Kiri Islam, Antara Modernisme dan Posmodernisme: Sebuah Resensi


Judul Buku      : Kiri Islam, Antara Modernisme dan Posmodernisme

Judul Asli        : Between Modernity and Postmodernity The Islamic left and Dr. Hassan Hanafi’s Thought: A Critical Reading

Penulis : Kazuo Shimogaki

Penerjemah      : M. Imam Aziz & M. Jadul Maula

Penerbit           : LkiS Yogyakarta

Cetakan           : VII (Maret 2007)

Gagasan Kiri Islam pertama kali dicetuskan oleh Hassan Hanafi dengan berlandaskan pada pandangan bahwa sebaiknya Islam berfungsi orientatif bagi ideologi populistik yang ada, yang pada saat itu hampir sepenuhnya diwakili oleh berbagai bentuk sosialisme. Namun, sosialisme Islam sebagai paradigma baru itu nyatanya tak berlanjut terlalu jauh. Mesir, negara tempat ia bermukim ternyata memupuk teknokrasi-non ideologis sehingga menggusur popularitas sosialisme dalam segala bentuknya.

Minimnya perkembangan yang signifikan dari pemikiran kaum sosialis itu mendorong gagasan pembebasan dalam diri Hassan Hanafi untuk berbicara tentang paradigma baru berkaitan dengan universalisme ajaran Islam. Baginya, paradigma universalistik itu harus dimulai dari dialog konstruktif dengan peradaban Barat sebagai unit kajian ilmiah yang telah sekian lama melakukan penjajahan kultural ke negara-negara Islam. Pendekatan ini disebut dengan ‘Oksidentalisme’. Oksidentalisme bermaksud mengetahui peradaban Barat sebagai unit kajian ilmiah sehingga dapat dikaji secara objektif dengan segala kekuatan dan kelemahannya.

Kazuo Shimogaki, pemerhati Timur Tengah dari Institute of Middle East Studies International University Jepang, melakukan kritik yang cukup tajam terhadap gagasan Kiri Islam Hassan Hanafi melalui bukunya yang berjudul Between Modernity and Postmodernity The Islamic left and Dr. Hassan Hanafi’s Thought: A Critical Reading, yang kemudian diterjemahkan menjadi Kiri Islam, Antara Modernisme dan Posmodernisme.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama merupakan kajian kritis Kiri Islam yang ditulis oleh Kazuo Shimogaki berdasar kerangka metodologis Islam dan posmodernisme, relevansi metodologi Hassan Hanafi, dan kritik tajam Kazuo terhadap gagasan Kiri Islam Hassan Hanafi. Sementara, bagian kedua buku ini berisi ringkasan dari jurnal Kiri Islam yang hanya sempat terbit sekali pada Januari 1981 di Kairo, Mesir.

Hassan Hanafi mengklaim bahwa jurnal Kiri Islam merupakan kelanjutan Al-urwah al-Wutsqa dan Al Manar bila dilihat dari keterikatannya dengan Jamaludin Al Afghani, yaitu bertujuan untuk melawan kolonialisme dan menyerukan keadilan sosial. Meskipun demikian, ia pun menyadari bahwa penamaan itu sendiri akan menimbulkan banyak kontroversi. Salah satunya adalah karena sejatinya tidak adanya konsep Kiri dan Kanan dalam Islam. Hassan Hanafi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Kiri bukanlah pada tataran akidah, akan tetapi realitas masyarakat yang berada dalam suatu sistem sosial tertentu. Dari aras itulah Hassan Hanafi merumuskan konsep Kiri dan Kanan. Pada titik ini, Kiri Islam menempatkan dirinya pada posisi orang-orang tertindas dan tak berpunya, sekaligus konotasi dari perlawanan terhadap segala bentuk kolonialisme yang bagi Hassan Hanafi merupakan kejahatan terbesar dalam sejarah umat manusia.

Penamaan dikotomis ini tak pelak mendapat kritik tajam dari Kazuo. Misalnya, Islam versus Barat, diri sendiri (self) versus yang lain (the others), keterbelakangan versus kemajuan, kiri versus kanan. Bagi Kazuo, konfrontasi penamaan dikotomis yang dilakukan Hassan Hanafi sama saja dengan pembagian subjektivitas dan objektivitas, yang merupakan ciri khas dari modernisme. Tak heran, pada akhirnya ia memunculkan oksidentalisme yang secara konfrontatif merupakan tanggapan atas orientalisme. Kazuo menilai, dengan menempatkan Barat sebagai posisi yang berlawanan dengan Islam, Hassan Hanafi masih terjebak dalam trauma atas realitas dunia Islam sendiri.

Sekalipun Hassan Hanafi mengatakan bahwa Kiri Islam tidak terpengaruh oleh Barat, akan tetapi nyata terlihat bahwa ilmu sosial baru yang ia tawarkan merupakan reaksi atas penetrasi kekuasaan Barat. Lebih lanjut, ia berargumen bahwa Revolusi Tauhid yang digelorakan oleh Hassan Hanafi sebaiknya berpijak pada metode relasional dalam kerangka posmodernitas sebagaimana yang dikemukakan oleh Bateson dan Foucault.

Pada akhirnya, kritik yang dilancarkan Kazuo Shimogaki atas orientasi ke-kiri-an yang dikembangkan oleh Hassan Hanafi yang menjadi kandungan buku ini merupakan kajian menarik dan salah satu titik penting dalam mengkaji pemikiran Hassan Hanafi. Buku ini layak dibaca bagi mereka yang ingin mereguk sepuasnya air dari sumber universalisme berintikan semangat pembebasan kaum muslimin dari segala bentuk ketertindasan. Demikian.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s