Yamin adalah karena beliau telah berjasa besar di awal pendirian Republik ini, akan tetapi namanya jarang diangkat dalam banyak diskursus. Yang paling menarik dari sosok Yamin bagi Zulfi adalah latar belakang kehidupannya. Sebagaimana yang kita tahu, Yamin lahir dan besar di Minang, sebuah tempat yang telah melahirkan banyak ulama di Indonesia dan berjuang menegakkan Islam sebagai dasar agama. Yamin memilih jalan berbeda, ia menjadikan nasionalisme sekuler sebagai jalan perjuangannya.

Sosok Yamin

Ustadz Nendy sebagai fasilitator diskusi ini berkomentar atas statemen Zulfikar. Panjang lebar beliau menguraikan tentang sosok Yamin.

Sejarah Indonesia mencatat bahwa ada banyak sekali tokoh yang berjuang untuk Republik. Banyak dari tokoh-tokoh tersebut yang namanya lebih tenggelam dari Yamin. Yamin mendapatkan posisi yang strategis dalam perumusan dasar Negara, ia masuk dalam panitia 9 yang merumuskan Piagam Jakarta.

Anderson pernah menyatakan dalam salah satu bukunya bahwa jika Indonesia adalah komunitas imaginer, maka Yamin lah yang merupakan peletak cita-cita tersebut. Pada pertemuan Jong Sumateran Bond, ia membuat propaganda yang meyakinkan khalayak bahwa bahasa Melayu akan menjadi bahasa persatuan. Wacana itu ia bawa kembali dalam kongres pemuda pertama tahun 1926 dengan mengusulkan adanya bahasa persatuan. Usulan Yamin diterima, dan pada kongres pemuda 2 usul tersebut diejawantahkan. Bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan. Ini merupakan upaya yang sangat bagus dari kader Islam, karena tentu saja sebuah peradaban akan terikat erat dengan bahasanya.

Yamin adalah keturunan bangsawan. Ia bisa percaya diri saat berhadapan dengan penjajah maupun kaum pribumi. Karena merupakan keturunan bangsawan, ia mendapatkan akses untuk bersekolah di sekolah Belanda. Di sana, ia menempuh salah satu studi yakni Javanologi, dimana seluruh siswa akan dicekoki pemikirannya tentang Jawa dalam perspektif Belanda. Ini merupakan upaya kaum penjajah untuk melakukan pendangkalan terhadap sejarah Indonesia. Dalam perspektif ini, kita bisa simpulkan bahwa Yamin adalah korban dari infiltrasi pemikiran yang dilakukan kaum penjajah.

Benarlah apa yang dikatakan Anis Matta, bahwa infiltrasi moral tak lebih berbahaya dari infiltrasi ide. Ide yang dicekokkan dalam pikiran Yamin membawa dampak besar bagi langkah-langkah yang ia tempuh di kemudian hari, utamanya dalam keberjalanan Republik.

Saat perumusan dasar Negara bersama PPKI, muncul beberapa rumusan yang telah kita kenal sejak SMA. Misal, Soepomo yang mengusulkan beberapa poin yang mengarah pada integralisme dan fasisme Jepang, Soekarno dengan rumusannya, serta Yamin dengan rumusannya. Soekarno merasa perumusan ini tak akan selesai apabila dirumuskan oleh sekian banyak kepala, akhirnya ia mengerucutkan panitia perumus dasar Negara itu menjadi Sembilan orang yang mewakili setiap golongan.

Pada titik ini, kontroversi pemikiran Yamin terlihat. Dengan dalih penghormatan dan etika terhadap pemeluk agama lain, ia mendukung tujuh kata cinta dalam Piagam Jakarta dihapus. Padahal, AA Maramis sebagai representasi kaum non-Islam pun telah sepakat dengan isi Piagam Jakarta. Ia sadar bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa ini adalah perjuangan umat Islam. Banyak ulama yang kecewa dengan ulah Yamin dan Hatta ini: “Bagaimana kami akan bicara pada Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, dan para ulama yang telah berjuang di masa lalu untuk kemerdekaan Republik ini?”

Bagi sebagian orang, dihapuskannya tujuh kata itu sebetulnya bukan masalah. Sebab, sila pertama pun telah mencerminkan substansi Islam dengan tauhidnya. Bukankah Islam tak sekedar simbol, melainkan juga substansi?

Kontroversi

Salah seorang peserta, Isna Maylani mengungkapkan fakta yang ia temukan berdasarkan pembacaan yang telah dilakukannya. Kesalahan yang Yamin perbuat adalah karena kecamannya terhadap pemberontakan yang dilakukan oleh kaum Ulama di Minang, tempat ia dilahirkan. Kesalahannya yang lain adalah karena Yamin kerap melakukan klaim. Misal, ia mengklaim bahwa ia lah perumus sah dasar Negara, bahkan ‘memalsukan’ potret Gajah Mada sehingga mirip dengan dirinya.

Pada kenyataannya, menurut Ust Nendy, Yamin merupakan ahli hukum dan bahasa. Ia membuat wacana bahwa Indonesia merupakan imperium ketiga setelah kebesaran Sriwijaya dan Majapahit. Wacana ini terus diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini menyebabkan sejarah tentang Islam di Indonesia menjadi dangkal.

Pada Akhirnya…

Pendangkalan macam ini sama polanya dengan perang pemikiran yang terjadi di era kini. Kita mengalami ketidaksadaran akut pada keterjajahan dalam segala sektor, termasuk manipulasi sejarah yang dibuat untuk mendangkalkan peran umat Islam.

Itulah makna penting dari diskusi hari ini. Agar kita mengambil pelajaran, agar kita memetik ibroh, agar kita senantiasa berbenah menjadi pribadi yang lebih baik.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s