Belajar dari Pelajar Hidjo


SHJudul Buku          : Student Hidjo

Penulis                 : Mas Marco Katrodikromo

Penerbit              : Penerbit Narasi

Cetakan Ke         : 2

Jumlah Halaman: 140 Halaman

Selama ini, kritik terhadap penjajahan selalu identik dengan novel karya Multatuli berjudul Max Havelaar. Dengan sudut pandang penjajah, Multatuli menitik beratkan kesalahan miskin dan terbelakangnya rakyat Jawa karena korupsi yang dilakukan para pemimpin pribumi, tanpa melakukan otokritik terhadap pemerintahan kolonial secara lugas dan berani. Lebih jauh, ia pun mengungkapkan primitifnya Rakyat Jawa yang masih memakan manusia, hidup berdampingan di tengah hutan bersama binatang buas, serta merupakan keturunan iblis yang menyembah berhala. Karenanya, Belanda mengajak rakyat Jawa menuju Tuhan dengan cara bekerja.

Mas Marco Kartodikromo adalah seorang jurnalis yang produktif di masanya. Sosok ini merupakan salah satu pejuang di awal kebangkitan zaman pergerakan yang kerap melancarkan kritik tajam pada pemerintah kolonial Hindia Belanda lewat novel dan sajak. Student Hidjo adalah salah satu novel karyanya. Pertama kali ditulis tahun 1918 sebagai cerita bersambung di Harian Sinar Hindia, kemudian terbit sebagai buku tahun 1919. Karena isi novel ini merupakan bentuk perlawanan terhadap pemerintah kolonial, novel ini tak mendapat restu dari Balai Pustaka, sehingga digolongkan sebagai ‘bacaan liar’.

Novel ini merekam pergerakan bumiputera merumuskan sikap politik yang baru. Awal novel berkisah tentang Hidjo, seorang intelektual pribumi yang melanjutkan studi insinyur ke Belanda serta kisah tokoh lainnya yang terlibat kisah percintaan satu sama lain. Pengalaman Hidjo di Negeri Belanda telah membuka matanya. Ia melihat bahwa di negerinya sendiri bangsa Belanda ternyata tidak “setinggi” yang ia bayangkan. Hidjo menikmati sedikit hiburan murah ketika dia bisa memerintah orang-orang Belanda di hotel, restoran, atau di rumah tumpangan, yang mustahil dilakukan di Hindia.

“Hidjo dihormati betul oleh para pelayan hotel. Sebab mereka berpikir, kalau orang baru datang dari Tanah Hindia pasti banyak uangnya. Lebih-lebih kalau orang Jawa. Maka dari itu Hidjo tertawa daam hati melihat keadaan serupa itu. Karena ia ingat nasib bangsanya sama dihina oleh bangsa Belanda.”

Keberpihakan Mas Marco terhadap pergerakan kaum pribumi nampak terlihat dalam berbagai adegan dalam novel. Salah satunya, Ia memunculkan ramai dan meriahnya vergaadering Sarekat Islam di Solo sebagai latar cerita.

“Pada saat itu sudah ada beratus-ratus orang yang akan mengikuti vergadering. Semua itu adalah utusan dari semua cabang Sarekat Islam se-Jawa… Karena pengaruh Sarekat Islam, waktu itu tak ada lagi perbedaan manusia. Semua mengaku saudara. Baik oraang yang derajat tinggi maupun mereka yang derajat rendah.” (hal 105)

Keberpihakan itu juga nampak terlihat saat Ia memunculkan perdebatan antara Controleur Walter dan Sergeant Djepris. Djepris berargumen bahwa orang jawa adalah orang yang kotor, bodoh, dan malas. Walter mendebat argumen itu dengan sabar,

“Tuan berkata, orang jawa kotor, tetapi tuan toh mengerti juga bila ada orang Belanda yang lebih kotor daripada orang Jawa? Orang jawa bodoh, kata Tuan. Tentu saja, karena pemerintah memang sengaja membuat bodoh kepadanya. Mengapa Regeering tidak membuat sekolahan yang secukupnya untuk orang Jawa atau orang Hindia. Sedang semua orang tahu, jika tanah Hindia itu yang membuat kaya tanah kita, Nederland?” (hal 118)

Sindirannya pada golongan priyayi yang senantiasa bersikap kooperatif dengan pemerintah kolonial pun tak luput dari novel ini,

“Kalau dipikir, sebetulnya semua manusia itu sama saja. Saya seorang Regent (bupati), itu kalau dipikir mendalam, saya ini tidak ada bedanya dengan jongos atau tukang kebun Belanda. Jadi saya ini sebagaimana perkataan buruh umum.” (hal.112)

Pada zaman bangkitnya pergerakkan, pers dan tulisan menjadi senjata perlawanan guna menentang penjajahan. Bagaimana dengan kondisi pers hari ini? Apakah ia masih berfungsi sebagai corong pencerdasan, ataukah yang melanggengkan penjajahan?

Mas Marco dalam salah satu kumpulan sajaknya menulis: Jalan kemardika’an amat susah/Buat orang yang hatinya lemah/ Dan berjalan setengah-setengah/Tidak bisa dapat yang diarah/

Dalam syair tersebut, Mas Marco memberikan semangat pada pembaca untuk berani melakukan perjuangan demi kemerdekaan serta berani menghadapi bahaya. Meskipun, dalam beberapa nasehat yang ia sampaikan pun, ia tak menampik bahwa“Saya hanyalah berkata saja/ Tak tentu bisa melakukannya”

Satu tanggapan untuk “Belajar dari Pelajar Hidjo

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s