Catatan Obrolan Jum’at Siang, Biar tak Lupa


Jum’at lalu, untuk kali pertama saya berjumpa dengan adik-adik yang ‘dititipkan’ untuk belajar bersama saya dalam satu kelompok mentoring. Belajar bersama yang saya maksudkan bukan semata dalam arti memberi-menerima, tapi belajar bersama sebagaimana adanya. Yakni, melalui proses belajar secara bersama-sama melalui pola pembelajaran andragogi layaknya sesama manusia dewasa.

Seperti lazimnya pertemuan perdana, kami mengawalinya dengan berkenalan satu sama lain. Tentang nama, asal fakultas, jurusan, program studi, tahun angkatan, serta beberapa hal umum lain yang memang berharga untuk diketahui, seperti hal yang disenangi, hal yang tak disenangi. Serupa itu kira-kira.

Perbincangan awal berlangsung hangat, kami saling bertukar pengalaman selama menjalani masa studi di kampus. Tentang bagaimana tradisi ilmiah di kampus yang bukan semata dimaknai lewat menjamurnya Karya Tulis Ilimah dan lain-lainnya. Lebih substantif kami mencoba bicara tentang proses pembelajaran yang idealnya dilakukan oleh seorang mahasiswa (yang katanya termasuk golongan intelektual).

Sebetulnya, kawan saya telah memberikan saya kurikulum yang baku. Dia meminta saya untuk menyampaikan materi bertema “Siapakah Aku?” di pertemuan perdana. Tetapi, obrolan kami telah melebar hingga perkara kaum intelektual ini. Baiknya, saya teruskan obrolan kami. Maka, saya pun sampaikan beberapa definisi intelektual menurut beberapa cendekiawan. Bicara soal definisi lagi, Al? Mm, bagaiamana ya..

Apa yang saya tulis berikut berdasar hasil diskusi bersama mereka dengan beberapa  perubahan redaksional dan penambahan di beberapa bagian agar lebih bermanfaat. Semoga.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Intelektual secara bahasa  berarti cendekiawan atau orang yang cerdas, berakal, dan berfikiran jenih berdasarkan ilmu pengetahuan, memiliki daya akal budi serta totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman.

Menurut Lafran Pane (pendiri Himpunan Mahasiswa Islam), intelektual dapat dikenali dengan tiga cirinya yaitu : Pertama, tidak ada rasa takut dalam menyuarakan kebenaran, Kedua, tidak ditunggangi kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok, partai, dan lain-lain. Ketiga, ia adalah agen perubahan, bukan yang dirubah oleh lingkungannya.

Edward Said, dalam bukunya yang berjudul Peran Intelektual menyampaikan bahwa seorang intelektual adalah ia yang mengatakan yang benar kepada yang berkuasa. Karenanya, ia lebih cenderung untuk bertindak sebagai oposisi daripada mengakomodasi. Persoalan mendasar yang ia kemukakan adalah, “Bagaimana orang mengatakan kebenaran? Kebenaran apa? Bagi siapa dan dimana?” Barangkali, karena inilah dia mendaku dirinya sebagai seorang sekularis. Sebab, ia hanya memiliki keinginan untuk membela keadilan atas dasar kemanusiaan tanpa pengaruh budaya, agama, ras, maupun golongan.

Dalam mengkonsepsikan sosok ideal seorang intelektual, Said berangkat dari batasan yang selama ini umum diterima, yakni dari Julien Benda dan Antonio Gramsci. Benda menggambarkan intelektual dalam sosok yang ideal. Mereka adalah para filsuf yang membangun kesadaran umat manusia. Mereka teguh dengan prinsip yang dianutnya, sebab yang mereka perjuangkan adalah kebenaran dan keadilan sejati. Karenanya, ia mengutuk para intelektual yang memanfaatkan otoritas moralnya untuk mendukung kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan kehendak rakyat. Ia menyebut tindakan para intelektual yang melacurkan diri pada kuasa ini sebagai pengkhianatan intelektual. Seharusnya, menurut Benda, intelektual adalah orang yang fasih dan berani bicara tentang kebenaran di hadapan penguasa tanpa tedeng aling-aling, dan tentunya tanpa kompromi.

Sementara itu, Gramsci mengatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia adalah intelektual, tapi tidak semua orang dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual. Gramsci mengelompokkannya dalam dua jenis, yakni intelektual tradisional (seperti guru dan ulama), serta intelektual organik (merupakan kalangan profesional) yang merupakan kelompok penting dalam sistem masyarakat modern. Intelektual organik bagi Gramsci adalah mereka yang memiliki peran publik tertentu dalam masyarakat sesuai dengan profesionalitasnya. Mereka mampu mengartikulasikan pesan pada publik dan tidak mudah dikooptasi oleh kepentingan penguasa.

Sementara, dengan nilai dan keyakinan yang saya yakini sebagai paradigma, saya lebih cenderung untuk menggunakan term intelektual profetik untuk menggambarkan bagaimanakah seharusnya term intelektual dirumuskan. Kata profetik berasal dari bahasa Inggris ‘prophet’, yang berarti nabi. Menurut Oxford Dictionary prophetic’ adalah (1) “Of, pertaining or proper to a prophet or prophecy”; “having the character or function of a prophet”; (2) “Characterized by, containing, or of the nature of prophecy; predictive”. Jadi, makna profetik adalah mempunyai sifat atau ciri seperti nabi, atau bersifat prediktif, memrakirakan. Profetik di sini dapat kita terjemahkan menjadi ‘kenabian’.

Kuntowijoyo menerangkan bahwa aktivitas keilmuan juga merupakan aktivitas kemanusiaan, sehingga ia dituntut memiliki etos kerja kemanusiaan yang meliputi: kejujuran, ketelitian, kekritisan, dan penghargaan. Implikasi dari adanya pertemuan nalar akal dan nalar wahyu ini adalah penggunaan kompilasi wahyu (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah (Al-Hadist) sebagai salah satu sumber untuk merumuskan hipotesa-hipotesa untuk diteliti lebih lanjut dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai bentuk perjuangan, perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik.

Pada akhirnya, dari berbagai pandangan tentang ‘intelektual’ sebagaimana yang telah kami bahas, saya harap mampu menggugah kami semua untuk semakin berani mengaktualisasikan gagasan berdasar kebenaran yang diyakini masing-masing personal tanpa ragu, meskipun bukanlah merupakan arus utama. Sebab, masih menurut Said, tak ada yang lebih patut dicela daripada kebiasaan dalam benak intelektual yang menghindar untuk menentukan sikap demi mempertahankan reputasi sebagai sosok yang seimbang dan moderat padahal ia telah mengetahui kebenaran itu. Kebiasaan ini adalah bentuk korupsi tertinggi seorang intelektual!

Kebenaran hanya milik Alloh, maka Ya Alloh, tunjukilah kami jalan yang lurus.

Demikian.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s